Monthly Archives: Februari 2010

ekspresi puisi cinta satu bait

*Candu Cinta*

oleh shafira green sulaiman


Mengingat-Mu satu  candu  lahirkanku sakau

akupun memeluk bait demi bait rindu

dalam ayat- ayat-Mu pelongsor resah

sesekali tenggelam bersama hijaiyah

lalu rebah rindu terpapah

: dalam sepertiga malam penuh kisah


(Banda aceh, 28 feb 10)

note : diikutsertakan pada lomba aliaz ekspresi puisi cinta satu bait

Iklan

lihatlah sekitar, dan bersyukurlah…

angin masih hadir tipis- tipis, tak cukup usir peluh hari ini. panas diluar sana turut uapkan suhu ruangan ini. aku masih bisa mendengar desau diluar sana, bertemu dan bercengkrama dengan para dedaunan, daun – daun pisang yang pecah terkoyak dan juga beberapa lembar daun belimbing yang mendarat diatas coklat tanah.

inilah hidup teman… kita tak pernah benar – benar sendiri, jika tak ada manusia disekelilingmu detik ini, lihatlah diluar sana, makhluk – makhluk-Nya yang lain masih setia disekeliling, hadirkan celoteh yang lebih indah dari pada manusia sendiri, lihatlah mereka yang senantiasa tasbihkan keagungan Yang Maha Kuasa, sedangkan kita para manusia? ah, kurasa tak lupa ceracau sendiri mengeja keburukan orang lain yang sama artinya eja keburukan diri sendiri.

masih ada denting kebaikan yang bisa kita ikuti bersama, larutkan diri dalam melodi indahnya, melodi yang tertunai dari sebuah tutur baik, bukan sebuah umpatan. lihat lagi diluar sana, perang air dan batu disepanjang kali percikkan satu satu sisa air dan hasilkan padanan musik alam yang kian menawan. obat penegar hati yang cukup setia, lihat pula disekitarnya dedaunan hijau masih meliuk bersama nyiur, juga harum melati dan mawar yang usik indera penciuman…

masuklah kemimpiku teman, aku berjalan mengelilingi rimba, coba temukan zamrud, tapi  kusandarkan kepalaku pada batang – batang ilalang, . ahai, mengapa sedemikian jauh zamrud yang terambil?

karena ini yang kubutuhkan, ya, karena kita sering lupa mengeja syukur atas segala genggaman, genggaman yang nyatanya kita butuhkan , bukan sekedar permintaan hasil rapal berulang yang tak juga lahir didepan jendela.

ingatlah baik – baik duhai teman, aku bukan seorang hebat berkuasa ataupun adikuasa, aku hanya tak ingin terlalu larut dalam adonan keinginan yang bercampur bisikan setan, lihat dan syukuri saja rezeki yang hadir padamu, karean sungguh dia yang mampu membaca kebutuhan kita sesungguhnya, bukan kita sendiri yang sering buta terhadap dunia..

lihat dibawahmu teman, masih banyak yang jauh dari tangga teratas hidupmu..

dan aku akan menebas senja ini, baringkan kepala disisi ilalang, biar saja aneh, tapi aku butuh rehat sejenak, dan sekarang aku akan melangkah kepadang ilalang, hilangkan penatku..

banda Aceh, setelah ashar, 26 februari 2010

Aku masih ditikam rindu

mendadak aku sungguh limbung

rancangan pabrik kertasnya menggulung

melingkar disepetak ruang

dan akupun larut dalam dendang ilalang

: aku masih menanti senja


salahkah aku menaruh rindu

pada jiwa yang terlanjur beku

:aku ingin pulang saja


sesiang ini tak kutemukan pula lirik rindumu

tertoreh diatas debu – debu

: kuharap ianya dihalau angin, bukan karena alpamu


kucoba genggam alamat bahagia yang tersisa beberapa abjad

kubaca kuyu

tak lindap rindu didirimu


duhai tanah lahirku

:aku ingin pulang saja

disini aku terlalu kejam

tak bernurani

dan akupun mati sendiri


duhai , alamat apa ini

kusimpulkan aku ingin kembali..


