Tag Archives: renung

jelang purnama sya’ban

aku melihatmu saban hari, termenung di antara kerikil kecil dan aliran sungai bening. Kau tau? kukira kau baik – baik saja. sampai kudengar isak kecilmu berpadu dengan riak kecil setelah benturan kerikil.
Ada apa lagi?

ada apa denganmu teman? kenapa akhir – akhir ini rupamu menganeh?
tapi kau diam saja. tak menganggap ku ada.
jeda beberapa saat, saat helai dedaunan mulai jatuh mengikuti aliran sungai, kau pun buka suara.

“aku ragu mengetuk Ramadhan kali ini. meski kusadar alamat nafasku tak tentu sampai ke gerbangnya, tapi..” kau menghela nafas, panjang dan berat. terbaca jelas kau simpan beban berton beratnya.

“memaafkan itu memang bisa kulakukan. Tak terlalu sulit. Tapi melupakan sakit yang menjalar itu, sukar rasanya. aku sudah mencoba, dan jika memori tentang itu kembali muncul, jujur saja, rasanya aku malu pada Tuhanku, aku malu karena aku selalu meminta ampun, tapi nyatanya maafku untuk mereka sepertinya tak ikhlas lahir, hanya sekedar mengiyakan agar mereka tenang. aku kejam!”

“sya’ban sudah hampir purnama, kenapa kau masih kelu lahirkan potongan maaf?” tanyaku pelan

“aku tau..aku tau… aku memang jahat…menjauh saja dariku… aku ingin bermunajat sendirian, aku ingin memohon ampun atas benci yang masih menjalar atas pongah mereka, atas penghakiman mereka beberapa purnama lalu…”

” kau punya hak membalas…”ujarku ” al-quran mengajarkan demikian, tapi memaafkan akan lebih baik adanya”…”lagipula mereka masih kurang ilmu, tak tau bagaimana bersikap sesuai Al-Quran, anggap saja mereka awam…”

“aku sudah mencoba. tapi maaf itu hanya sekedar maaf. memoriku masih merekam dengan erat. sakit itu ternyata sudah meracuni segala gerakku, aku takut Tuhan mengambilku pulang sebelum sakit itu benar – benar kulupakan, aku takut alamat kematianku tak jelas rupa kiri ataupun kanan. aku takut.” kau memandangku tajam, mencoba menutupi gerimismu, “ah, kau….pergilah sejauhnya dariku, aku tak ingin kau tercemar sepertiku, tak ingin kau merasa sakit yang sama”

dan sya’ban nyata sudah merangkak menuju bilangan paruh, lalu -dengan izin-Nya- akan memasuki Bulan maghfirah
kau masih merenung di tempat yang sama, kudengar sesekali kau berteriak kencang..

“Ya Allah, ampuni hamba yang belum bisa melupakan kezhaliman mereka, hamba tidak mau menyiksa diri dengan memori kelam itu, hamba tak ingin maaf itu belum muncul, setulusnya, masih menggantung di langit, atau masih tertanam di tanah…Allah..Allah..Alla

h… bantu hamba melupakan kezhaliman mereka..bantu hamba…..”

meureubo harvard, 24 juli 2010
kawan, aku pergi dalam waktu yang lama, jangan cari aku di sini…..kita bincangkan saja lebih lebar di ruang yang berbeda..
Ada Allah di setiap Gerakmu..

dan kita sama menanti Ramadhan… sama menanti…