distilasi rindu

27 desember 2009 , siang menjelang ashar.

begitu banyak deadline hari ini, mulai dari slide show penelitian yang harus benar – benar rampung, hingga bedah kembali rancangan pabrik yang sudah lama kupinggirkan. Sejenak kuistirahatkan kepala dari beban yang kian lama kian menanjak. Menanjak menuju puncak permasalahan, sebelum benar – benar rampung dalam kata ‘berakhir’.

Kondisi meureubo A6 diambang sepi. Like this, aku butuh ketenangan untuk berpikir, banyak literature yang harus ditela’ah, dan buku – buku tokoh islam, buku yang membahas kisah – kisah tabi’in menjadi pilihanku hari ini.memang tidak semua mampu kulahap hari ini. Setidaknya ada beberapa tokoh yang hari ini kuteliti sejarah kebaikannya, sedikit berharap bisa seperti mereka.

Jam satu siang lewat beberapa menit. Bersama teman kosku, kami habiskan siang yang sejuk ini dengan melihat salah satu tayangan ditelevisi. Kepalaku memang sudah penat, batal keluar untuk sekedar melihat teater diRRI, dan agenda keluar lainnya pun harus dicoreng dari list jadwalku untuk sementara.cuaca kurang mendukung. Angin memang tidaklah terlalu menusuk, tapi gerimis yang mendadak menjadi raksasa, membuat kuenggan keluar untuk urusan – urusan eksternal hari ini.

Mataku terpaku, melihat penampilan seorang finalis diacara pemilihan bintang cilik televisi. Seorang bocah yang harus menopang hidup keluarganya dengan berjualan roti. Seorang anak yang harus ditinggalkan sang ayah dalam usia begitu muda.

Hatiku seakan teremas, memori lama ini mencuat kembali. Bagaimana aku harus hidup tanpa seorang ayah dalam kondisi masih sangat memerlukannya. Semalam aku juga membaca note difb dari seorang teman kampus, note untuk ayahnya yang meninggal saat musibah tsunami bertamu dinanggroe aceh Darussalam. Dua episode ini benar – benar menghadirkan memori dipenghujung ujian caturwulan saat aku masih duduk di kelas 5 SD.

Penyakit yang tak kunjung berkurang menggerogoti sosok yang acapkali disebut masyarakat fotokopi ku.ya, aku senang mendengarnya. Aku memang anak ayah,.lebih condong bersama ayah dari pada ibu. Lebih dekat dengan ayah yang setiap sore saat aku belum sekolah selalu membawaku keliling kota langsa, hal yang sama setiap harinya. Namun tak sedikitpun beliau bosan mengitkuti kemauanku, dan entah kenapa akupun merasa menikmati rutinitas harian ini.

senja, aku masih ingat setiap pagi minggu, saat masih berusia lima tahun, setelah film vicking ditelevisi, kita selalu berangkat menuju laut.ya.. laut yang kita senangi. Meski hanya pohon – pohon pinus atau cemara yang kami lihat saban hari, tapi hentakan jalan yang naik turun setiap kilometernya, juga angin yang menampar muka, menjadi keasyikan tersendiri, dan yang membuatku merasa nyaman adalah pelajaran yang kerap beliau sisipkan dalam detiap deru vespa kesayangannya.

Dan kepergiannya membuatku enggan menatap laut lagi. Cemas bulir – bulir bening tak bisa kubendung.perlu waktu lama bagiku untuk menerima tawaran teman – temnku menyusuri pantai bersama, aku lemparkan saja alasan bahwa dilaut susah shalatnya, jarang sekali ditemukan mesjid, kalau pun ada tempat wudhunya terbuka, dan untuk urusan yang satu ini aku akan menang jika membeberkan alasan tersebut. Senja, Bagaimana mungkin bisa ku kembangkan senyum menatap laut, sedangkan gemuruh hatiku melebihi ombak laut. Bergelut dalam kenangan yang takkan mampu luput. Dan galian kenangan itu kian dalam.

