Monthly Archives: Desember 2009

pukulan diawal tahun, pekalah kau duhai hati

pagi ini aku benar- benar tersentak tanpa tau berapa power yang membangunkanku. tersentak kembali dengan episode – episode kematian. ternyata memang aku kurang peka, maaf kawan aku tak tau lukamu begitu dalam.

beberapa minggu yang lalu, aku masih sempat berdialog denganmu melalui fasilitas chatting, pun dengan seorang sahabatnya yang telah pergi.

maafkan aku kawan, yang benar-benar tak peka dengan kesedihanmu kala itu. aku hanya menjawab sekenanya, dengan kata-kata sekedar penguat, tak kutau bagaimana perih itu menghujam relung hidupmu dibenua lain itu

kawan, beberapa menit yang lalu tak sengaja kususuri accountmu dan kuikuti jejak nama yang dulu pernah kau ceritakan padaku.dan tragis, tak kusangka begitu dalam sayatan itu hadir, tak hanya untuk mu, tapi juga bagi mereka sahabat – sahabatnya. dan ingatku seseorang pernah juga membicarakan dia, sesosok yang hebat, begitu pandai mencuri cinta rekan – rekannya.

kawan, maafkan aku..maafkan aku, teriring do’a agar kau dibenua lain itu bisa tegar, meski tak mampu tatap wajah terakhirnya. tetap mampu lanjutkan studymu disana, karena kau sosok tegar yang dipilihkan-Nya jalan seperti ini.

kawan, baru ku tahu dia benar benar sosok budiman, kutangkap perih yang sama seperti rasamu, rasa kehilanganmu, sakitmu karena tak tatap dia.ya, kubiarkan bening ini mengalir pecahkan pagi dimeureubo ini, meski diluar sana matahari belum sepenggalan

kecelakaan lalulintas itu pisahkan kau dan dia, dan kau kirimkan tangisan rindu dan do’a dari tempatmu berpijak.tenanglah kawan, lihat disana kawan, dirumahnya yang dibangun rekan- rekannya, begitu banyak simpati dan do’a dikirim untuk dia. kulihat semua, catatan , potret, semua kenangan manis.dan benar – benar tak mampu kukuatkan diriku , -padahal tak pernah kutau siapa dia.

sabarlah kawan, tak hanya kau, aku juga ingin bertemu sosok dia diakhirat kelak, sekedar kenal sosok yang begitu berarti dalam hidupmu, meski dulu alpa kau ceritakan..


Rabb,
sungguh hamba iri dengan senyum syuhada
sedang liar dan nistaku ini
kucemaskan halangi ruhku menuju-Mu
cemas pula tak satupun tangan mengantarku keliang lahat

untuk saudara seimanku dijerman,,, maafkan aku…..semoga Allah memberimu ketabahan…
salam rinduku untukmu, semoga sebelum langkahku pergi dari kota ini, kita bisa bersua kembali dalam rengkuhan OMAN..

kak..maaaf,,,,

abjad kenangan menjelang penutup tahun,

sembari menunggu siprinter -yang mendadak baik hati- mencetak 5 rangkap hasil penelitian, rasanya perlu sejenak memutar kepala mencoba menjejerkan satu persatu kenangan dalam rentang sayap 2009.

awal tahun 2009
start awal penelitian yang dipenuhi gundah gulana, karena harga bahan yang begitu melangit dan susahnya menerobos pertahanan peminjaman alat dibeberapa lab.namun bahan penelitian selangit diimbangi dengan murahnya harga bahan baku alias free. bahan baku yang digunakan dalam penelitian hanyalah rumput. what rumput?ya, back to nature, menjelajahi kemampuan beragam tanaman dimuka bumi yang sering tak terlihat oleh mata telanjang.
setelah menelaah banyak literatur, sungguh tak disangka rerumputan liar ternyata banyak yang mampu mengatasi penyakit – penyakit kronis, tinggal dieksplor lebih saja, agar bisa bermanfaat bagi manusia. salah satu metoda yang bisa digunakan untuk mendapatkan manfaat dari tanaman liar yang istimewa adalah ekstraksi dengan menggunakan pelarut yang sesuai(ditinjau dari kondisi polar(larut alam air) dan non polar(enggan dekat2 dengan air). hasil ekstrak ini biasanya mengandung senyawa – senyawa yang diperlukan bagi tubuh untuk menetralkan racun…jadi istilahnya selain untuk persyaratan akademis, ada ilmu baru mengenai dunia kesehatan yang bisa saya petik dari perjalanan penelitian.penundaan terjadi Karena panggilan KP.

