Tag Archives: novel cadangan

potongan novel (dalam rencana) catatan lama

Don’t be panik..yaaa…ini catatan lamaaaa banget, bulan satu duluuu. rencananya memang mau di jadiin novel , tapi ga sabar nyiapinnya, so waktu itu langsung dipost di multiply saya… n biar blog ini ga kosong, ya untuk sementara silakan baca dulu ya…
*merasa bersalah juga, gara – gara ga posting – posting* tapi demi agenda akhir tahun yang harus segera dikelarkan, mau ga mau harus mengurangi ruang gerak disini, POKOKNYA TAHUN INI HARUS SIDANG!!!!!
mohon do’anya yaaaaa….
*kepala makin pusing*
——

pagi masih sisipkan rindu
juntaikan klise lama dalam sepotong kelu
dan langitpun tak lupa tawarkan sendu
:berbait – bait rindu

senja, entah berapa kali kukirimkan abjad istimewa oleh – oleh kampus kita dan tak ada satupun respon darimu. kuanggap kau masih terlalu sibuk untuk sekedar mengklik alamat emailmu sendiri.

senja, hilir mudik debu yang terikat angin masih bersisa dikampus kita, masih sama lintasi trotoar kecil diposisi parkiran depan. dan kemarin dua sosok perdana duduk lagi disana, hiasi penantian petinggi kampus dengan kudapan – kudapan ringan.
Dan akupun yang turun dari lantai dua dapati mereka sudah kembali erat seperti dulu, ya , senja mereka sudah kembali, tembok penghalang persahabatan itu sudah luluh lantak dalam proses yang sering kuras airmata tomodachiku yang lain.

senja, kuikuti iseng mereka, duduk di pinggir trotoar yang memang tak lumrah dijadikan pilihan, banyak tempat duduk terserak di atas koridor dan memilih disini adalah hal yang aneh, tak heran wajah senior dan junior agak sedikit berkerut melihat tingkah kami, berempat, ditambah partnerku.

sesekali motor dipaksa berhenti sekedar lemparkan lelucon. –kenapa memilih profesi baru ini, mengemis ditrotoar–. hei, hei tuan, kami di sini sedang menunggu sesosok manusia, bukan melakonkan profesi apapun.

permadani batuan kecilpun masih hiasi tatap masa lalu kami, yah kenang beberapa episode bahagia, dan juga kisahkan jejakmu senja, ya, baru kusadar ternyata rindu itu masih tersimpan erat di bilik rindu masing – masing, dan sungguh takkan luput meski tak lagi semilir hiasi teknik ini, sekalipun topan hempaskan semuanya.

senja, sebatang tanaman serupa bambu, bahan penelitian dua sosok awal itu jadi bahasan utama kami, bagaimana dia bisa menyerap COD dan BOD, yah lagi – lagi kami menjadi pengamat lingkungan, sampai – sampai harus berguru kepada alam untuk lenyapkan beberapa pengancam hidup manusia.

senja, kau benar, kita memang terlalu sombong sebagai manusia, tak terhitung kalinya alam kita rusak, kita abaikan, dan enggan melakonkan pola hidup kembali kealam,. kembali kealam bukan berarti kita harus hidup layaknya manusia purba-sering kau singgung dalam bincang ringan kita-namun belajar lebih mengoptimalkan alam, banyak hal dari alam ini yang bisa kita jadikan panduan, banyak sekali, bukankah ini juga “membaca”.?

ya, senja, kau benar, membaca tak hanya lewat abjad. tak hanya sederet huruf yang sudah dicetak dilembar – lembar yang juga berasal dari alam. berapa banyak ya pohon yang sudah ditebang untuk produksi kertas?? sampai sicumlaude dileting kita batalkan rancangan pabrik kertasnya, karena setia memancang icon GO GReen.. aku suka ini!!

senja, kau ingat sahabat kita yang dilamar melalui dunia maya?kelewatan kalau kau lupa, kita sering bahas ini dilaboratorium OTK sembari tatap tangki distilasi raksasa yang tak pernah lagi dinyalakan karena sedot seluruh arus di kampus ini, dan kampuspun mendadak menjadi kota mati.
aku masih ingat menemaninya keliling bersama seorang calon iparnya, ya, kutangkap seolah rencana masa depannya tak mungkin terhalangi apapun, dan ternyata aku salah senja. Garis hidup mengantarkannya kejalan berbeda, tak sekalipun pertemuan dengan si calon digelar, meski sahabat kita sudah kenal erat dengan sosok familinya dan ternyata hadiahkan ragu membumbung, lalu palupun diketuk.

ya, dunia kerja sang calon mengakibatkannya lalai tepati janji, tak ada lamaran ataupun ta’aruf digelar, semua mimpi tertebas begitu saja. senja , akupun resapi perih yang sama, sungguh tak tega, padahal seluruh personil sudah mengelu – elu hadir pembuka gerbang itu, ya, kukira akan ada gerbang baru beberapa purnama lagi.

