Monthly Archives: Juli 2010

jelang purnama sya’ban

aku melihatmu saban hari, termenung di antara kerikil kecil dan aliran sungai bening. Kau tau? kukira kau baik – baik saja. sampai kudengar isak kecilmu berpadu dengan riak kecil setelah benturan kerikil.
Ada apa lagi?

ada apa denganmu teman? kenapa akhir – akhir ini rupamu menganeh?
tapi kau diam saja. tak menganggap ku ada.
jeda beberapa saat, saat helai dedaunan mulai jatuh mengikuti aliran sungai, kau pun buka suara.

“aku ragu mengetuk Ramadhan kali ini. meski kusadar alamat nafasku tak tentu sampai ke gerbangnya, tapi..” kau menghela nafas, panjang dan berat. terbaca jelas kau simpan beban berton beratnya.

“memaafkan itu memang bisa kulakukan. Tak terlalu sulit. Tapi melupakan sakit yang menjalar itu, sukar rasanya. aku sudah mencoba, dan jika memori tentang itu kembali muncul, jujur saja, rasanya aku malu pada Tuhanku, aku malu karena aku selalu meminta ampun, tapi nyatanya maafku untuk mereka sepertinya tak ikhlas lahir, hanya sekedar mengiyakan agar mereka tenang. aku kejam!”

“sya’ban sudah hampir purnama, kenapa kau masih kelu lahirkan potongan maaf?” tanyaku pelan

“aku tau..aku tau… aku memang jahat…menjauh saja dariku… aku ingin bermunajat sendirian, aku ingin memohon ampun atas benci yang masih menjalar atas pongah mereka, atas penghakiman mereka beberapa purnama lalu…”

” kau punya hak membalas…”ujarku ” al-quran mengajarkan demikian, tapi memaafkan akan lebih baik adanya”…”lagipula mereka masih kurang ilmu, tak tau bagaimana bersikap sesuai Al-Quran, anggap saja mereka awam…”

“aku sudah mencoba. tapi maaf itu hanya sekedar maaf. memoriku masih merekam dengan erat. sakit itu ternyata sudah meracuni segala gerakku, aku takut Tuhan mengambilku pulang sebelum sakit itu benar – benar kulupakan, aku takut alamat kematianku tak jelas rupa kiri ataupun kanan. aku takut.” kau memandangku tajam, mencoba menutupi gerimismu, “ah, kau….pergilah sejauhnya dariku, aku tak ingin kau tercemar sepertiku, tak ingin kau merasa sakit yang sama”

dan sya’ban nyata sudah merangkak menuju bilangan paruh, lalu -dengan izin-Nya- akan memasuki Bulan maghfirah
kau masih merenung di tempat yang sama, kudengar sesekali kau berteriak kencang..

“Ya Allah, ampuni hamba yang belum bisa melupakan kezhaliman mereka, hamba tidak mau menyiksa diri dengan memori kelam itu, hamba tak ingin maaf itu belum muncul, setulusnya, masih menggantung di langit, atau masih tertanam di tanah…Allah..Allah..Alla

h… bantu hamba melupakan kezhaliman mereka..bantu hamba…..”

meureubo harvard, 24 juli 2010
kawan, aku pergi dalam waktu yang lama, jangan cari aku di sini…..kita bincangkan saja lebih lebar di ruang yang berbeda..
Ada Allah di setiap Gerakmu..

dan kita sama menanti Ramadhan… sama menanti…

Iklan

lahir dari mimpi – mimpi

SALAM.

“kesuksesan  lahir dari mimpi – mimpi kita, maka teruslah bermimpi dan rekatkan ia dengan usaha serta do’a”

anda punya mimpi? saya yakin jawabannya adalah iya, tentu saja, benar sekali dan rekan – rekannya. Lagipula tak ada salahnya dengan bermimpi, toh kebanyakan orang sukses bermula dari mimpi – mimpi mereka di masa lalu. mimpi yang semula hanya mimpi dan dengan usaha serta do’a , ianya menjadi kenyataan yang seakan – akan membawa si pelakon (kita) seolah berada di ruang mimpi saat mimpi itu menyata adanya.

Ini bukanlah tentang lelucon ataupun omong kosong. Yang saya tuliskan hari ini adalah hasil dari mencuatnya mimpi – mimpi kecil saya, mimpi – mimpi yang dulunya hanya bertengger di ruang mimpi . Dan saya, kala itu sama sekali tidak berani mengeluarkannya dari ruang mimpi itu ataupun berteduh di sana terlalu lama. Khawatir akal saya tak berfikir secara sehat lagi. Namun, yang terjadi ternyata saya tetap saja mendobrak ruang mimpi itu, masuk kedalamnya, terlena sejenak, lalu mencoba segala upaya untuk mengeluarkan mimpi itu meski tak sekilat mengedipkan mata. Baca lebih lanjut

Kematian Dua Pembunuh (Flash Fiction)

menyapa saja…

hari ini hari pertama di bulan juli, hari pertama yang penuh dengan rangkaian keanehan yang saling sahut menyahut.

terutama keanehan yang mendera saat berada di eskalator. mendadak saya yang dulunya memang anti dengan ketinggian, merasakan phobia yang sama, sampai harus berpegangan erat pada sisi eskalator saat ia beranjak naik. benar – benar di luar kebiasaan, apa mungkin ya perasaan takut sudah terkubur lamaaaaaaa sangat bisa muncul lagi, ? padahal tak ada gejolak apapun, tapi tetap saja rasa takut itu muncul lagi. Tak hanya di situ saja, dulu saya juga merasa ngeri jika harus ditebengi motor oleh teman saya, tak peduli kencang atau tidak laju yang dihasilkan. Dan hari ini , di hari yang sama dengan kebangkitan ketakutan akan ketinggian, ketakutan serupa saat melintas di jalan raya juga muncul kembali, (entah siapa pun yang ngundang).

dan akhirnya agar tidak banyak berfikiran dan menganalisa terlalu jauh (Kasihan Tugas akhir saya ntar ga teringat – ingat) akhirnya saya ambil kesimpulan sederhana sendiri : harus lebih banyak mengingat -Nya. buat apa takut dan cemas (meski ini adalah lumrahnya manusia) jika ternyata saya masih memiliki Sang Penggenggam Cemas. 😀

OK..biar ga kosong….

postingan lama ini saya putar di sini..

semoga bermanfaat

———————————————————————

KEMATIAN DUA PEMBUNUH

“aku masih menyimpan erat mimpi itu “ kutarik nafas dalam, ” terantai dengan baik dalam setiap sel – sel yang ada di kepalaku, bahkan kuncinya sengaja kulempar ke laut agar tak seorangpun menghalau rencana kita” Baca lebih lanjut