teknik atau jurusan kesehatan??
hmm sepertinya bukan suatu masalah, teknik kimia tak hanya perakit bom, sebagaimana yang disinyalir oleh segelintir orang yang tidak benar2 mengenal teknik kimia secara mendalam. -dulu saya juga sempat berfikir demikian ketika masih duduk dibangku sma. bahkan seorang sahabat, dengan penuh yakin berharap jika kelak saya sudah mengetahui cara membuat bom agar mau membaginya dengan beliau, ah ada – ada saja.padaha tidak ada satu matakuliahpun yang membahas perakitan bom. riset yang berlangsung digedung tiga lantai inipun tak satupun yang merujuk kearah perakitan bom. lazimnya berkaitan dengan penemuan baru dibidang proses ,eksplorasi suatu bahan menjadi bahan lain dengan menggunakan beraneka bahan kimia bantuan, yang mayoritas berada pada rupiah selangit.

maret – april 2009
masa – masa penuh kenangan
langkah terpatri menuju perusahaan besar dinanggroe aceh darussalam, pabrik LNG dikota lhokseumawe. dua bulan apel pagi jam 7 teng, dan keluar dari gerbang jam 4 15. Keren!! pelajaran disiplin yang sangat – sangat menyenangkan. tempat itu menyimpan berjuta kenangan, ruang petak yang berulang kali dipindahkan,karena satu dua hal. training centre markas apel pagi. 🙂
kontrol room yang sedikit membuatku tak nyaman karena insiden yang menyebabkanku terpaksa mengganti nomor hp selama masa – masa dua bulan,. demi alasan kenyamanan.
rekan – rekan ojt yang tak terlupakan, anak – anak UGM yang mengenalkanku lebih dekat dengan dunia maya, yang disini hobi menulisku yang lama hilang mencuat kembali, terimakasih. adek – adek Smk, peserta OJT n magang, nova, andrea, n hanna yang telah sama – sama membagi lelucon selama disana, anak – anak tomodachi yang telah banyak berkorban , kawan – kawan kampus yang setia menemani kebosanan saat kp melalui fasilitas chat, terimakasih, semua yang telah berperan menyukseskan KP, rumah naunganku selama dilhok… semuanya takkan kulupa..terimakasih kawan (harusnya ini berposisi dikata pengantar laporan, berhubung kondisi formal lebih diutamakan, jadi urung kuletakkan)

dan akupun larut dalam dua pertempuran, berjuang diarena teknik kimia, dan menghasilkan karya tanpa harus mencanangkan “terpajang dimedia”. tempat ini juga media, aku bisa berbagi dengan kalian, kawan – kawanku. tak perduli harus memerah mata karena nyaris separuh waktu berada dilayar kotak. mencari apa – apa yang bisa kubagi dan kuurai dalam bahasaku sendiri.

berbulan-bulan kemudian, perjuangan makin menanjak, deadline seminar berjejer..dan terus berkejar – kejaran…

RUMAHKU
dua keponakan cilikku yang kian hari kian memberi warna benar2 menjadikanku rindu kota Langsa, meskipun sebulan penuh tanpa keluar sejengkalpun dari rumah, tak apalah..mengobati rindu bertahun – tahun. prestasi tahun ini, lebih banyak kesempatan pulang kerumah karena jarak lokasi kp dan rumah hanya berkisar 3 sampai 4 jam.dan akhirnya tahun ini berada dalam hitungan hari yang lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya berada dikota tercinta.
******************

sisi lain yang tak mampu terganti

sahabat, satu episode sedikit mengusikku, arena harum malaikat itu yang tak jua kutemukan lagi. berulangkali pergantian wajah, berulangkali pergantian pembina utama, berulangkali pergantian “rumah istimewa”,namun ditahun ini yang kurekam hanya satu atau dua kali wajah teduh kalian berhasil menghipnotis fikiranku yang galau.semuanya kita leburkan dalam syahdu bait – bait cinta, surat cinta terindah dari Dia, Yang Memiliki Kekuasaan Tertinggi. ya, aku paham mungkin ini benar – benar cobaan bagi kita, cobaan agar tidak lekas patahkan semangat menegakkan pondasi dien kita, meski tak ada papahan yang tegakkan kaki kita.

