renungan kecil…sungguh kecil

ada yang luput kurekam beberapa abjad, dalam sebuah novel kehidupan karya Sang Maha Kuasa. Sungguh bukan aku hendak menjadi pencatat takdir tapi hanya ingin merekam beberapa pojok hidup yang lahirkan penegak pilarku yang miring beberapa centi.

kau ulangi bait mati? sudahkah surat kematian itu terkirim kepintu rumahmu? seolah kau tau kapan ajal itu datang. hebat sungguh hebat!!!


tidak, sungguh, bukan aku hendak memanggil takdir hadir dimula sebelum masanya, sungguh tidak. Bukan ini yang kumaksud. hanya ingin resapi lebih dalam nikmatnya mati yang selalu dirindukan mereka, mereka yang selalu meninggikan mimpi syahid. sedang aku? aku hanya diam dan berperang dengan nurani pengecutku.pun menegur sosok seimanku sendiri saat alpa mereka pajang rapi, masih kutimbang – timbang, merasa tak cukup ilmu.sungguh aku tak semulia para syahid

cemas ikat erat kepalaku, banting semua saraf didalamnya, putar semua kenangan dosa yang kian melangit. dan..dan..hafalanku, apa kabar dia?? tak rela harus pergi jika tak genap angka 30 itu kubawa serta. dan..dan jenazahku, siapa yang kafankan? siapa yang shalatkan? KAU tanya itu kenapa??

lupakahkau akan pintu kehidupan nyata itu??? kita masih injak fana , namun sangat terlena seolah tak kan mati dekap kita sekilat cahaya.

*****************************

lalu tiba – tiba account lama itu menggelegarkan bait aneh

“mereka kira mereka hebat, begitu lancar kabarkan cela diri lainnya, dan pendengar budimanpun tanpa ekspedisi plus eksporasi lebih dalam hadirkan pula anggukan setuju.lupakah mereka, bahwa pengirim serapahpun kirimkan kejelekan dirinya sendiri? lupakah mereka sosok setampan itu hancurkan wajahnya sendiri dengan serapah, dengan ghibah? lupakah mereka Allah akan membalas semuanya?lupakah pertanggungjawaban esok disana, dipadang perkumpulan seluruh manusia?”

ya, aku setuju kawan, kali ini diskusi kita sungguh mengenyangkan batinku, sejak sesaat sebelumnya dilanda lapar dialog , dan kau pun hadirkan lagi kisah nyata, kisah pilumu, dan juga bisik – bisik episode ba’da mati. tak kusanggka sahabat lamaku, kau ternyata muncul tepat disaat koleksi abjadku hampir habis, dan kuamini pula, jika apa yang mereka kabarkan akanmu memang nyata adanya, biarlah Allah saja yang ganti semuanya. tunggu saja Allah buka aib mereka nanti, pada saat yang tepat.
dan kau, sama kita suarakan, menutupi aib saudara sendiri agar kelak dipengadilan tinggi yang nyata, aib kita pun dihijab oleh-Nya…

selamat bertugas kawan, aku rindu kau., rindu masa2 SMP kita….

dan terakhir….

bahwa aku manusia tak perlu kau rendahkan dirimu serendah itu…… aku tak suka disini”

tidak, bukan aku ingin rendahkan diriku, aku hanya meminjam beberapa gelar istimewa para kekasihnya, tak ingin setan undang karibnya lebih banyak lagi, hingga pilar kita sama robohnya… siapa bilang aku merendah???? aku hanya lalui cara yang diajarkan guru2 hidupku, mengeja alpa dan hadirkan bait – bait sejuk tuk lepaskan alpa. ah, tapi aku lupa kalau kita berbeda,
ya, sungguh aku lupa. tak bait dongeng lama (dalam versimu) mampu kau dengar lagi. kau bilang semuanya bualan panjang, dan tak nyaman harus muntahkan makananmu hanya karena bualan.

ok..kuhentikan langkah, tapi aku genapkan usahaku dulu, dan titik hujung itu, kuserahkan semua pada-Nya, dalam rabithah berulang yang takkan putus. dan semoga bukan kisahkan abjad serupa…

meureubo hardvard, Banda aceh….
menit – menit sebelum memulai flowsheet digambar ulang..



Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s