senja kadokanku bahagia

Aku lahir bersama senja dua pulah dua tahun silam. dibawah langit berhias kebahagiaan, langit jingga yang selimutkan ragaku, pun juga hadir siluet lengkapkan indah senja kala itu.Hadir bersama peluh perjuangan seorang ibu, dan juga bait – bait do’a keluarga terpilih. Ya, aku sebut mereka orang – orang terpilih, karena nyata aku dititipkan dalam lingkaran mereka.

Lahir dalam kondisi yang begitu memprihatinkan dan juga ekslusif menurutku, premature dengan harapan hidup yang sangat tipis. Bahkan wajah – wajah teduh itu sudah memasang rela jika nyata yang dapat digenggam adalah kepergianku saat itu juga.

Selang – selang menghiasi tubuhku, hidup dalam kotak kaca selama beberapa lama, kurang dari sebulan, suplai makanan pun tak mampu lalui suapan ibu, selang – selanglah yang otomatis gantikan sejenak.

Dan saat bayi mungil yang hanya seukuran termos kecil dimutasikan kerumah titipan-Nya didunia, ternyata ekstra peluh harus kuperas dari keluarga besar, tak sedikitpun semilir boleh menyapa, ya, kehangatan yang harus ekstra dijaga. Tak kutahu berapa liter peluh dan air mata dikadokan gratis atas kehadiranku.

semilir tipis rasuk sendi – sendiku pagi ini, sungguh kirimkan bahagia bersama kalung do’a yang hiasi awalku hari ini. Ya, meski senja belum tiba.

Sayap ingatanku terbangkanku menembus dimensi, dan aku sungguh terperangkap dalam hayal dimensi sepuluh, berharap menjemput sosok – sosok yang selalu mencuri ruang rinduku.

Dan inbox pembuka sungguh tawarkan gelak tawa dalam sendu yang hiasi hari – hari terakhir diangka 21. Sang kakak hadirkan episode senyum sejenak, yah, meski rindu kian menggedor.

***********************************************

Senja, aku masih menanti sosok manusia oman kembali hiasi ruang gelar kami. Aku masih berharap sejengkal lagi menemukan mereka hadir dikarpet yang sama, diruang hijau yang penuh misteri, penuh kekayaan informasi penuh dengan kalamullah yang terlafaz begitu rapi dan penuh cinta.

Senja, aku baru bisa membaca makna sunyi yang kerap kupilih disore hari, ya, aku sering bercengkrama dengan sunyi sembari tapakkan kaki lintasin alur Darussalam ini. Sunyi yang hadirkan segudang diskusi dengan batinku, sunyi yang paparkan jawab dari Tanya yang setia lingkungi hidupku. Dan akupun terpana saksikan senja yang lamat – lamat menjemput purnama, ah andai saja senja ini tak segera usai. Aku ingin tetap nikmati hembusan kaku angin sore, meski setapak saja yang mampu kusapa.

Kadangkala kutebas senja dengan diam diruang hijauku sendiri, memilih tafakkur dan resapi KeMAhaan-Nya melalui sehelai tipis hijab yang batasiku dengan gerombolan tasbih hijau diluar sana. Sembari lalap beberapa kudapan manis bertabur ilmu dari abjad diatas pelepah daun yang terolah begitu mengagumkan. Kupilih buku sebagai sahabat sembari lanjutkan cengkrama dengan sunyi.

“Tak pernah kunikmati manisnya hidup hingga teman dudukku rumah

dan buku.

Tak ada yang lebih mulia daripada ilmu karenanya aku mencarinya

untuk teman akrab.

Kehinaan itu ada karena pergaulan, tinggalkanlah mereka dan

hiduplah dengan mulia”.*

Senja, padang rumput dikaki langit hiaskan gemerlap hijauku. Ya, meski aku lahir bersama senja, dibawah jingga, namun tak kupungkiri, hijau tetap menjadi acuanku. Hijau tlah rasuki jiwaku, mekarkan bunga – bunga indah yang tawarkan semerbak, jauhkan alam fikirku dari dimensi ini. Semua larut dalam ukiran kenangan dipinggir alam fikir. Dan lemparkan ku sejenak keruang hijau didimensi yang entah dimana titiknya.ruang yang hijau tua warnanya**dan juga sungguh berhiaskan bantal – bantal hijau dan permadani yang indah.*** aku semakin terlena dengan hijau

Kurogoh sakuku, kembali kubuka kotak kecil kenangan bersama sahabat, kenangan indah karunia-Nya, SD kecilku didepan masjid KP Meutia, SMP berpanorama sawah dan pegunungan diBTN ASAMERA, SMA dipusat kota yang masih terus dirombak, chemical engineering yang fantastic, dan hadir tomodachi pernak – pernik indah dihari – hari penuh peluh. Belum lagi segudang bahagia dari meureubo Harvard yang kian menggila.

Senja, aku masih tatap hamparan hijau dibawah jingga, sembari berharap kau tetap hadirkan senyum. Terbitkan bahagia dari celoteh riang para bocah ditaman kecil berhadapan Mesjid sector barat, sembari redakan dahaga keluarga. Ya, senja, kau lupa bahwa hadirmu kerap kumpulkan mereka bersama orang tuanya.. dan juga mereka yang terikat dalam temali pertemanan, sama – sama hadirkan senyum saat kau hadir, kau rangkum duka dan bacakan bahagia untuk mereka.

Senja, sungguh pesona manusia oman belum mampu terganti. Sosok – sosok baitkan rinduku hingga nyaris bulir – bulir perih tak kuasa kutahan.

pikul lagi kecewa segaris
sesama tak jua usir sang tangis
berapa jeda lagi titik tersaut, haruskah darah aliri pelipis?

Aku masih gantungkan harap menemukan kembaran mereka, ah masihkah kau ingat mereka senja? Orang – orang spektakuler yang pernah kuceritakan, sosok yang sama berjuang tegakkan sebuah pondasi.

Senja, aku masih berharap kau hadir hari ini, dengarkan senandungku dalam ruang hijau dan sunyi, senandung bahagiaku atas mereka yang dititipkan hadir dalam sisa – sisa langkahku. Senja, kutitipkan salam cintaku untuk mereka yang telah hadir selama ini, mereka yang membagi tawa, dan juga tangis.

Sepotong harap agar juga sua diruang hijau nanti, ruang berpintu lahat…

Sembari berharap dapat menikmati sepotong senja dikota langsa, meski nyata yang harus kupetik, adalah sabar, dan tetap lanjutkan langkah dibanda aceh..

Meureubo Hardvard, banda aceh, masih dalam kabut dingin

* Qadhi Ahmad ibn Abdul Aziz al-Jurjani dalam La tahzan, Aidh Al Qarni

** QS Ar-Rahman 55:64

***QS Ar-Rahman 55: 76

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s