sahabat, jauh dari kalian, bukan berarti kulepaskan semua kenangan dan rutinitas perjanjian kita, meski berat, semuanya tetap mengalun, berharap kelak jika tiba saatnya kita benar – benar hadir dalam majelis yang sama, mengeja kembali, hadirkan diskusi – diskusi indah penuh kenyamanan,

sahabat, masih kurekam erat bagaimana lintasan debu menghampiri tikar alas duduk kita diruang kenangan pertama kali kita bersua, ruang sederhana , teduh berhias kalam – kalam-Nya setiap kita bersua.

sahabat, aku rindu menatap kalian, meski kusadar jarak kita terlalu jauh, terhalang desa, kota, bahkan ada yang terhalang benua dan negara. rindu kalian, komunitas yang membangun karakterku, yang selalu mengirimkanku undangan istimewa , tak hanya berisi kalamullah, namun juga dinaungi malaikat. getar halus ini kutangkap saat kenyamanan benar – benar lintasi langit – langit atap kita bersimpuh.

rindu teguran lembut kalian yang kuatkan pondasi ku, rindu bait – bait yang kita jaga bersama, jangan tanya bagaimana kupelihara semuanya tanpa dukungan kalian, tapi tak apa, wajah – wajah baru juga mengalungkanku ilmu – ilmu baru diluar dugaan. pelajaran hidup yang takkan cukup kutuang dalam abjad sejumlah apapun.

sahabat….
berulangkali kita jelajahi rumah – rumah-Nya
masih erat, saat hujan badai dan kita duduk diteras rumah-Nya berpindah kesisi teras lain tanpa rona takut tak bisa pulang, meski petir kian menggelegar, bukankah tanda langit yang begitu tunduk pada-Nya. dan diskusi kita tetap mengalun, mengalunkan tembang rindu, rindu bersama Rasul, bersama Para sahabat, bersama Tabi’in.
ya, buat apa hadirkan takut, jika nyatanya kita memang sedang berada ditempat yang tepat, rumah terindah, Rumah-Nya, rumah berbait cinta yang memang harusnya mampu kita ukir dihati kita sebagai muslim.

sahabat..sepertinya aku lupa mengucapkan terimakasihku atas teguran indah kalian, yang sekali lagi kukatakan kuatkan pondasi imanku, tegakkan pohon ini dengan akar – akar kuat menghujam tanah berpijak, membungakan ranting – rantingku dengan bunga – bunga yang begitu menawan.
terimakasih..jazakillah ya ukhti…

lantunan Al-ghamidi masih iringi tulisan dan episode menunggu printer selesai kerjapun kumatikan
azan magribpun berkumandang dari mushalla kid, dan senjapun lenyap setapak demi setapak…

SAlam Pembuka buat TOMODACHI , Meureubo hardvard(entah kapan kalian muncul)

benar – benar pukulan
disaat hati tak elakkan hadir mimpi
namun, nyata tak jua lingkupi

ah,sudahlah lupakan

sajakkan hati, resapi takdir
sungguh takkan cukup hitungan mundur
tuk paksa nyata hadir

nyala redup serentak
padamkan lelah nan retak
dan gemerlap meureubopun, saksikan bisu
serang segala sudut dengan tanya – tanya kenapa

dan wajahpun tundukkan galau,
suarakan parau
malu kembali kemasa lalu
masa tanya tak lelah hadang langkah

mencoba tak kenangkan pahit dalam sel -sel bernyawa
karena hidup takkan cukup dengan do’a

benar- benar kelewatan, butuh ketenangan sejenak, tapi diluar sana, entah suara sumbang apa pecahkan malam. padahal meureubo hardvard sudah larut dalam dimensi mimpi. kucoba lagi urai semua pahit dan manis halaman hari ini. terkejut dengan teguran tulisan, meski bukan ulahku, namun hilang sudah rasaku bermain – main disebuah account facebook.khawatir akulah yang diangkat menjadi Prita kedua.

kawan, maafkan aku, coba undur diri sejengkal demi sejengkal, tak ada maksud hilangkan semua kenangan, namun hidup memang sebuah pilihan. genggam semuanya baik baik dan jangan sakiti siapapun. dan ternyata ada yang tersayat dengan diskusi panjang kita distatus – status yang kita anggap lelucon.

