Anak- anak lingkungan

akupun bingung menamai kebingunganku hari ini
pun langit tak jua bersahabat lahirkan jawab bersebab akibat

Hari ini kembali saya mencicipi hobi lama yang tak terdengar kabarnya beberapa senja. Berputar mengelilingi pekarangan unsyiah (universitas yang menjadi jantung hati rakyat aceh) sambil lirik kiri kanan menyaksikan fenomena – fenomena yang telah berganti casingnya : jalan – jalan sendirian tanpa planning yang jelas.

cuaca begitu sejuk. gerimis kecil menyisir daun – daun kering, bergeser beberapa senti ataupun milimeter lebih tepatnya dari posisi semula. Rerumputan menari malas karena masih lemas berdansa bersama deras hujan dipembuka pagi. Beberapa dosen FK menepikan mobil mewahnya disebelah kos-kosan sepertinya ada acara ngebengkel bersama, yang saya tangkap masing – masing pemilik mobil membuka onderdil mobilnya dan berbincang hal lainnya yang berkaitan dengan dunia otomotif. Saya kurang tertarik, jadi tak perlu rasanya berdiskusi dengan mereka.

perjalanan berlanjut, jeda sesaat ketika saya hampir ditabrak dua anak kecil yang mengendarai sepeda, yang ternyata memiliki keisengan luar biasa-sama sekali tidak tergambar diwajah polosnya. “ceweeek, kok pigi jalan kakai, ga diantar ma pacarnya?” gedubrak!!!!!!! diluar dugaan, anak sekecil itu, kira – kira berumur 5- 6 tahunan, sudah terlalu lancar berbicara diluar cakupan usianya. Pengaruh Dimensi!!!

tak selayang debupun hadir, masih erat rebah diatas aspal, istirahat tenang tanpa tergubris angin yang paksa gerakkan diamnya. Perjalananpun berlanjut dengan angkutan umum setempat sambil merenung akan klise singkat tadi : anak – anak lingkungan. iris rasanya. Seingat saya dulu ketika say masih seumuran mereka, tidak pernah terlintas sedikitpun kamuflase seperti tadi. Meskipun bentang usia saya dan kakak – kakak saya terlampau jauh, namun saya tak merasa tergubris dengan dunia mereka dan tak perlu masuk mencicipi dunia mereka yang belum saatnya saya masuki. Begitupula teman – teman saya, sama – sama menikmati masa kanak – kanak.

Ya, akhirnya saya sebut tragedi ini adalah kamuflase, ibarat bunglon yang menyesuaikan diri di pohon persembunyiannya. Anak – anak yang terpaksa menyesuaikan diri dengan lingkungannya karena dunia ciliknya tak terpapar sehingga bisa dijalani. Lihat saja program – program televisi, KARAT makna pendidikan, maksudnya USANG, tua dan tak tertarik menawarkan tayangan bagi dunia mereka. Kalaupun ada tetap saja ada unsur tak murni yang sengaja dimixing didalamnya dengan titel untuk semua usia.

belum lagi lingkungan hidup yang sebenarnya (Terlepas dari tayangan KARAT makna) yang menghadirkan episode diluar jadwalnya (baca : Tindakan orang dewasa yang KEKANAKAN,memaki, adu kekuatan, dsb). Kecanggihan teknologi tanpa pengontrolan orang tuapun menghilangkan dunia kecil mereka. Coba tanya mereka , para bocah kecil itu, perhatikan rutinitas mereka, dan terbaca jelaslah bahwa budaya anak – anak terenggut sehelai demi sehelai. Belum lagi orang tua yang kurang menyuapi anak – anaknya dengan santapan agama, Jangan salahkan jika generasi penerus tak memiliki jiwa yang sesungguhnya, karena mereka belajar dari lingkungan.

Dan mereka pun mengeja lingkungan
baca kisah dunia lain
lalu rangkum dalam fikiran


shafira green sulaiman,
meureubo Hardvard,
Banda aceh
20 oktober 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s