jelang purnama sya’ban

aku melihatmu saban hari, termenung di antara kerikil kecil dan aliran sungai bening. Kau tau? kukira kau baik – baik saja. sampai kudengar isak kecilmu berpadu dengan riak kecil setelah benturan kerikil.
Ada apa lagi?

ada apa denganmu teman? kenapa akhir – akhir ini rupamu menganeh?
tapi kau diam saja. tak menganggap ku ada.
jeda beberapa saat, saat helai dedaunan mulai jatuh mengikuti aliran sungai, kau pun buka suara.

“aku ragu mengetuk Ramadhan kali ini. meski kusadar alamat nafasku tak tentu sampai ke gerbangnya, tapi..” kau menghela nafas, panjang dan berat. terbaca jelas kau simpan beban berton beratnya.

“memaafkan itu memang bisa kulakukan. Tak terlalu sulit. Tapi melupakan sakit yang menjalar itu, sukar rasanya. aku sudah mencoba, dan jika memori tentang itu kembali muncul, jujur saja, rasanya aku malu pada Tuhanku, aku malu karena aku selalu meminta ampun, tapi nyatanya maafku untuk mereka sepertinya tak ikhlas lahir, hanya sekedar mengiyakan agar mereka tenang. aku kejam!”

“sya’ban sudah hampir purnama, kenapa kau masih kelu lahirkan potongan maaf?” tanyaku pelan

“aku tau..aku tau… aku memang jahat…menjauh saja dariku… aku ingin bermunajat sendirian, aku ingin memohon ampun atas benci yang masih menjalar atas pongah mereka, atas penghakiman mereka beberapa purnama lalu…”

” kau punya hak membalas…”ujarku ” al-quran mengajarkan demikian, tapi memaafkan akan lebih baik adanya”…”lagipula mereka masih kurang ilmu, tak tau bagaimana bersikap sesuai Al-Quran, anggap saja mereka awam…”

“aku sudah mencoba. tapi maaf itu hanya sekedar maaf. memoriku masih merekam dengan erat. sakit itu ternyata sudah meracuni segala gerakku, aku takut Tuhan mengambilku pulang sebelum sakit itu benar – benar kulupakan, aku takut alamat kematianku tak jelas rupa kiri ataupun kanan. aku takut.” kau memandangku tajam, mencoba menutupi gerimismu, “ah, kau….pergilah sejauhnya dariku, aku tak ingin kau tercemar sepertiku, tak ingin kau merasa sakit yang sama”

dan sya’ban nyata sudah merangkak menuju bilangan paruh, lalu -dengan izin-Nya- akan memasuki Bulan maghfirah
kau masih merenung di tempat yang sama, kudengar sesekali kau berteriak kencang..

“Ya Allah, ampuni hamba yang belum bisa melupakan kezhaliman mereka, hamba tidak mau menyiksa diri dengan memori kelam itu, hamba tak ingin maaf itu belum muncul, setulusnya, masih menggantung di langit, atau masih tertanam di tanah…Allah..Allah..Alla

h… bantu hamba melupakan kezhaliman mereka..bantu hamba…..”

meureubo harvard, 24 juli 2010
kawan, aku pergi dalam waktu yang lama, jangan cari aku di sini…..kita bincangkan saja lebih lebar di ruang yang berbeda..
Ada Allah di setiap Gerakmu..

dan kita sama menanti Ramadhan… sama menanti…

Iklan

lahir dari mimpi – mimpi

SALAM.

“kesuksesan  lahir dari mimpi – mimpi kita, maka teruslah bermimpi dan rekatkan ia dengan usaha serta do’a”

anda punya mimpi? saya yakin jawabannya adalah iya, tentu saja, benar sekali dan rekan – rekannya. Lagipula tak ada salahnya dengan bermimpi, toh kebanyakan orang sukses bermula dari mimpi – mimpi mereka di masa lalu. mimpi yang semula hanya mimpi dan dengan usaha serta do’a , ianya menjadi kenyataan yang seakan – akan membawa si pelakon (kita) seolah berada di ruang mimpi saat mimpi itu menyata adanya.