kawan, .. jika alamat rumah ini kau temukan, kukatakan dengan bahasaku yang menurut kalian aneh
“takkan ada luput, kusisakan lumut dalam kerangka tulangku”
takkan kubiarkan memori indah kita hilang, namun ragaku dan jiwa yang tak tertata rapi ini tak kuat harus menanggung derita jika harus berurusan dengan para petinggi.jadi kuputuskan pindah beberapa senti. kuusahakan sekali – kali mengunjungi dimensi lama kita, namun tak serajin dahulu, hanya sekedar untuk bertegur sapa.

pahit memang terkecap, namun sudahlah, kasihan mereka jika harus merasa terganggu karena lapar tulisan kita. dan kusekop semua kenangan kemari sepetak demi sepetak. kubangun untuk kalian kelak, coba mudahkan bangun rumah baru seperti disini.

berharap secepatnya kalian punya blog…
TOMO, MEUREUBO, 05 tekim
ruang ini sepi tanpa kalian…..

muncullah segera kawan……


distilasi rindu

27 desember 2009 , siang menjelang ashar.

begitu banyak deadline hari ini, mulai dari slide show penelitian yang harus benar – benar rampung, hingga bedah kembali rancangan pabrik yang sudah lama kupinggirkan. Sejenak kuistirahatkan kepala dari beban yang kian lama kian menanjak. Menanjak menuju puncak permasalahan, sebelum benar – benar rampung dalam kata ‘berakhir’.

Kondisi meureubo A6 diambang sepi. Like this, aku butuh ketenangan untuk berpikir, banyak literature yang harus ditela’ah, dan buku – buku tokoh islam, buku yang membahas kisah – kisah tabi’in menjadi pilihanku hari ini.memang tidak semua mampu kulahap hari ini. Setidaknya ada beberapa tokoh yang hari ini kuteliti sejarah kebaikannya, sedikit berharap bisa seperti mereka.

Jam satu siang lewat beberapa menit. Bersama teman kosku, kami habiskan siang yang sejuk ini dengan melihat salah satu tayangan ditelevisi. Kepalaku memang sudah penat, batal keluar untuk sekedar melihat teater diRRI, dan agenda keluar lainnya pun harus dicoreng dari list jadwalku untuk sementara.cuaca kurang mendukung. Angin memang tidaklah terlalu menusuk, tapi gerimis yang mendadak menjadi raksasa, membuat kuenggan keluar untuk urusan – urusan eksternal hari ini.

Mataku terpaku, melihat penampilan seorang finalis diacara pemilihan bintang cilik televisi. Seorang bocah yang harus menopang hidup keluarganya dengan berjualan roti. Seorang anak yang harus ditinggalkan sang ayah dalam usia begitu muda.

Hatiku seakan teremas, memori lama ini mencuat kembali. Bagaimana aku harus hidup tanpa seorang ayah dalam kondisi masih sangat memerlukannya. Semalam aku juga membaca note difb dari seorang teman kampus, note untuk ayahnya yang meninggal saat musibah tsunami bertamu dinanggroe aceh Darussalam. Dua episode ini benar – benar menghadirkan memori dipenghujung ujian caturwulan saat aku masih duduk di kelas 5 SD.

Penyakit yang tak kunjung berkurang menggerogoti sosok yang acapkali disebut masyarakat fotokopi ku.ya, aku senang mendengarnya. Aku memang anak ayah,.lebih condong bersama ayah dari pada ibu. Lebih dekat dengan ayah yang setiap sore saat aku belum sekolah selalu membawaku keliling kota langsa, hal yang sama setiap harinya. Namun tak sedikitpun beliau bosan mengitkuti kemauanku, dan entah kenapa akupun merasa menikmati rutinitas harian ini.

senja, aku masih ingat setiap pagi minggu, saat masih berusia lima tahun, setelah film vicking ditelevisi, kita selalu berangkat menuju laut.ya.. laut yang kita senangi. Meski hanya pohon – pohon pinus atau cemara yang kami lihat saban hari, tapi hentakan jalan yang naik turun setiap kilometernya, juga angin yang menampar muka, menjadi keasyikan tersendiri, dan yang membuatku merasa nyaman adalah pelajaran yang kerap beliau sisipkan dalam detiap deru vespa kesayangannya.