banda Aceh, 26 feb 2010

saat rindu kota lahirku kian menghantam

post disegala alamat

abjad ruang gelap

gelap balut semua terang

sisakan berkas sinar dari potongan cahaya rembulan

pun bintang sesekali hadirkan kilau

lalu dititik diam ini

aku meraba kegelapan yang terbaca bisu

tak tau eja braile dalam dimensi ini

bahkan jemaripun terasa kaku

penggalan hidup deraskan lagi jejak rimba

luruh satu demi satu dalam sajak rinai malam ini

dan cerdas pula tertangkap telinga beberapa rapal yang kerap termelodi

lalu diam tetap kupilih sebagai pesan

entah itu kehidupan atau justru kematian

kutebas kepala kegelapan malam ini

bersama hunusan pedang suara

pecahkan seluruh sunyi

dan gemparkan semesta

ya, aku tetap tak bernama

banda Aceh, 23 februari 2010

saat listrik padam total diseluruh penjuru

stop “menunda”

Asli, kesal kelas hiu, giliran dibutuhkan siprinter malah ngadat sangat. Walah, konsul perdana bakalan runyam kalau gambar flowsheet ini urung diprint, dan jika pagi-pagi  buta harus menuju rental, what?? Wah pergeseran jadwal lagi artinya..oh..no, no,…

Mendadak printer membisu

Kumat membeku tanpa tutur

Tanpa cetak aabjad terrekam

Oh, kau, kenapa lahirkan gugup

harus konsul perdana tertunda seminggu

haruskah berakhir lagi disudut sabtu

Yah, inilah tulisan yang lahir dari kepala yang mendadak mumet total, gambar flowsheet rancangan pabrik masih belum jelas rimbanya, masih harus diedit, tapi siprinter malah berulah.fokus terpecah belum lagi tulisan yang deadline nya sudah mengetok –  ngetok pintu. Bisa gagal ikutan lomba ne…

Padahal dua hari yang lalu siprinter masih baik – baik saja, tanpa kediaman apapun, masih mengeluarkan deritnya, bahkan lancar mencetak abjad, walah bener- benerlah, DILARANG MENUNDA PEKERJAAN. Ya, inilah yang saya petik.

Seingat saya dulu ketika selesai seminal hasil research, yang berulah adalah mr.laptop, subuh saat laporan research mau diedit , eh malah laptop hadirkan layar biru plus beberapa tulisan putih yang menandakan kondisinya tak normal, sampai – sampai silaptop harus dibedah, dan tentu saja menguras biaya ekstra berwujud pergantian hardisk yang kedua kalinya. Oalah ne benda sudah membangkrutkan saya diawal tahun. Baguus..cukup dua kali saja ya, kalo ketiga kalinya anda harus saya talak.

Satu hal yang membuat saya merenung agar tak lagi menunda pekerjaan saat itu adalah data research yang belum terselamatkan ada dilaptop dan laporan hasil deadlinenya sudah didepan mata. Wajarlah kalau dalam seminggu dibulan januari itu saya  mendadak menjadi manusia dalam kelas emosional tingkat tinggi. Padahal sehari dua hari sebelumnya sudah hadir niat agar segera memberesi laporan tersebut, n then….saat galau benar – benar sudah mencengkram hari demi hari akhirnya setelah dicek ulang masih ada pertinggal data dilaptop parnert, syukurlah jika tidak itu artinya saya harus mengetik dari awal. Bukan pekerjaan yang mudah, bisa gagal nilai tercetak diKHS  semester kemaren. hiks, ga jadi bayar spp setengahlah kalo gitu.