Ini bukanlah tentang lelucon ataupun omong kosong. Yang saya tuliskan hari ini adalah hasil dari mencuatnya mimpi – mimpi kecil saya, mimpi – mimpi yang dulunya hanya bertengger di ruang mimpi . Dan saya, kala itu sama sekali tidak berani mengeluarkannya dari ruang mimpi itu ataupun berteduh di sana terlalu lama. Khawatir akal saya tak berfikir secara sehat lagi. Namun, yang terjadi ternyata saya tetap saja mendobrak ruang mimpi itu, masuk kedalamnya, terlena sejenak, lalu mencoba segala upaya untuk mengeluarkan mimpi itu meski tak sekilat mengedipkan mata. Baca lebih lanjut

Kematian Dua Pembunuh (Flash Fiction)

menyapa saja…

hari ini hari pertama di bulan juli, hari pertama yang penuh dengan rangkaian keanehan yang saling sahut menyahut.

terutama keanehan yang mendera saat berada di eskalator. mendadak saya yang dulunya memang anti dengan ketinggian, merasakan phobia yang sama, sampai harus berpegangan erat pada sisi eskalator saat ia beranjak naik. benar – benar di luar kebiasaan, apa mungkin ya perasaan takut sudah terkubur lamaaaaaaa sangat bisa muncul lagi, ? padahal tak ada gejolak apapun, tapi tetap saja rasa takut itu muncul lagi. Tak hanya di situ saja, dulu saya juga merasa ngeri jika harus ditebengi motor oleh teman saya, tak peduli kencang atau tidak laju yang dihasilkan. Dan hari ini , di hari yang sama dengan kebangkitan ketakutan akan ketinggian, ketakutan serupa saat melintas di jalan raya juga muncul kembali, (entah siapa pun yang ngundang).

dan akhirnya agar tidak banyak berfikiran dan menganalisa terlalu jauh (Kasihan Tugas akhir saya ntar ga teringat – ingat) akhirnya saya ambil kesimpulan sederhana sendiri : harus lebih banyak mengingat -Nya. buat apa takut dan cemas (meski ini adalah lumrahnya manusia) jika ternyata saya masih memiliki Sang Penggenggam Cemas. 😀

OK..biar ga kosong….

postingan lama ini saya putar di sini..

semoga bermanfaat

———————————————————————

KEMATIAN DUA PEMBUNUH

“aku masih menyimpan erat mimpi itu “ kutarik nafas dalam, ” terantai dengan baik dalam setiap sel – sel yang ada di kepalaku, bahkan kuncinya sengaja kulempar ke laut agar tak seorangpun menghalau rencana kita” Baca lebih lanjut

Catatan untuk akhir bulan ini

Lagi – lagi disergap bosan. Banyak alamat yang harus dikelarkan, tak hanya alamat email yang harus dikirimi naskah, tapi juga alamat rumah yang harus segera disinggahi. Tak elak, kepala yang sudah terasa dijungkirbalik gara – gara  hitungan neraca yang merupakah salah satu anggota tubuh si Rancangan akhir, akhir – akhir ini mengakibatkan saya semakin bersikap tak jelas. Kerap berjalan sendirian tanpa arah, mencoba melepas penat, bahkan merasa angker dengan gedung teknik kimia tiga tingkat dan juga biro rektorat. Kadangkala dengan sengaja tidak melangkah keluar kosan. Tak ingin tau apa yang terjadi di luar sana. Butuh ketenangan ekstra. Bahkan malam – malam panjangpun yang biasanya di isi pencarian info – info terbaru menjadi lenyap sama sekali. Jika si hitungan tak mampu lagi diterima kepala, otomatis saya akan langsung memejamkan mata. Tak terima rasanya,  jika harus berselancar beberapa jenak, sedangkan misi utama itu -terkesan- terabaikan. Inilah dilemma sang pejuang garis akhir.

Mengisi kekosongan jeda, hal yang saya lakukan adalah menelusuri jejak – jejak kompetisi menulis, dimanapun dan kapanpun. Tak peduli apakah masuk akal jika saya yang sama sekali tak segaris posisinya dengan peserta – peserta yang umumnya nama – namanya sudah tersohor di deretan penulis (papan ataskah atau pendatang baru) yang penting kenekatan itu tetap berjalan. Ada beban mental rasanya jika mengetahui suatu kompetisi ada dan ternyata naskah yang sesuai kelar pengerjaannya, tidak dikirim. Ya , meski dari berpuluh yang diikuti hanya dua atau tiga persen saja yang tertera huruf – huruf penyusun nama saya di dalamnya. Baca lebih lanjut

