Selamat jalan, Allah memilihmu pulang

Pantas aja  akhir – akhir ini perasaanku sering membawa ruang fikir menjelajah hingga kampung halaman. Ruang demi ruang tersapa dalam mimpi, berulangkali adanya. Lalu puncak rindu itupun gugur tepat saat kebingungan dan kesibukan menghiasi hari – hari terakhir ini.

Dari sisi jendela kaca ini, aku hanya diam, diam , dan diam,belum mampu meneruskan kegiatan lazim yang kukerjakan, berdialog dengan rancangan pabrik. Aku masih diam menata perasaanku agar tak terlalu larut dalam duka, karena tangisanku saat ini sudah tidak ada artinya lagi, jadi cukup beberapa tetes dalam sujud sebagai pelepas rasa agar tak sesak nafasku.

Aku benar – benar terlambat pulang. Senja ini benar – benar kelabu. Mimpi yang menghentakkanku di malam penghujung minggu ternyata benar – benar beralasan. Sesosok manusia , sesosok wajah yang sangat kukenal menghampiriku, menangis mencoba merangkulku dan akupun sama. Sama – sama hendak menggenggam, sama – sama pula jemari seolah terlepas sebelum rangkulan hangat menghiasi tangisan kami. Saat itu aku masih mengulas , mencermati dan mengingat – ngingat dengan baik, sosok tersebut wajahnya sangat tidak asing, tapi bukan ibuku, bukan pula kakakku, lalu mengapa dia ada di dalam rumah kami. Meminta dido’akan. ya aku ingat menguatkan sosok yang tak kutau siapa saat itu, menguatkan dengan beberapa potong kalimat.

Seratus tahun lebih dia berjalan di muka bumi ini, bahkan terakhir kali aku bertemu dengannya,  beliau masih ingat siapa aku. Padahal aku hanya setahun sekali menampakkan wajah kerumahnya yang teduh. Tidak hanya aku saja, bahkan anak – anak dari sepupu sepupuku juga masih beliau ingat nama dan wajahnya. Pendengarannya memang sudah tak sebagus dulu, namun masih bisa jelas mendengar celoteh kami, masih mampu melihat kami dengan matanya, masih mampu membuatkan kue – kue kecil menjelang lebaran dan kepulanganku kebanda aceh. Khusus untukku saja, karena saat ini hanya aku saja yang sekolah keluar daerah.

Idul adha kemarin merupakan hari terakhirku melihat beliau, senyum beliau, dan memegang tanan beliau yang memang sudah keriput.  Sosok kuat yang bahkan tak segan mengunjungi rumah cucunya untuk bersilaturahim, padahal untuk berjalanpun sudah kepayahan. Sering direpotkan oleh cucu – cucunya yang menitipkan anak – anak mereka yang masih balita, menjaga dengan penuh kasih saying, dan penuh tawa saat keluarga besar berikut cucu dan anak dari cucunya berkumpul bersama. Ya, memori seperti ini hanya ada dilebaran saja. Rumah beliau akan penuh dengan sandal – sandal kami saat lebaran tiba. Karena saat lebaran tiba, kami yang terpisah satu sama lainnya akan  berkumpul di rumah beliau,rute pertama perjalanan kami.

Hari ini rumah itu ramai, bahkan lebih ramai, terlalu ramai jika disebut sebuah lebaran. Sosok yang lebih seratus tahun menghiasi dunia ini,bahkan tetap kulihat sesekali  saat lebaran menuju mesjid untuk shalat bersama, dan berjalan sendirian, tidk ingin dipapah. Telah pergi dari sisi kami, pergi dan benar – benar tak kan bisa kulihat lagi.

Ada penyesalan yang sangat menikamku hari ini, aku si sosok paling anti pulang, namun akhir – akhir ini benar – benar merasa rindu yang teramat dalam, tetap bersikukuh menahan segala gejolak, meredam semua rasa , membenamkannya dibalik diktat – diktat dan gambar – gambar alat pabrik. Hingga akhirnya benar – benar tidak menuruti kata hati untuk pulang, pun setelah mimpi menyedihkan itu. Ya, sebuah mimpi buruk dilarang dikabarkan, tapi sekarang  lintasan peristiwa yang menyelinap masuk saat aku terlelap kembali terjadi, ya , kembali terjadi, setelah begitu banyak mimpi lainnya yang juga lahir menetas didunia nyata. Rasanya , saat ini aku ingin menahan mataku ini dengan korek api agar tidak lagi tertidur sampai kapanpun.

Hahah, bodoh ya?? Mana mungkin seorang hamba bisa melawan takdir, semua sudah tertulis, sayangnya aku bukan ahli tafsir, bukan juga seorang ulama besar yang mampu mentakwilkan mimpi.

Senja ini tak kulihat hijau, entahlah , aku masih enggan bergerak keluar, masih duduk terdiam, mencoba menghitung – hitung berapa kali mimpiku lahir menetas ke alam nyata. Ya, salah satu alasan mengapa bergadang sama sekali bukan masalah bagiku, mengingat mimpi – mimpi yang kucemaskan akan hadir kedunia nyata. Maka aku lebih memilih tidur satu atau dua jam saja agar tak lindap tragedy – tragedy aneh lainnya.

Semoga saja……

Hembusan angin sore menyusup melalui sela – sela pintu yang tak tertutup rapat, jujur saja masih ada tangisan yang ingin kutuang, tapi urung…. Aku tak ingin kalah dengan sosok sebelas tahun lalu, saat sang kepala keluarga pergi,,, masih juga dengan lintasan mimpi sebelumnya.

Tak ada nikmat yang mampu di dustakan, tak kan ada….semua sudah di atur…jangan salahkan jika aku sering menyebut – nyebut kata mati, bukan aku ingin mati, tapi hidup dan mati memang ada dalam satu paket…

Selamat jalan nenek, engkau telah berhasil mendidik anak – anakmu untuk mandiri, berpegang teguh pada agama, dan menularkannya kepada kami , cucu – cucumu. Semoga segala kebaikanmu, semuanya diterima oleh Allah..

Salam rindu dari cucumu yang dua bulan ini sama sekali tidak mengikuti  kata hati untuk pulang, padahal ada pesan yang sudah terkirim di dalamnya..

*sudah takdir*

Mohon maaf , jika ada yang tidak berkenan

BAnda Aceh, 12 April 2010

senja yang berbeda, sangat berbeda

Iklan

8 responses to “Selamat jalan, Allah memilihmu pulang

  1. hhmmm… tulisannya selalu menyentuh..
    semoga sahabat sejati selalu bahagia…
    izinkan kami mengucapkan terima kasih..
    atas partisipasinya pada kuis sahabat sejati…
    semoga sukses selalu..

    sedj
    http://sedjatee.wordpress.com/2010/04/12/klasemen-akhir/

  2. turut berdoa untuk kebaikan semua

  3. halo mbak safiraaa

    bagus nih wat majalah skul
    ehehhehehe
    boleh di pake gak mbak??
    nanti nama penulisnya saya pampang ko

    menyentuh kalbu banget tulisannya

  4. kadang petunjuk petunjuk itu telah jelas ada, tp sering pula tidak bisa mengartikannya..

    sangat menghanyutkan… Sangat tabah..
    benar..sudah takdir, kita hanya bisa menjalankan dan berusaha menerima dengan iklhas..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s