Dan kepergiannya membuatku enggan menatap laut lagi. Cemas bulir – bulir bening tak bisa kubendung.perlu waktu lama bagiku untuk menerima tawaran teman – temnku menyusuri pantai bersama, aku lemparkan saja alasan bahwa dilaut susah shalatnya, jarang sekali ditemukan mesjid, kalau pun ada tempat wudhunya terbuka, dan untuk urusan yang satu ini aku akan menang jika membeberkan alasan tersebut. Senja, Bagaimana mungkin bisa ku kembangkan senyum menatap laut, sedangkan gemuruh hatiku melebihi ombak laut. Bergelut dalam kenangan yang takkan mampu luput. Dan galian kenangan itu kian dalam.

Senja, memang benar, segala sesuatu akan berlangsung sesuai kadarnya. sekarang perih itu lenyap perlahan,(meski sedikit) tetap kuberanikan mataku menatap laut, ya, kutangkap ada cinta disana. Cinta laut untuk Sang Pemilik Semesta. Cinta yang kerap hadir dalam tasbih ombak, pasir – pasir yang tercelup air, dan biota laut yang memiliki keindahan luar biasa yang tak alpa bertasbih memuji-Nya,

senja, aku masih ingat saat pura – pura tegar dihadapan pelayat, tak satupun bulir kubiarkan hadir, namun aku lemah, saat sahabat disd menangkap keberadaanku dimesjid, hamburan kata penguat mereka justru bulirkan mutiara bening yang kutahan kuat – kuat dan akupun menangis dalam pelukan ibu guru.

Senja, aku ingat teguran ayahku saat aku khilaf memanggil sikakak dengan sebutan tak layak, masih terekam semuanya, yang menjadikanku enggan memanggil mereka pun orang lain dengan teguran tak layak,meski kerap ku digelar dengan gelar-gelar penyayat hati. Beliau bariskan kami berjejer dan ikat kami dalam setali janji agar tak ulangi khilaf yang sama.Yah, aku tetap bertahan, mencoba jalani semuanya. Karena aku yakin kelak dipadang mahsyar Allah akan memanggilku dengan namaku sendiri

*******

30 Desember 2009

senja, kembali mataku menangkap tayangan yang sama tentang kisah rindu seorang anak terhadap ayahnya. Gigiku gemeretak, nafasku berat, terputus sepenggal, dan kucoba tahan semua gemuruh ini.

senja, rekan – rekan kita yang mayoritas berusia diatasku setahun membicarakan kembali masalah dunia baru itu. Masing – masing punya target,haha, aku tertawa sendiri mendengarnya, satu – satunyaya yang belum punya target kearah itu hanya aku,dank au.. ya , kita sama –sama pribadi yang tak gampang luluh.dan aku tidak akan luluh sebelum menemukan sosok yang mirip dengan ayahku, mirip prilaku dan kebaikannya.,

senja, kamu ingat tidak saat kita sama –sama menolak dengan gaya pura- pura tidak tahu setiap kali karib – karib yang lain menyebutkan beberapa orang agar kita mengikuti gagasan mereka, padahal mereka juga belum masuk kejenjang itu, dan sampai saat ini hanya terbuai janji – janji semu.kita sepakat bahwa itu bukan lah prestasi, bukan semudah membalikkan telapak tangan. Ada konsekuensi berat yang harus ditanggung dikemudian hari, dunia dan akhirat. Buat apa hanya mengandalkan prestasi yang dimata manusia begitu wah,namun belum tentu sama dengan pandangan Dia.

Senja, aku rindu semua kenangan bersama ayahku.

