surat terakhir dari si penyakitan (hanya sebuah cerita)

Aku kembali merenung, menarik nafas dalam dan mencoba mengaitkan koordinat – koordinat yang terus melintas di depanku, koordinat masa depan yang entah akan menemui puncaknya dan sketsa bayangan masa lalu yang kian menusuk – nusuk lembar – lembar ingatanku, ahh,,, percuma rasanya. Kuubek – ubek memoriku, tapi terlalu kecil kecepatan yang tersisa untuk menjalankan fungsi otakku.

Siluet yang tak pernah lupa mengunjungi ku di senja – senja terakhirku, benar – benar melegakan sedikit, yah walaupun hanya sedikit, tapi setidaknya, aku merasakan kehidupan masih bisa berpihak padaku.

Saat dukaku menjadi kilasan – kilasan yang tak berarti bagi orang lain, bahkan tak bisa terbaca karena kediamanku, aku masih memiliki Dia, ya, hanya Dia, tempatku melabuhkan segala perasaanku, yang takkan pernah membocorkan rahasiaku, tidak seperti segelintir orang yang sempat menyebutku sahabatnya, namun kemudian tanpa segan – segan melemparku kejalanan setelah mendapatkan keinginan – keinginan mereka.. aku kembali disini, seperti awal – awalku injakkan kaki di trotoar yang tak sanggup kulalui tanpa izin_Nya

Hari ini hari kesekian dalam hidupku, berada di ruang putih beraroma anastesi , hah, ruang favoritku beberapa bulan terakhir… selesai terapi kembaliku lanjutkan tulisanku, tapi kali ini bukan tulisan motivasi ataupun novel – novel bersetting negeri – negeri yang luar biasa indahnya, karena tulisanku telah selesai dan besok akan diterbitkan,tulisan ketigaku, buku ketigaku, dan semoga kali ini kembali best seller seperti yang sudah – sudah dan telah kalian baca beberapa kali. Penulis favorit kalian yang memakai nama pena archima, itulah aku, ARCHIMA, kuambil dari nama kalian…

kali ini aku hanya ingin menulis , yang mungkin saja bisa jadi tulisan terakhirku, dan juga mungkin surat permintaan maafku

Sebelum sel – sel otak ku benar – benar tak bisa lagi diajak kompromi, yah aku hanya ingin kalian tak menjadi sebodoh diriku yang tak sempat menunaikan janjiku, janjiku pada_Nya…. bahkan dalam hari – hari terakhirku ini. Penyakitku ini, hampir menjadikanku tak ingat siapa diriku sendiri, perlahan nama-nama kalian (sahabat- sahabat ku) luput dari ingatanku.  terakhir, saat aku bertemu kalian (tentu saja bukan diruang putih ini)aku tak bisa mengingat nama kalian satu persatu dengan baik, bahkan tertukar antara siA dan SiR, padahal baru tiga bulan setelah wisuda aku tak menatap kalian, maafkan aku..

setiap benda yang kugenggam seolah longgar dari tanganku dan jatuh lunglai menyentuh tanah, 5 kali dihari yang sama aku menjatuhkan benda – benda berharga kalian ,salah satunya kamera special buah tangan dari singapura yang tak pernah kukunjungi, maklumlah keuanganku tidaklah seperti kalian, sampai – sampai kalian semua memakiku. Maafkan aku, indera peraba ku tak berfungsi dengan baik.

Kututupi semua penyakitku, tak seorangpun kubiarkan merasakan deritaku, karena bagiku tangisan kalian dan keluargaku adalah duka yang paling menyayatku, karena bagiku hanya bahagia yang mampu kubagi untuk kalian, bukan kesedihan…

Kuhabiskan sisa – sisa nafasku dengan menghafal surat-surat cinta dari ilahi, padahal jelas, tiap hari hanya melakukan hal yang sama , mengulang ayat – ayat yang sama, karena memori yang kumiliki setiap hari makin berkurang….. masih kuingat terakhir kali kita bersama, saat one litre of tears diputar dibasecamp kita. aku yang bukan sosok cengeng, tiba- tiba menguras air mata yang kalian sebut lebih dari satu liter..ha..ha..ha.. yah kuingat tawa kalian, “kok, tiba2 jadi cengeng ni anak??”… aku pun ikut tertawa meski dengan perih yang tertahan… “filmnya sedih, ngingatin sama seseorang, seseorang yang punya penyakit yang sama….” Yaitu orang yang ada didepan kalian…bisikku dalam hati…