ya, senja, aku masih ingat pesanmu, hati – hati dengan dunia maya, jika memang masih ada sosok nyata yang hadirkan janji lebih baik, kenapa harus terlena dengan sebuah icon kemayaan, dan senja, nasi benar – benar sudah membubur. beberapa sosok nyata tawarkan ikatan, dan ternyata semua tertolak hanya karena sosok maya yang begitu lampaui keistimewaan.

senja, aku geram dengan para penipu itu, benar – benar keterlaluan, dan akupun geram dengan dia kenapa harus terbuai. semoga saja tak lagi lingkupi hal yang sama, pun untukku dan kau.

senja, potret duka itu lenyap perlahan.cengkram rindu kami untukmu di sana. ya, kami seolah lupa dengan bait- bait merdumu, saran sayangmu. ah senja, andai tak selambat ini hati mereka terketuk.

haru kembali menyeruak penuhi ruang rinduku untukmu

senja, aku dan mereka sama rindukan hadirmu. setoran indah juz demi juz. senja, kau dimana, tak kau baca bulir rindu kami?
oh ya senja, kabar manusia oman kita belum jua kutemukan, berulangkali kulirik taman kita, dan ternyata bunga – bunga itu belum kembali. ya, perih memang. setahun tak lagi ada mekar dan harum di taman kita dan kulirik taman lain yang nyaris serupa. sia – sia senja, tak sekuntum mawar atau melati kutemui, yang ada hanya perih bungakan hatiku dalam rindu berpasak memori.

senja, kita tak perlu tangisi inikan? ya, sungguh tak usah, merekapun kirimkan rindu , hantarkan tepat di meureubo. semua terbaca dalam bait – bait mereka, bait rindu yang sama. ah, senja tak perlu kita pungkiri indahnya tautan hati , terikat semua dalam rabithah. ya, semua kuat dalam rabithah, senja , aku rindu mereka, rindu kau juga.

dan hari ini beberapa sosok coba gantikan posisi manusia oman, aku tak yakin mereka mampu, tapi sudah lah ikat semua dalam rabithahkan?? biarkan tasbih burung kecil itu do’akan pula kutemukan sosok serupa kalian.

senja, aku benar rindu juz – juz mu. ya, mereka juga senja, sama rindukan, meski tak satupun tatap terjalin
senja, cukuplah Dia yang menilai semuanya, akan kutunggu bahagia itu lingkari kita lagi, entah di bumi mana, entah mungkin kelak di taman terindah itu..

senja, semoga kau baik – baik saja, aku kehilanganmu…

😦

langit meureubo masih kirimkan rindu, arak awan jauhi biru, namun rindu tak cukup dalam abjad

—-

postingan semula maaf kalo ga menarik..

sampai jumpa lagi…do’akan saya sidang Tahun ini,:D

Don’t be panik..yaaa…ini catatan lamaaaa banget, bulan satu duluuu. rencananya memang mau di jadiin novel , tapi ga sabar nyiapinnya, so waktu itu langsung dipost di multiply saya… n biar blog ini ga kosong, ya untuk sementara silakan baca dulu ya…
*merasa bersalah juga, gara – gara ga posting – posting* tapi demi agenda akhir tahun yang harus segera dikelarkan, mau ga mau harus mengurangi ruang gerak disini, POKOKNYA TAHUN INI HARUS SIDANG!!!!!
mohon do’anya yaaaaa….
*kepala makin pusing*
——

pagi masih sisipkan rindu
juntaikan klise lama dalam sepotong kelu
dan langitpun tak lupa tawarkan sendu
:berbait – bait rindu

senja, entah berapa kali kukirimkan abjad istimewa oleh – oleh kampus kita dan tak ada satupun respon darimu. kuanggap kau masih terlalu sibuk untuk sekedar mengklik alamat emailmu sendiri.

senja, hilir mudik debu yang terikat angin masih bersisa dikampus kita, masih sama lintasi trotoar kecil diposisi parkiran depan. dan kemarin dua sosok perdana duduk lagi disana, hiasi penantian petinggi kampus dengan kudapan – kudapan ringan.
Dan akupun yang turun dari lantai dua dapati mereka sudah kembali erat seperti dulu, ya , senja mereka sudah kembali, tembok penghalang persahabatan itu sudah luluh lantak dalam proses yang sering kuras airmata tomodachiku yang lain.

senja, kuikuti iseng mereka, duduk di pinggir trotoar yang memang tak lumrah dijadikan pilihan, banyak tempat duduk terserak di atas koridor dan memilih disini adalah hal yang aneh, tak heran wajah senior dan junior agak sedikit berkerut melihat tingkah kami, berempat, ditambah partnerku.

sesekali motor dipaksa berhenti sekedar lemparkan lelucon. –kenapa memilih profesi baru ini, mengemis ditrotoar–. hei, hei tuan, kami di sini sedang menunggu sesosok manusia, bukan melakonkan profesi apapun.

permadani batuan kecilpun masih hiasi tatap masa lalu kami, yah kenang beberapa episode bahagia, dan juga kisahkan jejakmu senja, ya, baru kusadar ternyata rindu itu masih tersimpan erat di bilik rindu masing – masing, dan sungguh takkan luput meski tak lagi semilir hiasi teknik ini, sekalipun topan hempaskan semuanya.