Masih ada setitik harap agar saat itu tiba, ayahlah yang menjadi waliku, bukan orang lain, aku tak tau kualitas ibadah mereka, aku takut dengan tandakiamat yg disebut teman smpku dulu.semakin banyak zina terhormat, mereka yang dinikahkan oleh wali yang tidak paham dan menjalankan agama dengan baik (aku lupa istilah yang dia sebutkan). Senja, aku takut, takut sekali, tak jarang bisik aneh itu membayang, berharap mati sebelum memasuki jenjang itu, namun jika kuingat setengah dien , dan setengahnya lagi hanya dengan taat dan berbakti, sedikiit iri membayangiku.

senja, berkali – kali kunaiki tiga lantai teknik kimia itu, dan aku memang lebih suka sendiri, aku tak mau orang lain terganggu dengan egoku karena sindrom aneh yang acap muncul menjelang agenda besar. Aku tak mau diganggu, dan aku pun memulainya dengan tidak mengganggu mereka. Dan akhirnya dengan kekuasan-Nya, petinggi-petinggi itu berhasil kutemui, dan benar-benar rahasia shalat hajat itu tersingkap hari ini, juga kekuatan surah Ar-Rahman membuka tabir-tabir aneh yang semula hadir. Jadwal yang tiada kosong tiba-tiba rela mereka geser dengan senang hati.

Oh ya senja, taman diskusi kita berpenghuni kembali, meski dengan raut baru yang tak tau apakah akan bertahan atau tidak . mereka mengkaji juga apa yang sama – sama kita kaji dulu, aku senang senja, gubuk rindu itu kini tak lagi sepi

Senja, maaf jika aku terlalu banyak ngoceh, aku hanya tak ingin kau menganngapku melupakanmu. Dulu aku sering lupa membagi kisah ayahku, pun kau juga begitu.

Senja, saat aku masih sekitar 4 atu 5 tahun, dan setiap magrib bertandang kebumi, maka ayahpun ajak aku hadir memerhatikan perjumpaan dengan-Nya.dengan seksama kurekam tiap gerak-gerak spektakuler itu, bukan sekedar gerakan tapi lebih dari itu, banyak rahasia yang kulihat didalamnya dan ingin kutau segera.

Aku ingat, sahabat2ku yang baru kerap menceritakn tentang ayah mereka, pernah suatu ketika , seorang diantara mereka bertanya tentangmu dan aku hanya tersenyum ,mereka tak tau kau sudah tiada, dan saat kukatakan kenyataan , aku sungguh tak tega melihat mendung diraut wajah mereka, sungguh aku aku tak ingin ada yang harus menangis Karena dukaku, tentang tragisnya kepergianmu. Tidak ayah, itu semua takdirnya, tak sedikitpun kutahu siapa yang berperan dibalik tragedy itu, meski mereka yg lain tahu, ah sudahlah, kalaupun orang tersebut kubunuh, takkan ada takdir yang berubah, yang ada hanyalah tambahan catatan hitam dihidupku yang meang sudah terlalu pekat. Dilembaran manaharus kutulis, kupun tak tau, semuanya sudah terlalu penuh dengan noda.

Masih kuingat perjalanan terakhir kenisannya, bersama seorang sahabat yang memilih tinggal dipesantren, “kuburnya begitu lapang, lebar dan semakin panjang”, kami sama-sma terperanjat, “mungkin karena kebaikannya kak”, ya, aku yakin untuk hal ini, teringat saat pemakaman berlagsung , tak cukup halaman untuk menampung pelayat, bahkan mereka rela berjejer dijalan, aku terharu, berharap juga kelak saat ku mati, kuburanku bisa semewah ini. Dan diiringi dengan shalat berjamaah ramai, serpeti kawanku diteknik beda jurusan. Ukhti yang bergitu beruntung, karena begitu ramai dido’akan.

Senja, kita juga sering berdiskusi mengenai kematian. Dan tak jarang lari menuju pertanyaan siapa yang akan memfardhukifayahkan kita. Adakah yang sudi dengan coretan hitam kita Ini?

Senja, aku tak tau lagi ini coretanku yang keberapa, aku harap kelak saat kau temukan,kau tau bahwa aku takkan pernah bisa melupakan manisnya persaudaraan yang dulu kita bangun,

Oh ya, satu lagi, kau tau rumput tekikan? Ya, rumput yang berjejer dibawah jemuran meureubo hardvara, ternyata dia punya kemampuan menyisihkan e.coli, bakteri penyebab diare.ada dua jenis , yang satu naleueng lakoe dan stu lagi naleueng samboe. Kau pernah dengar tanin, alkaloid, dan flavonoidkan? Yang dulu sering disebut2 dimata kuliah kimia organic. Dan ternyata kandungan senyawa itulah yang menggeser pertumbuhan bakteri. Dan tinggal hitungan hari aku akan mempresentasikan hasilnya. Senja, meski kau mungkin tak mampu memaafkanku, tetap kukirimkan sepenggal do’a agar Dia membuka hatimu. Dan tolong do’akan aku juga.

