sepenggal kisah dari sahabat

Untuk kalian yang terbiasa hidup mewah, dan tak pernah puas dengan apa yang kalian miliki, untuk kalian yang selalu membandingkan harta yang kalian miliki dengan orang lain, dan ingin selalu berada diatas ataupun sejajar dengan mereka, hingga ambisi kalian menelan lembutnya hati kalian sendiri.

Tidak, aku bukan ingin menangisi takdirku, tapi aku hanya ingin mengajak kalian untuk lebih bersyukur. Dan sebelumnya Maafkan aku jika harus melahirkan manik2 bening dari setiap sudut mata kalian.

Aku memang bukan seorang yang dilahirkan dalam keluarga kaya raya ataupun berkecukupan. Bukan pula seorang yang mampu untuk sekedar mencicipi makanan2 mewah ataupun fasilitas2 sederhana sekalipun. Aku, seorang anak yang tumbuh dalam keluarga penuh ukiran masalah, bahkan sejak lahir kanvas hidupku bersama keluarga ku selalu berhias cat kemelaratan. Tapi tak mengapa, aku masih punya tempat berteduh dan tak perlu tidur diemperan toko, walaupun hanya berstatus kontrak. Jalan hidup yang digariskan-Nya benar2 menguras air mataku, dan bahkan akupun terlihat sangat rapuh, tidak hanya dikeluargaku, namun juga dilingkunganku. Acapkali aku mengalami kesulitan biaya dikala iuran sekolah memasuki jatah pembayaran. Akupun hanya bisa pasrah , berdoa sebisaku agar ayahku mendapat rezeki lebih selain untuk makan , agar iuran sekolahku terlunasi.

Kemiskinan kerapkali menjadikan kami manusia2 egois yang begitu mudah terpancing amarah antar kakak beradik, bahkan terlihat dari luar sana kami seperti keluarga yg dikerumuni setan. Aku sadar aku tak bisa berbuat banyak, tak bisa juga menopang kehidupan keluargaku, karena aku tak bisa apa –apa selain belajar , belajar dan belajar. Namun, apalah daya prestasiku yang melangit sejak sekolah dasar hingga sekolah menengah hanyalah menjadi memori yang kusimpan baik2 dan dengan begitu rapat dalam setiap ruang ingatanku. Bahkan saat aku berhasil lulus pada sebuah sekolah tinggi yang hanya harus membayar biaya adminisrasi masuk,-tanpa biaya lainnya-yang jumlahnya berkisar dibarisan angka SATUJUTAAN, terpaksa, dengan sangat terpaksa undangan tersebut kubakar didepan rumahku dengan air mata yang benar2 tak sanggup kubendung. Ayahku tak memiliki uang yang mungkin dalam ukuran kantong kalian bukanlah jumlah yang sangat besar, bahkan mungkin kurang dari JUMLAH UANG YANG KALIAN HABISKAN SELAMA SEBULAN. Tapi bagiku, semuanya hanya mimpi, aku tidak akan pernah bisa mengecap pendidikan yang lebih tinggi, meskipun pernah memiliki prestasi yang sangat gemilang.

Berulangkali aku menangis, dan mengadu segala keinginan ku kepada Yang Maha Kaya, namun tak satupun harapku terijabah. Dan beberapa tetangga baikku, senantiasa menyarankanku untuk tidak terlalu ambisius mengejar mimpiku untuk kuliah dibanda aceh dengan berbagai alasan yang begitu lembut disampaikan, ya. Aku tahu mereka tak ingin menyakiti perasaanku.

Sekarang , setelah beberapa pintu keinginanku tertutup dan aku sedikitpun tak mampu menerobos pintu2 tersebut, ternyata Allah benar2 membuka pintu lainnya, sekarang aku berada disebuah tempat yang sangat nyaman. Tiada hari tanpa tilawah, tiada hari tanpa shalat berjama’ah, dan tiada hari tanpa belajar mengkaji ilmu- ilmu-Nya. Ditempat ini, aku terdampar dengan segenap tangisan, karena masalah keluarga yang tiada henti dilukiskan-Nya diatas kanvas hidupku, bahkan dengan biaya hidup yang jarang kuperoleh, kalaupun ada hanya berkisar seratus ribuan perbulan yang mampu diberikan oleh ayahku. Aku dan ayahku diusir oleh keluargaku, karena fitnah yang mereka tebarkan sendiri, bahkan ayahku, sang kepala keluarga, sampai harus berteduh ditempat orang lain. Dan tetap mencari nafkah agar kami bisa bertahan hidup, meskipun ditempat kuberteduh aku harus rela mengirit sebutir telur yang kugoreng dengan minyak seadanya agar bisa kujadikan lauk untuk 2 hari. Bisa kalian bayangkan?? HANYA DENGAN SERATUS HINGGA SERATUS RIBU RUPIAH YANG MAMPU DIBERIKAN AYAHKU. Tapi disini, aku benar2 belajar untuk tiada berhenti berharap kepada Allah, agar aku tidak mati kelaparan. Dan saat aku mencoba pulang kerumahku sendiri untuk pertama kalinya, taukah kalian bagaimana perlakuan keluarga besarku lainnya?? Mereka jelas2 menolakku, mengusirku dengan kasar, bahkan tidak sebutir nasipun mereka berikan, hanya karena aku mendukung ayahku yang benar2 berjuang dijalan-Nya sekarang.

Hingga detik ini, aku hanya bisa mengalunkan ribuan do’a setiap harinya agar hati mereka terbuka. Dan kukatakan dengan tegas aku tidak akan kelaparan, karena aku masih memiliki Dia. Setiap kali perutku kosong total, karena tak sepeserpun kiriman datang _walaupun hanya 100 ribu rupiah untuk sebulan- Dia selalu memberiku makan, melalui tangan2 dermawan yang tiba2 menjengukku di tempatku belajar. Allahuakbar, tak ada kasih sayang yang lebh indah selain dari-Nya…..

Dan terakhir kalinya aku bisa kembali menginjakkan kedua kakiku dirumah ku, pengusiran secara halus yang justru kuterima, mulai dari ruang yang sama sekali tidak disediakan untukku, hingga umpatan2 yang kerap kali kuterima. Dan aku hanya bisa diam dan meneruskan tasbihku, karena Dia, ya, karena Dia yang telah memilihkanku jalan seperti ini. Biarlah semua tangis pasrah dan harapku terbang bersama sayap syukur yang masih tersisa dalam relung2 jiwaku, dan semoga tak hanya sampai ke’arasy, tapi juga mampu menerobos batas bilik2 hati kalian yang terus mengejar ambisi.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s