potongan novel (dalam rencana) catatan lama

Don’t be panik..yaaa…ini catatan lamaaaa banget, bulan satu duluuu. rencananya memang mau di jadiin novel , tapi ga sabar nyiapinnya, so waktu itu langsung dipost di multiply saya… n biar blog ini ga kosong, ya untuk sementara silakan baca dulu ya…
*merasa bersalah juga, gara – gara ga posting – posting* tapi demi agenda akhir tahun yang harus segera dikelarkan, mau ga mau harus mengurangi ruang gerak disini, POKOKNYA TAHUN INI HARUS SIDANG!!!!!
mohon do’anya yaaaaa….
*kepala makin pusing*
——

pagi masih sisipkan rindu
juntaikan klise lama dalam sepotong kelu
dan langitpun tak lupa tawarkan sendu
:berbait – bait rindu

senja, entah berapa kali kukirimkan abjad istimewa oleh – oleh kampus kita dan tak ada satupun respon darimu. kuanggap kau masih terlalu sibuk untuk sekedar mengklik alamat emailmu sendiri.

senja, hilir mudik debu yang terikat angin masih bersisa dikampus kita, masih sama lintasi trotoar kecil diposisi parkiran depan. dan kemarin dua sosok perdana duduk lagi disana, hiasi penantian petinggi kampus dengan kudapan – kudapan ringan.
Dan akupun yang turun dari lantai dua dapati mereka sudah kembali erat seperti dulu, ya , senja mereka sudah kembali, tembok penghalang persahabatan itu sudah luluh lantak dalam proses yang sering kuras airmata tomodachiku yang lain.

senja, kuikuti iseng mereka, duduk di pinggir trotoar yang memang tak lumrah dijadikan pilihan, banyak tempat duduk terserak di atas koridor dan memilih disini adalah hal yang aneh, tak heran wajah senior dan junior agak sedikit berkerut melihat tingkah kami, berempat, ditambah partnerku.

sesekali motor dipaksa berhenti sekedar lemparkan lelucon. –kenapa memilih profesi baru ini, mengemis ditrotoar–. hei, hei tuan, kami di sini sedang menunggu sesosok manusia, bukan melakonkan profesi apapun.

permadani batuan kecilpun masih hiasi tatap masa lalu kami, yah kenang beberapa episode bahagia, dan juga kisahkan jejakmu senja, ya, baru kusadar ternyata rindu itu masih tersimpan erat di bilik rindu masing – masing, dan sungguh takkan luput meski tak lagi semilir hiasi teknik ini, sekalipun topan hempaskan semuanya.

senja, sebatang tanaman serupa bambu, bahan penelitian dua sosok awal itu jadi bahasan utama kami, bagaimana dia bisa menyerap COD dan BOD, yah lagi – lagi kami menjadi pengamat lingkungan, sampai – sampai harus berguru kepada alam untuk lenyapkan beberapa pengancam hidup manusia.

senja, kau benar, kita memang terlalu sombong sebagai manusia, tak terhitung kalinya alam kita rusak, kita abaikan, dan enggan melakonkan pola hidup kembali kealam,. kembali kealam bukan berarti kita harus hidup layaknya manusia purba-sering kau singgung dalam bincang ringan kita-namun belajar lebih mengoptimalkan alam, banyak hal dari alam ini yang bisa kita jadikan panduan, banyak sekali, bukankah ini juga “membaca”.?

ya, senja, kau benar, membaca tak hanya lewat abjad. tak hanya sederet huruf yang sudah dicetak dilembar – lembar yang juga berasal dari alam. berapa banyak ya pohon yang sudah ditebang untuk produksi kertas?? sampai sicumlaude dileting kita batalkan rancangan pabrik kertasnya, karena setia memancang icon GO GReen.. aku suka ini!!

senja, kau ingat sahabat kita yang dilamar melalui dunia maya?kelewatan kalau kau lupa, kita sering bahas ini dilaboratorium OTK sembari tatap tangki distilasi raksasa yang tak pernah lagi dinyalakan karena sedot seluruh arus di kampus ini, dan kampuspun mendadak menjadi kota mati.
aku masih ingat menemaninya keliling bersama seorang calon iparnya, ya, kutangkap seolah rencana masa depannya tak mungkin terhalangi apapun, dan ternyata aku salah senja. Garis hidup mengantarkannya kejalan berbeda, tak sekalipun pertemuan dengan si calon digelar, meski sahabat kita sudah kenal erat dengan sosok familinya dan ternyata hadiahkan ragu membumbung, lalu palupun diketuk.

