Tak Perlu sebar percaya

Biar ga kosong.. (TAPI MAAF , belum sempat blogwalking secara serius) 😦  , dikejar target besar..

TAK PERLU SEBAR PERCAYA

Blib

Aku tahu ini perih. Aku tahu ini luka. Tapi jika kupaksa kau bungkam, cemasku semua kebenaran padam. Tapi jika kau bicara, tak elak banyak jiwa harus tergadai. Terutama jiwamu, batinku.

Kau tahukan apa arti perih? Patah berkeping – keping atas percaya yang tergadai percuma, dan aku tak mau jika mereka merasa sepadan. Sepadan di penjara, batinku.

 

Zrum

Aku tahu ini tentang luka. Jelas menganga. Tapi diamku ibarat garam. Kau tahukan rasanya jika ditabur di atas luka menganga. Perih, meringis. Lagipula aku membela kaum tertindas. Salahkah aku, Blib? Nyaris kubanting hpku. Geram membungkus.

Blib

Aku tahu dengan pasti Zrum. Tapi bungkammu saat ini lebih melangit perlunya. Lebih dari makanan bagi renta yang sedang dihadang lapar setelah sehari semalam tak makan, lebih dari air yang mesti diteguk saat makanan tak meluncur dengan baik dan tertahan hingga terbatuk , lebih dari seorang bayi yang meraung keras saat lapar Asi.

 

Aku masih mencoba merayu. Berharap Zrum luluh segera.

 

Zrum

Aku enggan. Tak sedikitpun luluh atas ucapmu. Aku tak mau berkarib dusta, meski aku bukan ahli jujur. Tapi kukata dengan tegas dan lantang bahwa tak sudi kubungkam suaraku demi orang-orang tak berkelas seperti mereka, demi orang-orang pendusta kelas hiu seperti mereka. Biar saja mereka mati berkubang. Sangat pantas bagi mereka dimakan cacing dan belatung di dalam tanah sana. Atau perlu kusegerakan saja pemakaman mereka? Biar aku lebih nyaman melenggang di muka bumi, tanpa harus panas hati melihat mereka tak beradab lagi.

 

Aku benar-benar emosi. Rasanya ingin kucekik orang-orang biadab itu, pun Blib. Ingin kujambak rambut ikal lelaki sialan itu. Penghianat kaum tertindas.

 

Blib

Ok..ok.. kubuka semua rahasia. Mereka aku khilaf, mereka aku lepas kendali, kalap. Mereka aku tak sadar diri. Mereka sebut tak ingin mati, maka aku diminta meluluhkanmu, duhai sahabat karibku penggemar damai. Istri mereka masih muda, tak bekerja, dan anak-anak mereka masih terlalu kanak untuk ditinggal mati. Tak tega katanya jika harus pergi begitu saja, dengan malu yang harus ditanggung keluarga. Sungguh miris membayangkannya. Tolonglah Zrum, bungkamlah seribu bahasa. Tariklah kembali kasus ini. Kasihan mereka.

 

Aku terpaksa memelas, kulonggarkan ikatan dasiku, pendingin ruangan sedang diperbaiki, jadi hawa panas benar – benar merayap. Bahkan Hpku pun basah keringat, terlalu lama berdebat dengan Zrum. Semoga saja dia luluh segera. Aku  nyaris kehabisan diksi menggugurkan semangat tingginya mengahajar bos-bosku di meja hijau.

 

Zrum

Ha? Kau kira aku ini gampang dirayu seperti dulu saat kau mengejar-ngejarku? Kau bodoh Blib, tak bisa membaca dengan nyata benar dan salah. Lalu sekarang dengan kecerdasanmu yang rata-rata itu kau mau meluluhkan bongkahan keras hatiku ini?

Tak semudah itu, lelaki bangsat, batinku. Dulu aku pernah kau tipu saat masih terpesona dengan paras menawanmu, dan sekarang kau mencoba merayuku lagi. Maaf teman, kau salah alamat. Bahkan aku bisa saja melaporkanmu atas tuduhan mengganggu kenyamanan.

 

Aku mendengus kesal, meja kerjaku kuobrak –abrik. Geram mutlak. Kurang ajar sekali dia. Masih memakai jurus lamanya, memelas. Bah, bodoh sangat orang yang mengangkat dia sebagai tangan kanan. Atau mungkin saja dia dan bosnya sama tak beres.