dan ternyata sianeh ini mengulangi kesalahan yang sama, dua hari yang lalu ingin segera mengprintkan beberapa bahan tambahan untuk rancangan pabrik, tapi urung dilaksanakan karena beberapa potong kemalasan menghidupkan printer, dan akhirnya harus mencari rental terdekat untuk mencetak beberapa abjad, dan juga gambar – gambar tangki.

ok, sekian dulu, harus bergegas menuju rental, (mana ada yang buka jam segini), ya, beberapa saat lagilah, mudah-mudahan.

pokoknya mulai sekarang sekecil apapun planning harus segera dilaksanakan jangan sampai ada alasan yang ujung- ujung berefek planning gagal total.

23 februari 2010

banda aceh, pagi yang masih sunyi

mengenang 12 tahun lalu, saat sang pahlawan pulang

sejumlah penat benar – benar hadir hari ini, lha ini kan week end sist? ya, mau bagaimana lagi, bayangan rancangan pabrik masih setia hadirkan potongan tanya, kapan pulang, kapan pulang, kapan pulang? 😀

hari ini tepat 12 tahun kepergian seorang pemimpin keluarga, tepat 12 tahun lahir para yatim disebuah rumah  dikota kelahiran saya : kota langsa, dengan bungsu yang kala itu masih berseragam putih merah. sibungsu yang mencoba menjadi sosok paling tegar, bahkan saat gedoran pintu dikisaran pukul 3 dini hari, hanya beberapa tetes air mata yang terjuntai, ya, hanya beberapa saja.

entahlah sudah berapa lama airmata itu sisip ditabungan kelopak, hingga hari ini ternyata sebuah kesadaran lahir, beberapa tetes lama itu hanya kepuraan, : sembunyikan duka lalu pancarkan tegar, agar tak perlu pula seluruh kerabat usap air mata sibungsu. cukuplah duka sama kita rasa.

mozaik senja dan petang selalu menjadi milik berdua bersama sang ayah. kota langsa yang seberapa lebar terjelajahi bersama, kerap dengan sepeda ataupun sepeda motor. namun lebih dominan sepeda yang dikayuh perlahan oleh sang ayah demi menjaga agar anaknya tidak celaka.

ruko demi ruko dijelajahi, pajak pisang dideretan Ampera menjadi salah satu lokasi ramah, lalu beberapa ruko ditoko depan, jejeran toko buku dan mainan. sesekali sibungsu merengek minta dibelikan mainan, ya, meski hanya sejumlah hitungan jari. tak masalah tak ada buah tangan apa – apa, asalkan senja bisa tercipta dalam senyum bahagia.

ya, asal bahagia sibungsu tak dicegat kakak lainnya, tak ingin fotokopi sang ayah ini kehilangan kebersamaan bersama sang raja, sang pahlawan.

beberapa hitungan angka bulan, sang ayah mengunjungi sekolah mengajak keliling lagi dengan sepeda, menuju dokter gigi, tak lelah dirasa, padahal jarak terlampau jauh, tapi tak soal apapun baginya, demi sibungsu.

saat vespa masih menjadi harta titipan, saban minggu kuala langsa menjadi tujuan, tak lupa sekalipun, meski lelah oleh oleh lembur sekalipun. dan mata sibungsu semakin terpana dengan bakau yang memukau, hijau disepanjang jalan , bayangan pinus atau cemara yang sulit dibedakan sibungsu hadirkan juntaian melodi kecil, tebas angin yang menampar muka, dan jalan kian riang tecipta.

dan 12 tahun yang lalu sepetak tanah dikawasan blang paseh, kuburan keluarga yang berada tepat dibawah jembatan kecil, berdampingan dengan gudang barang yang acap digunakan untuk lahan qurban pada idul qurban, menerima penghuni baru dengan senang hati, tak riuh, tak usil. dan sibungsu yang ditarik sang paman akhirnya menyaksikan sendiri dengan mata kepala bagaimana sang pahlawan pulang kembali kepada Sang Pemilik. yah, kita sama dititipkan satu sama lain.

