Tag Archives: langsa

Catatan liburan lebaran

Lebaran tahun ini benar-benar lebaran yang berbeda. Sungguh berbeda. Dan jika benar, ini adalah lebaran terakhirku, maka aku merasa makna fitri itu benar-benar menyebar, menyeluruh, meliputi seluruh sendi, dan aku benar-benar merasa berdetak. Benar-benar berdenyut. 

kisah ini dimulai dari lebaran pertama. ada yang berbeda dengan lebaran kali ini. kerut-kerut wajah nenek tak lagi ada. Ia sudah pulang ke Rahmatullah beberapa bulan yang lalu. Rumah nenek benar-benar sepi. Tak ada jamuan besar seperti biasanya. Paman dan mak cik yang rumahnya jauh pun tak kelihatan batang hidungnya. ada kehampaan di sana, apalagi saat aku melihat gelaran tikar yang sudah berbeda warnanya, juga kue-kue lebaran yang juga tak sama dengan saat keberadaan nenek masih di rumah tersebut. Penghuninya sekarang hanya mak cik yang paling muda, jadi paman dan mak cik lainnya tidak berkumpul di sini. Kami kehilangan markas besar. Baca lebih lanjut

Iklan

Selamat jalan, Allah memilihmu pulang

Pantas aja  akhir – akhir ini perasaanku sering membawa ruang fikir menjelajah hingga kampung halaman. Ruang demi ruang tersapa dalam mimpi, berulangkali adanya. Lalu puncak rindu itupun gugur tepat saat kebingungan dan kesibukan menghiasi hari – hari terakhir ini.

Dari sisi jendela kaca ini, aku hanya diam, diam , dan diam,belum mampu meneruskan kegiatan lazim yang kukerjakan, berdialog dengan rancangan pabrik. Aku masih diam menata perasaanku agar tak terlalu larut dalam duka, karena tangisanku saat ini sudah tidak ada artinya lagi, jadi cukup beberapa tetes dalam sujud sebagai pelepas rasa agar tak sesak nafasku.

Aku benar – benar terlambat pulang. Senja ini benar – benar kelabu. Mimpi yang menghentakkanku di malam penghujung minggu ternyata benar – benar beralasan. Sesosok manusia , sesosok wajah yang sangat kukenal menghampiriku, menangis mencoba merangkulku dan akupun sama. Sama – sama hendak menggenggam, sama – sama pula jemari seolah terlepas sebelum rangkulan hangat menghiasi tangisan kami. Saat itu aku masih mengulas , mencermati dan mengingat – ngingat dengan baik, sosok tersebut wajahnya sangat tidak asing, tapi bukan ibuku, bukan pula kakakku, lalu mengapa dia ada di dalam rumah kami. Meminta dido’akan. ya aku ingat menguatkan sosok yang tak kutau siapa saat itu, menguatkan dengan beberapa potong kalimat. Baca lebih lanjut

Aku masih ditikam rindu

mendadak aku sungguh limbung

rancangan pabrik kertasnya menggulung

melingkar disepetak ruang

dan akupun larut dalam dendang ilalang

: aku masih menanti senja


salahkah aku menaruh rindu

pada jiwa yang terlanjur beku

:aku ingin pulang saja


sesiang ini tak kutemukan pula lirik rindumu

tertoreh diatas debu – debu

: kuharap ianya dihalau angin, bukan karena alpamu


kucoba genggam alamat bahagia yang tersisa beberapa abjad

kubaca kuyu

tak lindap rindu didirimu


duhai tanah lahirku

:aku ingin pulang saja

disini aku terlalu kejam

tak bernurani

dan akupun mati sendiri


duhai , alamat apa ini

kusimpulkan aku ingin kembali..


banda Aceh, 26 feb 2010

saat rindu kota lahirku kian menghantam

post disegala alamat

mengenang 12 tahun lalu, saat sang pahlawan pulang

sejumlah penat benar – benar hadir hari ini, lha ini kan week end sist? ya, mau bagaimana lagi, bayangan rancangan pabrik masih setia hadirkan potongan tanya, kapan pulang, kapan pulang, kapan pulang? 😀

hari ini tepat 12 tahun kepergian seorang pemimpin keluarga, tepat 12 tahun lahir para yatim disebuah rumah  dikota kelahiran saya : kota langsa, dengan bungsu yang kala itu masih berseragam putih merah. sibungsu yang mencoba menjadi sosok paling tegar, bahkan saat gedoran pintu dikisaran pukul 3 dini hari, hanya beberapa tetes air mata yang terjuntai, ya, hanya beberapa saja.

entahlah sudah berapa lama airmata itu sisip ditabungan kelopak, hingga hari ini ternyata sebuah kesadaran lahir, beberapa tetes lama itu hanya kepuraan, : sembunyikan duka lalu pancarkan tegar, agar tak perlu pula seluruh kerabat usap air mata sibungsu. cukuplah duka sama kita rasa.