 

Tak,aku tidak rela mereka seliweran seenaknya. Berapa banyak perawan-perawan yang akan dikorbankan lagi jika aku bungkam. Lukaku tak cukup obat, aku masih sakit atas tindakan mereka terhadap karib-karibku. Jika mereka kulepaskan, namaku benar-benar raib di kampungku. Malu aku hadapkan muka di sepanjang tanah berbatu dan becek di kampung. Tak becus aku.

 

Dan kau bilang aku mesti bungkam? Oh, Tuhan, kau masih punya hati Blib? Jangan bilang kau sama tak berkepala waras lagi seperti mereka, orang-orang yang membayarmu? Lalu jika perihal itu tertimpa pada kakak perempuanmu, atau adik perempuanmu yang masih perawan, apa kau memilih bungkam? Dasar tak punya hati. Tutup saja telepon ini. aku sudah terlanjur sakit hati, ditambah lagi sikapmu yang membelot tak membela lagi kaum tertindas. Kau itu pengacara, dulu kau pernah berikrar akan menolong kaum lemah. Kau ingat itu baik-baik !

 

Blib

Zrum, aku tahu kau marah total. Tapi sudahlah tak elok jika marahmu kau umbar, nanti cantikmu pudar. Tak usah kau ikut jejak orang-orang kantormu yang selalu membela orang-orang tak berduit. Kau tak kaya-kaya nanti. Aku percaya kau masih berakal sehat. Dan sayang sekali rasanya jika akal sehatmu itu harus padam karena dipenggal dalam kurun waktu tak lama lagi.

 

Aku terpaksa mengancam Zrum. Tak tega. Tapi demi reputasiku di hadapan bos, maka langkah ini mesti diambil.

 

Zrum

Oh, begini kau rupanya. Berani mengancam sekarang.  Tak usah kau ancam aku. Takkan gentar hadir seincipun. Aku ini keras kepala. Tak peduli siapa lawan. Jika ia memang salah dan harus ditebas, tak perlu amunisi berlimpah.  Tanganku ini bisa jelma setajam pisau yang baru diasah untuk memotong urat-urat hidup mereka. Paham?

 

Kumatikan hpku. Kurang ajar sekali dia, batinku.

 

PERSIDANGAN

 

Zrum

Tuan hakim yang terhormat. Lima laki-laki biadab yang mengaku orang terhormat, konglomerat yang duduk rapi dengan dasi dan jas mewah mereka di kursi kematian  sungguh harus mati. Tak hanya korupsi saja yang digelar rapi, tapi gadis-gadis perawan dikampungku habis ditipu. Tak satupun dinikahi mereka. Ditinggal begitu saja setelah benih mereka semai seenaknya dengan janji-janji palsu.  Benar-benar tak berotak. Dan saya juga diancam oleh pengacara mereka agar bungkam.

 

Hakim

Hati-hati bicara nona Zrum. Anda bisa dilaporkan dengan kasus pencemaran nama baik. Sebagai saksi , bukti anda kurang kuat. Kau  bisa dianggap mencemarkan nama baik mereka di hadapan khalayak jika kata-katamu berbalut dusta. Tuntutan atasmu bisa berangka rupiah. Hati-hati, kau bisa mendekam di penjara jika salah bicara. Kau paham, saksi? Atau kau memang berniat sejak awal menggantikan posisi orang-orang yang kau tuntut agar bisa merasa lelap dipenjara, karena kau tak punya rumah?

 

Seiisi ruangan tergelak. Rekan-rekan lima lelaki itu memenuhi ruangan.

 

Zrum

Tak seorangpun warga kampung nampak batang hidungnya. Aku yakin mereka diancam. Dan ini artinya aku harus berjuang sendiri, meski harus mati. Tertawalah kalian, aku yakin hakim gembul itu juga sudah sekepala dengan lima orang itu.

 

Tuan hakim yang terhormat. Sungguh aku tak suka berlisan dusta. Kerap kusaksi mereka keluar masuk seenaknya rumah perawan kampung, tanpa akad sebelumnya. Hanya janji saja yang digombalkannya. Dan kini perawan-perawan itu tewas. Sekali ditebas oleh mereka tepat dua purnama lalu. Aku melihat dengan mata kepala sendiri bagaimana mereka menghilangkan nyawa  teman-temanku di balik belukar rimbun yang menyelamatkanku dari tatapan mereka. Jika tidak, mustahil hari ini aku masih berdenyut.