satu sesal yang masih hantui sibungsu, tak ada kecupan dikening sore sebelum jengukan terakhir dirumah sakit kota langsa, saat rekan sekamar inap, mengganggu sibungsu dengan ledekan kecil yang tak bermakna apa -apa, sayang sibungsu terlalau pemalu, hingga semua hanya terbungkus dalam kenangan, kecupan terakhir hadir saat jasad sang pahawan terbungkus kafan..

pelayat banjiri rumah sederhana berhalaman kecil di kp. meutia kala itu,  pun saat tahlilan semua sama banjiri halaman, tak hanya rombongan warga kp.meutia, beberapa rombongan jauh, dari sigli, simpang tiga, sampai beberapa dari desa yang sibungsu tak hapal namanya.

juga para rekan SD muhammadiyah yang berhambur menuju mesjid saat menangkap bayangan sibungsu  disana kala jenazah dishalatkan. berpetak – petak kekuatan disodorkan, yah, sibungsu mampu sembunyikan duka, hanya beberapa tetes saja meluncur.

dan kini, sibungsu mungkin tak sehebat sang ayah yang kian hari kian lapang kuburnya, kian memanjang hingga hadirkan takjub sahabat karib, pun sibungsu juga begitu.

lalu hantaman hadir satu demi satu, semua pengikut lenyap , hilang entah kerimba mana, dan sisalah para yatim yang tak jelas arah, hanya berbekal beberapa petuah agar tetap sabar dipasang. meski lahan dijajah, dan dikirimi sampah, namun sabar hadirkan sang penegak, muncul satu satu dari samudra yang tak bisa diberi nama, lalu kicaunya lenyapkan semua pengganggu.

duhai ayah, maafkan anakmu

tak mampu sering ziarahi kuburmu

hanya do’a terlantun dari jauh posisi

terlantun berikat pilu

tegar..tegar.tegar..jagan hadirkan tangis saat kepergian hadir didepan mata, yah, itu pesan terakhirmu untuk beberapa kepala penghuni rumah sederhana dikampung meutia itu, rumah yang selalu hadirkan rindu, rindu bersuamu

dan ternyata tegar yang kupasang 12 tahun lalu, palsu, gugur semua setelah 12 tahu, tak hanya bulir, namun liter terhitung bening hadir.

21 februari 2010, Banda Aceh

berharap lekas sapa langsa, ketuk pintu kp.meutia dan gegas pula lewati pagar kawat kuburan keluarga

sajak untuk kota lahirku : Langsa

rindupun kian terulur
lahir ber-ikut sajak lapar
dan berabjad namapun lahir tanpa terbawa semilir

jejak bala – bala jedakan mimpi
pungut potongan tersisa dalam alunan melodi
lalu susun berikat temali
: temali sepi

tersisa pula
se-bambu runcing monumen
ceritakan bait – bait lampau bernama kenangan
tersisir begitu rapi lalu jatuh dalam cangkir harapan
: berharap segera gelar terangkat dan kado pulangpun terhimpun

kilas masa papan kapur jemput beberapa bintang singgah dikoridor
bagi sama rindu berantai jujur
dan sama kita icip masa – masa silam
biarkan bayangnya gegas pacu semangat…

lalu sajak lahir dari sisa lapar
tak mampu hadirkan bala- bala
hingga demo cacingpun kelar

oh, alpa, hampir saja
beberapa rumah sejarah, potret jalanan, serta tawa yang turut ambil andil

BAnda Aceh
19 februari 2010
saat – saat lapar menjerat, dan yang terfikir hanya bala – bala saja..
lalu lahir diskusi pendek beberapa sahabat…
yang sama nafaskan kenangan dikota langsa..
terimakasih : suri, juli, tata, k era, n zaki