jaga – jaga data hilang (rancangan novel bab kesekian)


Setengah bingung kulalui hari – hari terakhirku, Tanya – tanyaku menyata adanya dan muncul satu – satu dialtar yang sering sengaja tak kutoleh. Begitu bodohnya aku, menolak nuraniku sendiri.

Genggam ingatanku akan episode barbulan silam, mungkin sekitar 20 purnama, masih begitu erat, belum pudar sedikitpun. Saat suara hatiku benar – benar bernyanyi – cukup merdu sebenarnya- tapi sumbang bagiku,kutepis kasar bahkan sengaja menggunakan earplug agar sumbang itu tak pecahkan telingaku.

Kuingat putusan egoku, tuk akhiri sebuah perjanjian diatas kertas, berbubuh tanda tangan orang – orang teratas, dan aku menang!, begitu yang disimpulkan picikku. Aku berjalan gontai dikoridor lantai dua,mondar – mandir beberapa kali, sembari melirik kekanan bawah, mushala teduh yang masih kosong dijam dhuha ini. Tumben tidak ada penghuni, kemana karib – karibku. Ah, aku sendiri lupa kapan terakhir berdiskusi panjang dengan mereka yang rentang usianya memang jauh diatasku. Semester empatkah atau semester enam, aku benar2 lupa kapan terakhir berbincang bersama mereka ditempat teduh itu, dan sekarang memang alpa kulihat wajah mereka, gelar sarjana ditangan dan mereka pun lenyap dari sini, sosok – sosok yang selalu mampu mencuri ruang rinduku, meskipun tak pernah kuungkapkan

Kuingat keberanianku menjumpai pejabat utama dibagian ini, dan kuajukan permintaan melukis kanvas sendirian, dengan alasan tim sebelumnya belum hendak bersama, -aku bisa memaklumi, pengaruh lingkungan membuat mereka takut mengikuti jalanku dan keberanianku yang tergolong gila bagi orang orang disekitar,, . dan aku menang juga ! Tak kupedulikan omongan tak lezat satu dua orang, ada sosok – sosok yang tetap mendukungku,menguatkanku, tapi kurasa lebih tepatnya enggan mengubah keputusanku, karakter kerasku, dan percuma saja berkoar, jika palu sudah kulengketkan dengan meja sidang, tak seorangpun yang bisa menyela. Mereka bodoh, aku punya sahabat sejati, senja, kuhadiahkan tawa kecil dibelakang mereka

Purnama- purnama berlalu, dan ternyata aku hanya melangkah beberapa inci, tidak seperti yang kubayangkan, adakah yang salah? Mana jawaban istikharahku, kupikul yakin saat itu, aku dipaksa berani menerima kenyataan pahit, melepaskan kontrak lama itu, dan gegas ajukan diri, rangkai semua nya dalam dimensi beralaskan pribadiku sendiri, aku anggap ini privasi, dan tak ingin seorangpun menyusup kedalamnya. Berulangkali nuraniku lantunkan irama merdu, tarik sosok yang tak tau siapa dan dimana rentangnya. sebisik poin: akan ada sayap temaniku , tegarkanku, dan lanjutkan rangkaian ini. Aku diam, berulangkali kuteriakkan emosi agar pergi, aku ingin sendiri.aku ingin sendiri, lupakan rangkaian – rangkaian yang harus dicetak abjad demi huruf tak bernyawa, ah terlalu!

Purnama-purnama kulalui lagi, dan sedikit kutipu perasaanku, bahwa aku memang sakit., perih , dan hampir bernanah. Angka – angka hantu selalu hadir dipintu diskusiku, diskusi dengan bayanganku sendiri, hah? Aku punya bayangan, ya, tentu saja setiap benda punya bayangan jika diterpa sinar,, sinar,? Sinar apa yang kau sebut duhai hati, atau siapa yang bersuara barusan? Tak asing rasanya., siapa kau?
Gusar!!!. kubolak balik lembaran berangka ini, data – data akurat yang harus segera dirangkai dalam ribuan kata, dan angka2 baru yang belum tersusun rapi dalam hitungan,tangki – tangki raksasa yang belum selesai desainnya, power ledakannya, lalu lintasannya, garis edar, beratap bundar., panel -panel oh , no..semua berkelabat mencengkram saraf – sarafku, regresi linear yang begitu mudah pun seolah tak mampu terjamah dalamj angka 10 purnama. Bodoh!!!
Buang – buang energi saja !! sampai sarafku hampir keluar dari posisinya, akalku sudah tak sejalan lagi dengan logika aljabar.dan akupun diam,berlari kepadang rumput, benam mukaku , terbuai lembut Aromanya. Menatap dimensi aneh, menanti karibku senja.

*****
Ruang sunyi, rumah senja

Senja, kamu dimana? Ingin kuurai semua rangkaian sedihku, ingin kumuntahkan semuanya dalam cawan petrimu, kecil memang, tapi kurasa mampu menampung gusarku yang sudah steady state, sudah pada kondisi yang tak tergantung lagi dengan waktu.
Senja, kemana langkahmu? Kenapa ruang sunyi ini benar – benar gelap, bahkan aku tak mampu melihat setitik sinar, senja tolong aku, mereka membuangku, bahkan melumatkanku dalam ball mill. Aku benar – benar tersisih senja. Ceramic balls mereka mengobrak – abrik pondasi tegarku, memisahkan ragaku dari jiwa pemberani. Senja , aku jatuh, aku buta, dan ruang ini benar – benar tak punya lampu, pun alat – alat lainnya mati mendadak,ada apa senja, sunyi memang makanan favorit kita, tapi tidak segelap ruangan ini.senja, uapkan air mataku, tolong aku, hidupkan saja oven itu, biar panasnya menagngkat bulir – bulir bening, dan menjadikanku tak lagi lembab, bantu aku menjemput purnama, senja.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s