senja, sebatang tanaman serupa bambu, bahan penelitian dua sosok awal itu jadi bahasan utama kami, bagaimana dia bisa menyerap COD dan BOD, yah lagi – lagi kami menjadi pengamat lingkungan, sampai – sampai harus berguru kepada alam untuk lenyapkan beberapa pengancam hidup manusia.

senja, kau benar, kita memang terlalu sombong sebagai manusia, tak terhitung kalinya alam kita rusak, kita abaikan, dan enggan melakonkan pola hidup kembali kealam,. kembali kealam bukan berarti kita harus hidup layaknya manusia purba-sering kau singgung dalam bincang ringan kita-namun belajar lebih mengoptimalkan alam, banyak hal dari alam ini yang bisa kita jadikan panduan, banyak sekali, bukankah ini juga “membaca”.?

ya, senja, kau benar, membaca tak hanya lewat abjad. tak hanya sederet huruf yang sudah dicetak dilembar – lembar yang juga berasal dari alam. berapa banyak ya pohon yang sudah ditebang untuk produksi kertas?? sampai sicumlaude dileting kita batalkan rancangan pabrik kertasnya, karena setia memancang icon GO GReen.. aku suka ini!!

senja, kau ingat sahabat kita yang dilamar melalui dunia maya?kelewatan kalau kau lupa, kita sering bahas ini dilaboratorium OTK sembari tatap tangki distilasi raksasa yang tak pernah lagi dinyalakan karena sedot seluruh arus di kampus ini, dan kampuspun mendadak menjadi kota mati.
aku masih ingat menemaninya keliling bersama seorang calon iparnya, ya, kutangkap seolah rencana masa depannya tak mungkin terhalangi apapun, dan ternyata aku salah senja. Garis hidup mengantarkannya kejalan berbeda, tak sekalipun pertemuan dengan si calon digelar, meski sahabat kita sudah kenal erat dengan sosok familinya dan ternyata hadiahkan ragu membumbung, lalu palupun diketuk.

ya, dunia kerja sang calon mengakibatkannya lalai tepati janji, tak ada lamaran ataupun ta’aruf digelar, semua mimpi tertebas begitu saja. senja , akupun resapi perih yang sama, sungguh tak tega, padahal seluruh personil sudah mengelu – elu hadir pembuka gerbang itu, ya, kukira akan ada gerbang baru beberapa purnama lagi.

ya, senja, aku masih ingat pesanmu, hati – hati dengan dunia maya, jika memang masih ada sosok nyata yang hadirkan janji lebih baik, kenapa harus terlena dengan sebuah icon kemayaan, dan senja, nasi benar – benar sudah membubur. beberapa sosok nyata tawarkan ikatan, dan ternyata semua tertolak hanya karena sosok maya yang begitu lampaui keistimewaan.

senja, aku geram dengan para penipu itu, benar – benar keterlaluan, dan akupun geram dengan dia kenapa harus terbuai. semoga saja tak lagi lingkupi hal yang sama, pun untukku dan kau.

senja, potret duka itu lenyap perlahan.cengkram rindu kami untukmu di sana. ya, kami seolah lupa dengan bait- bait merdumu, saran sayangmu. ah senja, andai tak selambat ini hati mereka terketuk.

haru kembali menyeruak penuhi ruang rinduku untukmu

senja, aku dan mereka sama rindukan hadirmu. setoran indah juz demi juz. senja, kau dimana, tak kau baca bulir rindu kami?
oh ya senja, kabar manusia oman kita belum jua kutemukan, berulangkali kulirik taman kita, dan ternyata bunga – bunga itu belum kembali. ya, perih memang. setahun tak lagi ada mekar dan harum di taman kita dan kulirik taman lain yang nyaris serupa. sia – sia senja, tak sekuntum mawar atau melati kutemui, yang ada hanya perih bungakan hatiku dalam rindu berpasak memori.

senja, kita tak perlu tangisi inikan? ya, sungguh tak usah, merekapun kirimkan rindu , hantarkan tepat di meureubo. semua terbaca dalam bait – bait mereka, bait rindu yang sama. ah, senja tak perlu kita pungkiri indahnya tautan hati , terikat semua dalam rabithah. ya, semua kuat dalam rabithah, senja , aku rindu mereka, rindu kau juga.

dan hari ini beberapa sosok coba gantikan posisi manusia oman, aku tak yakin mereka mampu, tapi sudah lah ikat semua dalam rabithahkan?? biarkan tasbih burung kecil itu do’akan pula kutemukan sosok serupa kalian.

senja, aku benar rindu juz – juz mu. ya, mereka juga senja, sama rindukan, meski tak satupun tatap terjalin
senja, cukuplah Dia yang menilai semuanya, akan kutunggu bahagia itu lingkari kita lagi, entah di bumi mana, entah mungkin kelak di taman terindah itu..

senja, semoga kau baik – baik saja, aku kehilanganmu…

😦

langit meureubo masih kirimkan rindu, arak awan jauhi biru, namun rindu tak cukup dalam abjad

—-

maaf kalo ga menarik..

sampai jumpa lagi…do’akan saya sidang Tahun ini,:D