Senja, memang benar, segala sesuatu akan berlangsung sesuai kadarnya. sekarang perih itu lenyap perlahan,(meski sedikit) tetap kuberanikan mataku menatap laut, ya, kutangkap ada cinta disana. Cinta laut untuk Sang Pemilik Semesta. Cinta yang kerap hadir dalam tasbih ombak, pasir – pasir yang tercelup air, dan biota laut yang memiliki keindahan luar biasa yang tak alpa bertasbih memuji-Nya,

senja, aku masih ingat saat pura – pura tegar dihadapan pelayat, tak satupun bulir kubiarkan hadir, namun aku lemah, saat sahabat disd menangkap keberadaanku dimesjid, hamburan kata penguat mereka justru bulirkan mutiara bening yang kutahan kuat – kuat dan akupun menangis dalam pelukan ibu guru.

Senja, aku ingat teguran ayahku saat aku khilaf memanggil sikakak dengan sebutan tak layak, masih terekam semuanya, yang menjadikanku enggan memanggil mereka pun orang lain dengan teguran tak layak,meski kerap ku digelar dengan gelar-gelar penyayat hati. Beliau bariskan kami berjejer dan ikat kami dalam setali janji agar tak ulangi khilaf yang sama.Yah, aku tetap bertahan, mencoba jalani semuanya. Karena aku yakin kelak dipadang mahsyar Allah akan memanggilku dengan namaku sendiri

*******

30 Desember 2009

senja, kembali mataku menangkap tayangan yang sama tentang kisah rindu seorang anak terhadap ayahnya. Gigiku gemeretak, nafasku berat, terputus sepenggal, dan kucoba tahan semua gemuruh ini.

senja, rekan – rekan kita yang mayoritas berusia diatasku setahun membicarakan kembali masalah dunia baru itu. Masing – masing punya target,haha, aku tertawa sendiri mendengarnya, satu – satunyaya yang belum punya target kearah itu hanya aku,dank au.. ya , kita sama –sama pribadi yang tak gampang luluh.dan aku tidak akan luluh sebelum menemukan sosok yang mirip dengan ayahku, mirip prilaku dan kebaikannya.,

senja, kamu ingat tidak saat kita sama –sama menolak dengan gaya pura- pura tidak tahu setiap kali karib – karib yang lain menyebutkan beberapa orang agar kita mengikuti gagasan mereka, padahal mereka juga belum masuk kejenjang itu, dan sampai saat ini hanya terbuai janji – janji semu.kita sepakat bahwa itu bukan lah prestasi, bukan semudah membalikkan telapak tangan. Ada konsekuensi berat yang harus ditanggung dikemudian hari, dunia dan akhirat. Buat apa hanya mengandalkan prestasi yang dimata manusia begitu wah,namun belum tentu sama dengan pandangan Dia.

Senja, aku rindu semua kenangan bersama ayahku.

Masih ada setitik harap agar saat itu tiba, ayahlah yang menjadi waliku, bukan orang lain, aku tak tau kualitas ibadah mereka, aku takut dengan tandakiamat yg disebut teman smpku dulu.semakin banyak zina terhormat, mereka yang dinikahkan oleh wali yang tidak paham dan menjalankan agama dengan baik (aku lupa istilah yang dia sebutkan). Senja, aku takut, takut sekali, tak jarang bisik aneh itu membayang, berharap mati sebelum memasuki jenjang itu, namun jika kuingat setengah dien , dan setengahnya lagi hanya dengan taat dan berbakti, sedikiit iri membayangiku.

senja, berkali – kali kunaiki tiga lantai teknik kimia itu, dan aku memang lebih suka sendiri, aku tak mau orang lain terganggu dengan egoku karena sindrom aneh yang acap muncul menjelang agenda besar. Aku tak mau diganggu, dan aku pun memulainya dengan tidak mengganggu mereka. Dan akhirnya dengan kekuasan-Nya, petinggi-petinggi itu berhasil kutemui, dan benar-benar rahasia shalat hajat itu tersingkap hari ini, juga kekuatan surah Ar-Rahman membuka tabir-tabir aneh yang semula hadir. Jadwal yang tiada kosong tiba-tiba rela mereka geser dengan senang hati.