ya, dunia kerja sang calon mengakibatkannya lalai tepati janji, tak ada lamaran ataupun ta’aruf digelar, semua mimpi tertebas begitu saja. senja , akupun resapi perih yang sama, sungguh tak tega, padahal seluruh personil sudah mengelu – elu hadir pembuka gerbang itu, ya, kukira akan ada gerbang baru beberapa purnama lagi.

ya, senja, aku masih ingat pesanmu, hati – hati dengan dunia maya, jika memang masih ada sosok nyata yang hadirkan janji lebih baik, kenapa harus terlena dengan sebuah icon kemayaan, dan senja, nasi benar – benar sudah membubur. beberapa sosok nyata tawarkan ikatan, dan ternyata semua tertolak hanya karena sosok maya yang begitu lampaui keistimewaan.

senja, aku geram dengan para penipu itu, benar – benar keterlaluan, dan akupun geram dengan dia kenapa harus terbuai. semoga saja tak lagi lingkupi hal yang sama, pun untukku dan kau.

senja, potret duka itu lenyap perlahan.cengkram rindu kami untukmu di sana. ya, kami seolah lupa dengan bait- bait merdumu, saran sayangmu. ah senja, andai tak selambat ini hati mereka terketuk.

haru kembali menyeruak penuhi ruang rinduku untukmu

senja, aku dan mereka sama rindukan hadirmu. setoran indah juz demi juz. senja, kau dimana, tak kau baca bulir rindu kami?
oh ya senja, kabar manusia oman kita belum jua kutemukan, berulangkali kulirik taman kita, dan ternyata bunga – bunga itu belum kembali. ya, perih memang. setahun tak lagi ada mekar dan harum di taman kita dan kulirik taman lain yang nyaris serupa. sia – sia senja, tak sekuntum mawar atau melati kutemui, yang ada hanya perih bungakan hatiku dalam rindu berpasak memori.

senja, kita tak perlu tangisi inikan? ya, sungguh tak usah, merekapun kirimkan rindu , hantarkan tepat di meureubo. semua terbaca dalam bait – bait mereka, bait rindu yang sama. ah, senja tak perlu kita pungkiri indahnya tautan hati , terikat semua dalam rabithah. ya, semua kuat dalam rabithah, senja , aku rindu mereka, rindu kau juga.

dan hari ini beberapa sosok coba gantikan posisi manusia oman, aku tak yakin mereka mampu, tapi sudah lah ikat semua dalam rabithahkan?? biarkan tasbih burung kecil itu do’akan pula kutemukan sosok serupa kalian.

senja, aku benar rindu juz – juz mu. ya, mereka juga senja, sama rindukan, meski tak satupun tatap terjalin
senja, cukuplah Dia yang menilai semuanya, akan kutunggu bahagia itu lingkari kita lagi, entah di bumi mana, entah mungkin kelak di taman terindah itu..

senja, semoga kau baik – baik saja, aku kehilanganmu…

😦

langit meureubo masih kirimkan rindu, arak awan jauhi biru, namun rindu tak cukup dalam abjad

—-

postingan semula maaf kalo ga menarik..

sampai jumpa lagi…do’akan saya sidang Tahun ini,:D

Don’t be panik..yaaa…ini catatan lamaaaa banget, bulan satu duluuu. rencananya memang mau di jadiin novel , tapi ga sabar nyiapinnya, so waktu itu langsung dipost di multiply saya… n biar blog ini ga kosong, ya untuk sementara silakan baca dulu ya…
*merasa bersalah juga, gara – gara ga posting – posting* tapi demi agenda akhir tahun yang harus segera dikelarkan, mau ga mau harus mengurangi ruang gerak disini, POKOKNYA TAHUN INI HARUS SIDANG!!!!!
mohon do’anya yaaaaa….
*kepala makin pusing*
——

pagi masih sisipkan rindu
juntaikan klise lama dalam sepotong kelu
dan langitpun tak lupa tawarkan sendu
:berbait – bait rindu

senja, entah berapa kali kukirimkan abjad istimewa oleh – oleh kampus kita dan tak ada satupun respon darimu. kuanggap kau masih terlalu sibuk untuk sekedar mengklik alamat emailmu sendiri.