Yah, masih bisa kutatap pohon- pohon asam dan cemara yang berjejer rapi di sepanjanghalaman ruang putih ini, meski hanya duduk dan menerawang melalui kaca bening ini… karena sekarang aku kehilangan keseimbanganku, tak mampu lagi menopang tubuhku… aku masih ingat , janjiku menghafal seluruh bait- bait cinta yang menjadi pedoman tertinggi  namun aku gagal, bahkan diterpa kehilangan memori secepat lintasan kereta api express…

Bukanlah kesempurnaan yang kucari, karena kebahagiaan bukan terletak pada sebuah kesempurnaan, acapkali aku merasa berada jauh dibawah kalian, merasa kalian tinggalkan, bahkan disisa hidupku!!!, tapi itu tidaklah benar, aku yang tak ingin mengganggu kalian,dan tanpa kusadari aku menjauhi kalian setapak demi setapak. Aku benar – benar tak ingin mengirim surat duka ini, aku memilih larut dalam kesendirianku, kutolak semua ajakan kalian, karena kuyakin segala kebahagian kita akan percuma , TAKKAN TERSISA DALAM MEMORIKU , hanya akan hilang bagaikan debu yang diterpa angin…tak setia berada diposisi awalnya..…

Jangan kalian cari kesempurnaan, karena hanya Dia yang memiliki kesempurnaan ….. KITA TAK MEMILIKI APAPUN, BENAR – BENAR TIDAK, SELAIN AMALAN KITA, dan aku telah melanggar janjiku dengan_Nya,, tak lagi ada memori yang tersisa untuk menyelipkan untaian – untaian cinta_Nya,,, atau mungkin ini karena kelalaianku, hingga Dia menghilangkan satu persatu ingatanku terhadap dunia ini…

Jaga untaian itu baik – baik, walaupun aku tak ingat apa aku pernah mengajak kalian mengeja bait- bait indah itu.. aku tak ingat apakah kalian yang mengajakku mengulang bait- bait itu, ataukah orang lain..ah..sudahlah…

Maafkan aku,, mungkin saat kalian baca surat ini, kamboja sudah memenuhi rumah baruku .. ^_^

TERIMAKASIH UNTUK DOKTER – DOKTER YANG BERBAIK HATI DAN TAK MEMANDANG STATUS SOSIALKU SAAT MEMBANTUKU TETAP TEGAR, PERAWAT- peratwat YANG BEGITU RAMAH SELAMA AKU MENJALANI KLISE TERAKHIRKU……., MEREKA DI SEKITAR RUANG PUTIH INI YANG SAMA SEKALI TIDAK MEMPERSOALKAN DARI STRATA MANA AKU BERANGKAT UNTUK MENETAP DISINI, juga kalian yang menyakitiku secara tak langsung dengan cacian dibelakangku yang semuanya kuketahui lewat mimpiku, dan ternyata memang benar adanya,, aku tetap menguras sel – sel  otakku agar bisa mengingat kebaikan kalian, agar tak ada benang- benang dendam yang mencekik leherku dihari – hari terakhir ini..

di Tetes – tetes terakhir air mata yang kumiliki, dan memori – memori yang masih tersisa tentang kita…….

Derai kamboja bukanlah akhir dari sebuah kisah, akan ada hari baru, yang benar – benar abadi…, hanya Dia, hanya Dia , hanya Dia yang memiliki segalanya…

Dedicate to…. My self,All of You, all of you, all of you..
untuk calon- calon dokter…
untuk kita yang masih memiliki daya ingat kuat…
kita harus menang, harus mampu memelihara bait – bait indah itu, meski harus melangkah tertatih..
seumangat!!!!

catatan lama, 1 november 2009

Iklan

6 responses to “surat terakhir dari si penyakitan (hanya sebuah cerita)

  1. Subhanallah,,,,,,,,,,tetap semangat

  2. wah serem juga ceritanya
    bikin sedih nan deg degan
    T_________________T

    knapa…..
    klao sahafira lagi sakit…
    cepet sembuh yah
    jangan mau kalah dengan penyakitnya
    SEMANGAT!!!!!!!

    di tungu yah kunjungan baliknya

    • 😀

      lhaa..itukan udah dibilang diatas,,hanya sebuah cerita..
      hanya sedang membayangkan gimana perasaan seseorang yang sedang sakit parah dan ternyata org2 terdekatnya justru ga menganggap dia ada..padahl selama ini dia adalah org yang mereka banggakan, meski mereka ga pernh tau

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s