Oh ya senja, taman diskusi kita berpenghuni kembali, meski dengan raut baru yang tak tau apakah akan bertahan atau tidak . mereka mengkaji juga apa yang sama – sama kita kaji dulu, aku senang senja, gubuk rindu itu kini tak lagi sepi

Senja, maaf jika aku terlalu banyak ngoceh, aku hanya tak ingin kau menganngapku melupakanmu. Dulu aku sering lupa membagi kisah ayahku, pun kau juga begitu.

Senja, saat aku masih sekitar 4 atu 5 tahun, dan setiap magrib bertandang kebumi, maka ayahpun ajak aku hadir memerhatikan perjumpaan dengan-Nya.dengan seksama kurekam tiap gerak-gerak spektakuler itu, bukan sekedar gerakan tapi lebih dari itu, banyak rahasia yang kulihat didalamnya dan ingin kutau segera.

Aku ingat, sahabat2ku yang baru kerap menceritakn tentang ayah mereka, pernah suatu ketika , seorang diantara mereka bertanya tentangmu dan aku hanya tersenyum ,mereka tak tau kau sudah tiada, dan saat kukatakan kenyataan , aku sungguh tak tega melihat mendung diraut wajah mereka, sungguh aku aku tak ingin ada yang harus menangis Karena dukaku, tentang tragisnya kepergianmu. Tidak ayah, itu semua takdirnya, tak sedikitpun kutahu siapa yang berperan dibalik tragedy itu, meski mereka yg lain tahu, ah sudahlah, kalaupun orang tersebut kubunuh, takkan ada takdir yang berubah, yang ada hanyalah tambahan catatan hitam dihidupku yang meang sudah terlalu pekat. Dilembaran manaharus kutulis, kupun tak tau, semuanya sudah terlalu penuh dengan noda.

Masih kuingat perjalanan terakhir kenisannya, bersama seorang sahabat yang memilih tinggal dipesantren, “kuburnya begitu lapang, lebar dan semakin panjang”, kami sama-sma terperanjat, “mungkin karena kebaikannya kak”, ya, aku yakin untuk hal ini, teringat saat pemakaman berlagsung , tak cukup halaman untuk menampung pelayat, bahkan mereka rela berjejer dijalan, aku terharu, berharap juga kelak saat ku mati, kuburanku bisa semewah ini. Dan diiringi dengan shalat berjamaah ramai, serpeti kawanku diteknik beda jurusan. Ukhti yang bergitu beruntung, karena begitu ramai dido’akan.

Senja, kita juga sering berdiskusi mengenai kematian. Dan tak jarang lari menuju pertanyaan siapa yang akan memfardhukifayahkan kita. Adakah yang sudi dengan coretan hitam kita Ini?

Senja, aku tak tau lagi ini coretanku yang keberapa, aku harap kelak saat kau temukan,kau tau bahwa aku takkan pernah bisa melupakan manisnya persaudaraan yang dulu kita bangun,

Oh ya, satu lagi, kau tau rumput tekikan? Ya, rumput yang berjejer dibawah jemuran meureubo hardvara, ternyata dia punya kemampuan menyisihkan e.coli, bakteri penyebab diare.ada dua jenis , yang satu naleueng lakoe dan stu lagi naleueng samboe. Kau pernah dengar tanin, alkaloid, dan flavonoidkan? Yang dulu sering disebut2 dimata kuliah kimia organic. Dan ternyata kandungan senyawa itulah yang menggeser pertumbuhan bakteri. Dan tinggal hitungan hari aku akan mempresentasikan hasilnya. Senja, meski kau mungkin tak mampu memaafkanku, tetap kukirimkan sepenggal do’a agar Dia membuka hatimu. Dan tolong do’akan aku juga.

Senja,aku rindu kau, rindu ayah,

Senja, kembalilah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s