senja, hilir mudik debu yang terikat angin masih bersisa dikampus kita, masih sama lintasi trotoar kecil diposisi parkiran depan. dan kemarin dua sosok perdana duduk lagi disana, hiasi penantian petinggi kampus dengan kudapan – kudapan ringan.
Dan akupun yang turun dari lantai dua dapati mereka sudah kembali erat seperti dulu, ya , senja mereka sudah kembali, tembok penghalang persahabatan itu sudah luluh lantak dalam proses yang sering kuras airmata tomodachiku yang lain.

senja, kuikuti iseng mereka, duduk di pinggir trotoar yang memang tak lumrah dijadikan pilihan, banyak tempat duduk terserak di atas koridor dan memilih disini adalah hal yang aneh, tak heran wajah senior dan junior agak sedikit berkerut melihat tingkah kami, berempat, ditambah partnerku.

sesekali motor dipaksa berhenti sekedar lemparkan lelucon. –kenapa memilih profesi baru ini, mengemis ditrotoar–. hei, hei tuan, kami di sini sedang menunggu sesosok manusia, bukan melakonkan profesi apapun.

permadani batuan kecilpun masih hiasi tatap masa lalu kami, yah kenang beberapa episode bahagia, dan juga kisahkan jejakmu senja, ya, baru kusadar ternyata rindu itu masih tersimpan erat di bilik rindu masing – masing, dan sungguh takkan luput meski tak lagi semilir hiasi teknik ini, sekalipun topan hempaskan semuanya.

senja, sebatang tanaman serupa bambu, bahan penelitian dua sosok awal itu jadi bahasan utama kami, bagaimana dia bisa menyerap COD dan BOD, yah lagi – lagi kami menjadi pengamat lingkungan, sampai – sampai harus berguru kepada alam untuk lenyapkan beberapa pengancam hidup manusia.

senja, kau benar, kita memang terlalu sombong sebagai manusia, tak terhitung kalinya alam kita rusak, kita abaikan, dan enggan melakonkan pola hidup kembali kealam,. kembali kealam bukan berarti kita harus hidup layaknya manusia purba-sering kau singgung dalam bincang ringan kita-namun belajar lebih mengoptimalkan alam, banyak hal dari alam ini yang bisa kita jadikan panduan, banyak sekali, bukankah ini juga “membaca”.?

ya, senja, kau benar, membaca tak hanya lewat abjad. tak hanya sederet huruf yang sudah dicetak dilembar – lembar yang juga berasal dari alam. berapa banyak ya pohon yang sudah ditebang untuk produksi kertas?? sampai sicumlaude dileting kita batalkan rancangan pabrik kertasnya, karena setia memancang icon GO GReen.. aku suka ini!!

senja, kau ingat sahabat kita yang dilamar melalui dunia maya?kelewatan kalau kau lupa, kita sering bahas ini dilaboratorium OTK sembari tatap tangki distilasi raksasa yang tak pernah lagi dinyalakan karena sedot seluruh arus di kampus ini, dan kampuspun mendadak menjadi kota mati.
aku masih ingat menemaninya keliling bersama seorang calon iparnya, ya, kutangkap seolah rencana masa depannya tak mungkin terhalangi apapun, dan ternyata aku salah senja. Garis hidup mengantarkannya kejalan berbeda, tak sekalipun pertemuan dengan si calon digelar, meski sahabat kita sudah kenal erat dengan sosok familinya dan ternyata hadiahkan ragu membumbung, lalu palupun diketuk.

ya, dunia kerja sang calon mengakibatkannya lalai tepati janji, tak ada lamaran ataupun ta’aruf digelar, semua mimpi tertebas begitu saja. senja , akupun resapi perih yang sama, sungguh tak tega, padahal seluruh personil sudah mengelu – elu hadir pembuka gerbang itu, ya, kukira akan ada gerbang baru beberapa purnama lagi.

ya, senja, aku masih ingat pesanmu, hati – hati dengan dunia maya, jika memang masih ada sosok nyata yang hadirkan janji lebih baik, kenapa harus terlena dengan sebuah icon kemayaan, dan senja, nasi benar – benar sudah membubur. beberapa sosok nyata tawarkan ikatan, dan ternyata semua tertolak hanya karena sosok maya yang begitu lampaui keistimewaan.