mozaik senja dan petang selalu menjadi milik berdua bersama sang ayah. kota langsa yang seberapa lebar terjelajahi bersama, kerap dengan sepeda ataupun sepeda motor. namun lebih dominan sepeda yang dikayuh perlahan oleh sang ayah demi menjaga agar anaknya tidak celaka.

ruko demi ruko dijelajahi, pajak pisang dideretan Ampera menjadi salah satu lokasi ramah, lalu beberapa ruko ditoko depan, jejeran toko buku dan mainan. sesekali sibungsu merengek minta dibelikan mainan, ya, meski hanya sejumlah hitungan jari. tak masalah tak ada buah tangan apa – apa, asalkan senja bisa tercipta dalam senyum bahagia.

ya, asal bahagia sibungsu tak dicegat kakak lainnya, tak ingin fotokopi sang ayah ini kehilangan kebersamaan bersama sang raja, sang pahlawan.

beberapa hitungan angka bulan, sang ayah mengunjungi sekolah mengajak keliling lagi dengan sepeda, menuju dokter gigi, tak lelah dirasa, padahal jarak terlampau jauh, tapi tak soal apapun baginya, demi sibungsu.

saat vespa masih menjadi harta titipan, saban minggu kuala langsa menjadi tujuan, tak lupa sekalipun, meski lelah oleh oleh lembur sekalipun. dan mata sibungsu semakin terpana dengan bakau yang memukau, hijau disepanjang jalan , bayangan pinus atau cemara yang sulit dibedakan sibungsu hadirkan juntaian melodi kecil, tebas angin yang menampar muka, dan jalan kian riang tecipta.

dan 12 tahun yang lalu sepetak tanah dikawasan blang paseh, kuburan keluarga yang berada tepat dibawah jembatan kecil, berdampingan dengan gudang barang yang acap digunakan untuk lahan qurban pada idul qurban, menerima penghuni baru dengan senang hati, tak riuh, tak usil. dan sibungsu yang ditarik sang paman akhirnya menyaksikan sendiri dengan mata kepala bagaimana sang pahlawan pulang kembali kepada Sang Pemilik. yah, kita sama dititipkan satu sama lain.

satu sesal yang masih hantui sibungsu, tak ada kecupan dikening sore sebelum jengukan terakhir dirumah sakit kota langsa, saat rekan sekamar inap, mengganggu sibungsu dengan ledekan kecil yang tak bermakna apa -apa, sayang sibungsu terlalau pemalu, hingga semua hanya terbungkus dalam kenangan, kecupan terakhir hadir saat jasad sang pahawan terbungkus kafan..

pelayat banjiri rumah sederhana berhalaman kecil di kp. meutia kala itu,  pun saat tahlilan semua sama banjiri halaman, tak hanya rombongan warga kp.meutia, beberapa rombongan jauh, dari sigli, simpang tiga, sampai beberapa dari desa yang sibungsu tak hapal namanya.

juga para rekan SD muhammadiyah yang berhambur menuju mesjid saat menangkap bayangan sibungsu  disana kala jenazah dishalatkan. berpetak – petak kekuatan disodorkan, yah, sibungsu mampu sembunyikan duka, hanya beberapa tetes saja meluncur.

dan kini, sibungsu mungkin tak sehebat sang ayah yang kian hari kian lapang kuburnya, kian memanjang hingga hadirkan takjub sahabat karib, pun sibungsu juga begitu.

lalu hantaman hadir satu demi satu, semua pengikut lenyap , hilang entah kerimba mana, dan sisalah para yatim yang tak jelas arah, hanya berbekal beberapa petuah agar tetap sabar dipasang. meski lahan dijajah, dan dikirimi sampah, namun sabar hadirkan sang penegak, muncul satu satu dari samudra yang tak bisa diberi nama, lalu kicaunya lenyapkan semua pengganggu.

duhai ayah, maafkan anakmu

tak mampu sering ziarahi kuburmu

hanya do’a terlantun dari jauh posisi

terlantun berikat pilu

tegar..tegar.tegar..jagan hadirkan tangis saat kepergian hadir didepan mata, yah, itu pesan terakhirmu untuk beberapa kepala penghuni rumah sederhana dikampung meutia itu, rumah yang selalu hadirkan rindu, rindu bersuamu

dan ternyata tegar yang kupasang 12 tahun lalu, palsu, gugur semua setelah 12 tahu, tak hanya bulir, namun liter terhitung bening hadir.

21 februari 2010, Banda Aceh

berharap lekas sapa langsa, ketuk pintu kp.meutia dan gegas pula lewati pagar kawat kuburan keluarga