Sayang, aku tak punya kamera digital seperti kalian, orang kaya. Aku hanya bisa merekam dengan mata dan kepalaku saja. Dan untuk itulah aku hadir di sini, mencari keadilan atas nyawa-nyawa yang telah dicabut paksa.

 

Kemarahanku memuncak. Aku muak di sini. Mual melihat wajah-wajah pendusta ada di dekatku.

 

PENJARA

Zrum

Oh,  jeruji penjara. Aku ini bukan setan, bukan penjahat, lalu kenapa aku yang harus mendekam di sini. Aku terjebak tipuan kawan-kawan setan. Terjebak sosok berkarib dusta. Orasiku tak didengar. Warga kampung teman-temanku tak kuasa membela. Ancaman pembunuhan massal telah memotong pita suara mereka hingga tak bisa menolongku.

 

Blib

Aku minta maaf, Zrum. Aku terpaksa mengancammu dahulu. Tak kusangka mereka benar kurang ajar, penghianat sejati. Bahkan, aku pun dilempar ke mari karena gagal membungkammu dahulu.

 

Zrum

Oh..negeriku..siapa benar, siapa salah..

 

RUANG RAKSASA

Bagus hakim hebat, kami bebas sekarang. Hahahaha.  Ambillah koper hitam di sebelah kiri kursimu. Pulanglah kau. Bagi-bagikan uangmu untuk anak, istrimu di rumah.

 

JALAN RAYA

Dhuar,,

koper hitam berisi uang  palsu meledak tepat 30 menit setelah hakim keluar dari halaman RUANG RAKSASA.

 

Siapa yang bisa dipercaya??

 

Langsa, 2 syawal 1431 H ( 11 september 2010)

sumber : catatan facebook saya

Iklan

19 responses to “Tak Perlu sebar percaya

  1. err,,, ini maksud ceritanya apa yah….? kok saya kurang paham…

  2. hmmm…
    saya pikir saya saajaa yang tidak mengerti, ternyata orang diatas saayaa pun kurang mengerti. Sempat saya scroll lagi keatas, setelah saya baca..

    namun saya juga tidak mengerti…
    btw, salam kenal, en maaf tidak bisa memberi tanggapan atas artikel diatas

  3. meski saya kurang paham ceritanya *garuk2 pala* tapi… saya doakan semoga tugas akhir sobat sukses!

  4. waduh, kalo saya lebih parah, cuma mau ninggalin jejak aja. hehehehe

  5. fiksi yang unik
    kreatif, menarik untuk dicermati
    salam sukses..

    sedj

  6. jujur … Denuzz gak ngerti apa maksudnya …
    hiks … hiks … bahasanya ketinggian bagi Denuzz …

    ~~~ Salam BURUNG HANTU ~~~

  7. mksdnya apa sih? gw gak ngerti

  8. ahahhaha,,,, boleh juga….
    susah juga kalo sudah nggak ada yg bisa di percaya begitu ya…
    kasihan Zrum… bego nya si Blib…

    mestinya dia bela Zrum aja… hehehe

    HIDUP!!! ^_^

  9. wow, mantap.
    baca sampe habis, 😀

  10. Yang benar belum tentu menang

  11. Uhoo~~ Uhoo~~ BTW, Zrum sama Blib orang mana ya? Kaya yang pernah kenal *sksd Tragis, sad ending deh 😦

  12. zrum ma blib nama panggilan sayang? :p

  13. tulisannya tingkat atas banget,
    *saya yng pemula ini belum paham
    tapi salut buat ide kreatifnya:D
    salam kenal:)

  14. Jujur sekali…..salut.

    salam

  15. selaluuu suka baca tulisanmu Fir…
    awalau (agak) membingungkan kadang…hihihi…
    atau, aku yang terlalu sulit mencerna…hihiihi…

    eh, fir,,,
    aku punya blog award untukmu….
    http://fathelvi.blogspot.com/2011/02/blog-award.html

  16. sobat ada award tuh dirumahku diambil ya 😀

  17. cocok buat jadi sebuah skenario nih 🙂

  18. bikin pusing…
    tp keren sob…
    sukses terus yah

  19. baru ngeh kalo itu cerita fiktif 🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s