senja, aku geram dengan para penipu itu, benar – benar keterlaluan, dan akupun geram dengan dia kenapa harus terbuai. semoga saja tak lagi lingkupi hal yang sama, pun untukku dan kau.

senja, potret duka itu lenyap perlahan.cengkram rindu kami untukmu di sana. ya, kami seolah lupa dengan bait- bait merdumu, saran sayangmu. ah senja, andai tak selambat ini hati mereka terketuk.

haru kembali menyeruak penuhi ruang rinduku untukmu

senja, aku dan mereka sama rindukan hadirmu. setoran indah juz demi juz. senja, kau dimana, tak kau baca bulir rindu kami?
oh ya senja, kabar manusia oman kita belum jua kutemukan, berulangkali kulirik taman kita, dan ternyata bunga – bunga itu belum kembali. ya, perih memang. setahun tak lagi ada mekar dan harum di taman kita dan kulirik taman lain yang nyaris serupa. sia – sia senja, tak sekuntum mawar atau melati kutemui, yang ada hanya perih bungakan hatiku dalam rindu berpasak memori.

senja, kita tak perlu tangisi inikan? ya, sungguh tak usah, merekapun kirimkan rindu , hantarkan tepat di meureubo. semua terbaca dalam bait – bait mereka, bait rindu yang sama. ah, senja tak perlu kita pungkiri indahnya tautan hati , terikat semua dalam rabithah. ya, semua kuat dalam rabithah, senja , aku rindu mereka, rindu kau juga.

dan hari ini beberapa sosok coba gantikan posisi manusia oman, aku tak yakin mereka mampu, tapi sudah lah ikat semua dalam rabithahkan?? biarkan tasbih burung kecil itu do’akan pula kutemukan sosok serupa kalian.

senja, aku benar rindu juz – juz mu. ya, mereka juga senja, sama rindukan, meski tak satupun tatap terjalin
senja, cukuplah Dia yang menilai semuanya, akan kutunggu bahagia itu lingkari kita lagi, entah di bumi mana, entah mungkin kelak di taman terindah itu..

senja, semoga kau baik – baik saja, aku kehilanganmu…

😦

langit meureubo masih kirimkan rindu, arak awan jauhi biru, namun rindu tak cukup dalam abjad

—-

maaf kalo ga menarik..

sampai jumpa lagi…do’akan saya sidang Tahun ini,:D

Reuni meureubo Harvard…..

Salam..

Pagi, siang , sore, malam, tengah malam, de el el..

Huaaaaaaaa… lama ga posting…

10 bab tugas akhir plus lima lampiran yang sekali print total bakalan habisin dua rem kertas itu bener – bener nguras tenaga…but, nguras tenaga bukan berarti jadi kering kerontangkan? Apalagi tiga hari ini Banda Aceh mulai diguyur hujan lagi.  Setelah sekian lama dilanda terik dan tentu saja mati lampu.(musuh utama mahasiswa tugas akhir , laptop ga bisa nyala).

Alhamdulillah sudah ada kemajuan sedikit. (meski dikiiit banget,tapi tetap harus disyukuri, karena Allah punya rencana, yang penting usaha n do’a tetap sepaket).

Sedikit cerita, biar blog ini ga kosong.

Sabtu kemaren saya dan beberapa anak kos lama, anak meureubo Harvard (cieeee)…. Wait, jangan kira ada salah satu diantara kami yang  kuliah di Harvard sana yaaaaa, nooo…. Ini hanya julukan untuk keasrian yang tertangkap oleh bola mata jika melintasi kawasan meureubo. Satu – satunya kawasan di area Darussalam (area kampus) yang terasa dingin, dengan pohon – pohon asam menjulang di kiri kanan jalan, n pokoknya adem lah kalo lagi terik – teriknya (sedikit mengurangi).

Setelah dua tahun berpisah dengan senior – senior di kos, beberapa tamat kuliah n pindah kosan akhirnya kami sua kembali di ayam lepas kawasan lamprit, tepatnya di depan SMU n 3 Banda Aceh.. Yah begitulah kebiasaan di kos saya, kalau sudah tamat memang harus keluar karena kosan ini memang diperuntukkan bagi anak – anak mahasiswa..

menu utama ayam lepas, lucu ya namanya, minumnya  teh dingin (hujan lebat lho…hehehe),  plus perbincangan yang merambah keseluruh pelosok masalah hidup. (sayang file foto makanan n personelnya masih belum ditangan, jadi ga bisa di upload )

Mulai dari masalah pekerjaan sang senior, tugas akhir beberapa kepala yang berkumpul, sampai masalah kesehatan dan ekonomi syariah.. hahai… pertemuan yang sungguh merangkul diskusi dan tambahan informasi.