Senja,aku rindu kau, rindu ayah,

Senja, kembalilah

lama tak sapa teknik

Teknik memanas hari ini. Jelas terik tak lampaui ambang derajat, namun nyata lahir peluh dari wajah – wajah penunggu sehelai kertas berbubuh foto masing – masing sosok dan sebercak stempel penanda kesah-an lembar putih tak terlalu pucat.(baca: kartu ujian).

Pondasi fakultas yang alpa kusapa berhitung angka – angka kelender, akhirnya tertapak kembali. Asing masih hadir. Merasa sosok baru didunia teknik, padahal jelas tapak usia disini memasuki masa akhir jabatan.

Penggalan kisah bernama menunggu berakhir saat jam telah bergeser memasuki bilangan istirahat siang. Nyaris saja tak kelar agenda hari ini, hari terakhir perebutan kertas bersyarat itu.

Makhluk bernama mahasiswa membanjiri koridor keci diloket yang mirip pacuan kuda, peluh hiasi satu demi satu garis – garis lelah, dan udarapun begitu gerah hingga nafas terpaksa diambil satu – satu secara perlahan. Oksigen diperebutkan dalam jamaah bercampur keluh kesah akibat lamban kinerja orang – orang penting. Kasihan peluh, harus ekstra berproduksi hari ini. Andai ada istilah pedagang peluh, tentu saja hari ini bisa dikatakan hari kejayaannya.

Fenomena yang sudah begitu lama luput dari gerakku, dan mungkin juga kalian.

Mengantri..:) , untuk ukuran mahasiswa sekelas kita hal ini termasuk dalam katagori luar biasa, leting sudah hampir menepi masanya, namun ternyata prosedur yang sama berulang lagi muncul hiasi tapak – tapak kita yang sudah sedikit jemu disini.

Hampir saja serangan asma bertamu kepada sesosok didekatku, nama tak ingat , namun masih seatap.teknik benar – benar meradang. Lambat gerak, full wajah yang tak pernah kutau siapa, dan seolah benar – bnar akulah anak baru disini.

Kakipun langkah kembali menuju tiga lantai teknik kimia. Gedung raksasa yang terpisah dari induknya. Kerap kami ditanya mengapa tak berdiri sendiri saja tanpa harus berinduk teknik, namun apalah jua tak ada garis hidup berdiri tanpa sejarah bersama direntetan huruf bernama fakultas teknik.

Koridor depan potretkan parkiran kendaraan mahasiswa dan beberapa dosen, lainnya hilang kearena kunjungan social.dan episode Tunggu kembali beberapa orang penting demi coretan tangan diatas kertas yang bernama pengesahan harus diteguhkan, agar tak lagi jejak hilang, dan penundaan atas nama sebuah seminar berlanjut.

Potret lab operasi teknik kimia masih gambarkan kisah yang sama, kisah menunggu didepan alat – alat aneh yang memang sedianya harus dijaga sedemikian rupa. Lalu lalang pratikanpun menjadi tontonan dalam penantian orang – orang penting.

Dan langkah hari ini benar – benar lepaskan syukur tanpa layar tembok, coretan penentu diatas kertas lekas didapat dalam hitungan kurang dari 12 jam. Dan sinyal baik terbaca dari sosok didepanku, seminar dijadwalkan digelar. Kondisi tulisan tak lagi dipersoalkan dan bait – bait rancangan akhir akan segera membumi, tak hanya tergantung dilangit..

Mohon do’anya untuk kelancaran dalam beberapa penggal waktu kedepan

coba usir singantuk

Lagi – lagi menghalau kantuk ,tugas menghantui mimpi dan lelappun harus dipaksa melayang.satu – satunya jalan menyembunyikan kantuk ini adalah menulis,, resep ampuh yang entah dari mana muasalnya. Yang kutahu, hanya mencoba menghindari monitor beberapa saat,..meski tak bergerak jauh, tapi setidaknya tak perlu menatap monitor lekat – lekat. Syukurlah masih ada karibku disini, yang sama tancapkan planning bergadang untuk menyelesaikan deadline akhir tahun., tapi nyatanya malah melanjutkan bacaan novelku yang sudah selesai. Dan jadilah aku saja yang dengan senyam – senyum sendiri menatap layar laptop, bukan dengan muka mengkerut, Karena ternyata laporan justru terakhir kutelaah.

