seraut wajah gaza

diakhir jalanku
kian tersisa lumpur dan onak berduri
harmoni angin mengepak sayap – sayap pilu
berbaur dengan aroma kamboja ditepi nisan

putih kafan kian membentang dipelupuk
terbang bersama kerenda dan aroma kasturi
merah tanah menutup segala akhir
hempaskan segala harap dalam bulir tangisan
redupkan ego yang kian melangit
henyapkan segala kebisingan

terpekur akan awal dan akhir yang terciprak darah
dari langit yang memerah berbau mesiu
lantunan – lantunan cinta mengalir bak armoni taman syurga
menyebut asma yang lepas menggetarkan sanubari
merajut cinta yang terselubung bedil – bedil peluru

senarai luka menari diakhir memori
seribu penyesalan beranak menghempas kalbu nan pekat
bulir – bulir bening kian menjuntai
mengurai pilu akan sesal dan nyeri

saat dentuman bom dan peluru memecah telinga
saat hati kian terlebur dalam cinta-Nya
saat langkah terpatri hanya untuk-Nya
saat perjuangan hrus meradang luka
saat jundi – jundi kecil terbang bersama kafan syurga
saat tangisan berbulir keikhlasan
saat hari berhias shalat ghaib dan Qunut nazilah
saat kalbu menanah .. menahan derita
SYAHID..
sebuah akhir yang berbingkai cinta

Banda Aceh, meureubo A6
2 januari 2009

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s