perang kosong

Hari yang cukup menyenangkan untuk memanggang seluruh kulit. Tak ada angin, namun debu – debu terbang sendiri, berotasi tanpa ada sebab akibat. Dunia yang aneh.

Langitpun berwarna aneh, tak biru , tak abu –abu, sukar kuabjadkan warnanya disini, aku terlalu bodoh hanya untuk mengenal sebuah warna. Ya, aku dipanggil sibuta. Tak hanya warna saja, mataku memang lenyap tak jelas kembaranya, tak lekas pula picingkan jika terbilas kilau mentarai yang hadirkan silau dimata beberapa.

Aku lupa bagaimana aku harus jujur pada dunia, toh dunia yang kukenal penuh kepuraan, tak ada yang sejatinya tulus, tak ada jujur yang terutus, hanya dusta sajalah yang berkeliaran menetas. Hei, angin, kau lari kemana beberapa purnama ini,kenapa tak sedikitpun dingin gelitiki sendi –sendi rapuhku. Padahal aku bukanlah sosok muda nan kuat, aku inilah generasi terakhir yang tersisa, sirenta yang tak lagi mampu klasifikasikan wajah penipu dan sang malaikat. Semua sama saja, sama saja bertopeng.

Hei, kalian juga para bintang, kerlip redupmupun tak kutemukan, kemana kalian lari, rinduku lindap begitu saja, aku rindu ketiadaan yang sekarang hadir. Ketiadaan kebodohan yang mendadak jadikanku sosok tercerdas. Tercerdas membaca perdu – perdu kebodohan yang tercetak rapi dalam hari berikat tahun ini. Atas sebuah penghianatan terhadap tanah lahirku. Ah, aku ingin mati saja.

Kami diusir dari gemerlap duhai kawan, angin, bintang, bulan, semuanya, dan hanya para debu saja yang tersisa. Bukan kami lari, tapi tak daya lagi susuri keanehan yang menggila didunia ini. Tak punya suplai senjata tuk bungkus mereka dalam kuburan.

Hei, hei betapa bodohnya kalian ini, kau angin, hembuskan saja segala yang terbentang ini, ikat para debu, serang mereka para penghianat, dan kau pula para bintang, bombardir saja mereka dengan ragamu, turun saja segera dari langit, cepatlah sebelum datang fajar yang saban hari mereka bakar. Bakar dengan sampah kelakar.

Tak usah undang ragu duhai kalian, biar saja aku sama terburai, demi tanah yang tercerai, biar saja aku menetap berpintu nisan asal mereka binasa semua.

Hei, lalu siapa teruskan tonggak sejarah?

Ah, lagi – lagi aku lupa, terserah kalian sajalah, aku hanya ingin mati terhormat, percuma renta sendiri

banda aceh, 18 februari 2010

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s