Yah, memang  jika kumpul – kumpul itu diniatkan untuk hal – hal yang baik, akan ada manfaat di dalamnya. Banyaaaaaak banget ilmu dari mereka. Terimakasih kakak – kakakku ….semoga kalian makin sukses, apalagi buat yang udah bayarin . (padahal enggak serius minta di bayarin, tau – tau beneran)

——————–

Mengutip puisi lama

sungguh rasa ini kian hadir
dalam desah nafas yang kian menepi
tak rasa jua satukan fikir
remuk semua dalam bait – bait sunyi
bait – bait rindu

duhai ibu
lantunan qira’ah mu kurindu
tegur kemalasanku kudamba
dan kisah klasikmu dari tanah suci kerap curi lelap malamku

ibu
hitungan purnama masih kuabsen
agar hadir sehelai penentu pulang
tak mau larut dalam dimensi usang
karena sungguh inginku bangun peradaban baru
tak lagi berbatas status pun dimensi

ibu
tak hitung lagi peluh dan tangis sama kita tawan
kais rindu agar tak benam karakter
agar kian sambangi ruang bahagia

ya, rindu yang baitkan pinta pada-Nya
terjaga dari segala hantaman
dan juga cicil cinta agar sungguh lepas hiasi angkasa
cicil ayat yang kita jadikan kunci

ibu
ulang detik tanyakan serupa
rindu ada atau terselip?
dan abjad papar semua dalam suara
ada rindu disini dan disana
terhias serupa dalam pura
ya, pura – pura tak rasa

ibu , tak kuundang cemas
namun terlalu gegas merembes
cemas tak kupunya sisa detak tuk tatap wajahmu
cemas sama tak punya waktu tuk saling bicara

ibu, anakmu rindu… 😦

—–

maaaaaaf sekali lagi..kalo balasan kunjungannya lamaaaaa.. lagi semangat – semangatnya nyusun tugas akhir..

terimakasih sudah berkunjung

Banda Aceh, 7 juni 2010

Repost : kursus Para Koruptor

kursus koruptor ; silakan mendaftar, free….

Debu  debu masih setia menemani perjalananku hari ini. Terik tak luput mengekor setia. Belum lagi lalu lintas padat, tak hanya polusi udara dari knalpot – knalpot yang belum teruji emisinya, tapi juga polusi suara yang takkan kurang menggedor – gedor gendang telingaku.

Ah, kalau bukan karena tugas dari big bos, mana mungkin aku berpeluh – peluh seperti ini. Tugas istimewaku hari ini adalah mewawancarai salah satu tempat kursus terpopuler di kota ini, yang namanya saja tak hanya menggema di seluruh Indonesia bahkan di seluruh dunia. Lulusan di kursus ini mayoritas menjadi konglomerat. gila pikirku. Tempat yang keren pastinya.

Dua jam perjalanan dengan motor kesayanganku, tak sulit menemukan tempat kursus ini, tak ada yang tidak tau lokasinya. Di pinggir jalan, dengan warna cat yang sangat mencolok, gedung 4 lantai dan satu – satunya gedung terbesar di deretan komplek kursus ini, – masyarakat menyebutnya begitu karena kursus – kursus lainnya juga berdiri di kiri kanan jalan kolap ini

Dari luar pagar aku sempatkan memotret tulisan besar di dinding pagar , tepat di sebelah kiri gerbang masuk, kulanjutkan dengan area parkir yang penuh dengan mobil – mobil tentor , sebelum benar – benar menerobos ke dalam menemui direktur utama tempat kursus yang paling bergengsi ini.

“Selamat siang pak”, urung ku ucapkan salam yang lazim dalam keseharianku, karena aku sedikit ragu apakah orang  orang di sini adalah muslim. Tak ada atribut muslim yang kulihat pun atribut agama lain. Ah peduli amat, kata orang – orang mereka muslim tapi kebanyakan hanya cetakan ktp. Entahlah, daripada ragu – ragu aku memilih salam umum saja. Baca lebih lanjut