kuceraikan bayanganku, (entah prosa atau bukan)

iris lagi, teriris lagi, terurai lagi,

beberapa kali kusinggahi rumah yang sama, rumah beruangkan rindu yang nyaris sama seperti yang kutempati. banyak kursi kosong didalamnya yang tak terisi sosok, hanya sesekali bergerak sendiri menuju bayang – bayang batang, mengarah sesekali mengikuti potongan matahari yang selip diantara gorden – gorden tipis.


bangku – bangku yang menanti sosok datang dan cicipi kudapan hangat nan nikmat tersaji diatas rekan setia , sang meja. lalu hadirkan celoteh kebersamaan antara orang – orang yang disebut keluarga.


beberapa kiriman sajak salah alamat justru hentakkan sunyiku, aku masih diruang sunyi, namun bingar celoteh para sosok rindu kembangkan telingaku menangkap isyarat bisu.


bisu? bukankah kau bilang mereka berceloteh.

Ya. mereka celotehkan bahagia dalam suara yang tak terlisankan.

tak kumaksudkan kantongi air mata lagi, sungguh tak ingin ada bulir bening beraroma emosi hadir diruang terakhirku berpijak. aku tak sanggup jika harus hadirkan benci serupa dihati yang selimutnya baru saja kukadokan.

namun aku, adalah aku, bukan bayanganku.

apa maksudmu?
sudahlah lupakan, tak usah usik diamku, aku suka dengan ruang ini

ingin kuseka air mata bayanganku didepan sana, beberapa senti, yang sedang merunduk menatap butiran pasir, bayangan yang pisahkan diri karena tak mau kuras air mataku.namun ternyata celoteh bisu itu gegaskan tangisnya meluncur ikatkan pasir – pasir,
bukan tangisku.

tapi dia bayanganmu??

ya, sudahlah dia tak mau bersamaku, dia terlalu sempurna untuk menjadi bayanganku, karena aku terlalu hina, bahkan untuk sepotong kata bahagia.

izinkan aku pergi.izinkan aku kembali keruang yang berisi kerikil cantik terukir rapi. tanpa cadas. ruang keluargaku.

selamat tinggal, dan jika lamarankupun masih kau tolak, ok,
kudo’akan gembok kerasmu berkeping hancur agar tak lagi ada wajah lain yang kau lahirkan tangis seperti bayanganku

1 februari meureubo hardvard, Banda aceh
pintu rumahku tersenyum manis, mengoyak rinduku
lagi – lagi langsa mencuri perasaanku

Iklan

2 responses to “kuceraikan bayanganku, (entah prosa atau bukan)

  1. Speecless berpuluh-puluh detik ketika usai baca tulisnnya yang satu ini. Entahlah, seperti bisa ikut merasakan rindu yang menyeruak masuk ke dalam kalbu, rindu yang tetap pada eksistensinya, namun lupa pada aplikasinya… walau mungkin cerita rindu pada kita berbeda.. hehe..
    Salam kenal, makasih sudah bertandang ke blog saya dan meninggalkan jejak di sana.. ^^
    -salam, Ang-

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s