biarkan sastra sambut februari

malam menjelang hari baru dibulan baru

Diluar sana pekat mulai merambat gugurkan satu demi satu garis – garis matahari. meski bundar bulan hadirkan cahaya berhias kerlip bintang, namun tak cukup terangi abjad – abjad yang ingin kusantap.

kupilih ruang rehatku yang masih hadirkan sinar dari asbes berhias lampu panjang yang dengungkan pula syair panjang menjaga malam agar tak lelap sempurna. jangan sampai ada tasbih yang terlewat begitu saja.

baru saja aku selesai membaca dua potongan novel gratis yang belum dijilid dan dilempar kepenerbit disalah satu catatan temanku dinote fb berbeda. novel pertama dihiasi prosa yang sungguh mengagumkan, alurnya terbaca berat dalam bahasa sastra sang penulis yang sangat luar biasa. bagaimana suatu pesan yang sangat sederhana namun jika dipaparkan secara lugas justru akan sulit diterima, dipaparkan dengan keindahan bahasa yang sungguh menghujam dan INDAH dalam rahasia dibalik abajd – abjadnya.

urung kupejamkan mata saat satu potongan lagi dipaparkan, namun dengan rasa yang sungguh bertolakbelakang, bahasa ringan namun hadirkan tangis diakhir alur.

aku favoritkan yang pertama, ya, aku suka bahasa tinggi seperti itu, seolah dilempar kedala istana pujangga,bahasa nyaris mencakar langit. aku sukaaaa bahasa yang hadirkan makna tersembunyi, ikatkan indah dan putar kepalaku berfikir lebih dalam akan maknanya. misteri kata – kata

dan aku masih bincangkan ragam kisah bersama sahabat lama hingga potongan novel habis kulahap, bahasa sederhana memang mampu lahirkan terang dengan mudah dalam hati pembaca, tapi jika aku dihadiahkan dua potongan ini secara bersamaan maka yang akan kulahap habis diawal adalah yang kantongi segudang misteri dalam a b c d nya.

aku butuh pengasah fikiran, butuh fantasi dari diksi yang tertuang, butuh kekayaan abjad terangkai, karena aku ingin lanjutkan mimpi. mimpi membangun peradaban yang sekarang sedang menanjak , namun masih lindap. masih kurekan erat, siapa yang menanjak cepat maka dia juga akan gegas meluncur.

ya, tanjakan demi tanjakan akan lebih kuatkan pondasi, dibanding mulusnya alur yang seret kaki terpelanting.
inilah sastra dan akupun mulai jatuh cinta lagi, setelah beberapa purnama kehilangan jejak, hanya karena diksi para penghujat sastra yang kikis rasa pada masa putih biru dikota kelahiran , meski tak berjarak tahun cahaya.

dan untuk meringankan dan melepaskan sarafku yang sedikit terkusutkan, kupilih beberapa potong puisi dari para penyair malam yang tak lalai lahirkan sajak setiap malamnya. sering kuikuti bait – bait mereka hingga aku terpana tak tahu harus bahas apa, karena bahasanku masih jauh dibawah tangga mereka. dan malam ini mereka lahirkan bait – bait sederhana dari rahim tangan mereka, bait – bait yang membuatku terjaga,
dan juga lahirkan rindu yang kian menusuk

ditemani secangkir kopi, kutantang pekat malam ini agar beberapa abjad dan tangki – tangki aneh dalam rancangan mampu kuterkam, sembari menunggu fajar..

meureubo Hardvard, Banda Aceh
1 februari 2010

00.sekian

Iklan

2 responses to “biarkan sastra sambut februari

  1. hemm..memang cocok menjadi filsafat nih kalau seperti itu mba… tapi itu semua harus dilandasi oleh keimanan kita juga, jangan sampai kita suka pada kata2 tinggi, tapi tidak memikirkan tentang penciptaan diri kita, bahkan itu semua lebih menarik lho mmbaa untuk dipikirkan…
    ^^ salam hangat dari bandung

  2. iyaaa, memikirkan semua itu akan lebih menarik, sangat menarik bahkan…

    ^__^
    salam hangat kembali dari aceh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s