Niatnya sih beresin laporan, tapi kok malah keasyikan nulis. Giliran laporan yang ditelaah, kantuk tak malu – malu hadir, dan abjad – abjad yang tak ada kaitannya dengan planning malamini, justru dia yang lahir tak hanya kembar , tapi super banyak.

Mataku memang harus diistirahatkan sejenak, dari tadi pagi hanya sesekali aku bergerak lepaskan tatapan dari layar petak ini. Dan untuk menjauhi layar ini memang sulit, namun dengan menulis aku rasa aku tak perlu menatap layar ini lekat2, tulis saja apa yang ada dalam alam fikirmu, tak usah perduli dengan urutan kalimat, review kembali nanti , dan baru edit dengan struktur yang lebih baik. Wah, Alhamdulillah ternyata efek buku fantastic itu masih kuat, buku penulis hebat karya pak jonru, benar2 mampu merubah mindsetku. Hadiah dari lomba pertama yang berani kuikuti.

Mau jadi penulis ya mulailah dengan menulis, apa saja yang terngiang, tulislah. Dan biarkan otak yang satunya lagi yang menata abjad dengan lebih cantik.

Benar-benar harus melayangkan syukur sebanyak –banyaknya atas anugrah fikiran yang meskipun sering berbenturan dengan banyak orang , namun justru menjadikanku sosok yang lebih kuat. Mencoba selalu berfikir berbeda dengan orang lain. Jika orang berkata , manjat pohon kelapa itu susah, aku akan coba menggunakan hal yg berbeda. Tidak terlalu mudah memanjat pohon kelapa. Karena pada dasarnya segala sesuatu itu diciptakan berpasang – pasangn, tak hanya manusia saja, kalimatpun punya pasanagn, antonym dan sinonim.

Jadi kenapa harus merasa terbelenggu dengan fikiran satu arah.. alangkah cantiknya jika diputar dengan posisi fikiran kebalikan. Apa yang akan terjadi? Sesuatu yang spektakuler, percayalah (insyaAllah, kalau memang saat mencoba berfikir berbeda namun masih direl yang benar).

Ga terasa sudah beberapa kalimat tertuang, dan karibku pun sudah mulai melahap novel yang sudah kuselesaikan seminggu yg lalu, penggantar tidurnya.

baru nyadar kalau ditahun ini pengeluaran terbesarku adalah dipenghujung tahun :7 buku dalam satu bulan mulai dari yg berkisar 10ribuan hingga yang mendekati bilangan ratusan ribu, batrei laptop baru, dan juga memori tambahan agar mempercepat kerjaku saat berhadapan dengan laptop ini. Hafalan?? Sedikit memiriskan, tak ada tambahan satu ayatpun dibulan ini. Ya Rabb..apa jadinya jika ini adalah tulisan terakhir menjelang kembaliku, janjiku genapkan 30 juz tak jua mampu tertuang kehidup nyata, masih dlam rajutan mimpi.

Berkelebat kembali rencana – rencana ba’da ijazah tergelar , dengan seorang sahabat yang dari awal semester selalu punya visi yang mirip2.akhirnya kucetuskan ide untuk menimba ilmu disebuah pesantren , kalau – kalau tak ada posisi bagi kami dimasyarakat yang bermanfaat.

Bukankah lebih baik meleburkan diri dalam ruang yang benar, dari pada terpasung dengan kegilaan mengikuti jalan orang lain yang jelas2 tak sealur dan keluhan hanya Karena tak mampu berada diposisi yang sama.yah, kalau memang rezeki tak kan lari, dan masih berharap juga mimpi2 sebelumnya tercapai, S2, atau punya usaha sendiri, atau mungkin mimpi besarku yang tercapai, mendirikan perpustakaan raksasa dan pesantren internasional..

Mimpi..mimpi..mimpi,

Biarlah, kuikat semuanya dalam untaian do’a..karena hidup adalah perjuangan menuju Dia.

Terbayang isi buku2 yang sudah kulahap, tentang tokoh – tokoh yang gemilang prestasi dunia dan akhiratnya. Setitik iri tak bisa kuhalangi hadir, terngiang seorang yang tak pernah tidur selama 20tahun, wahb bin munabbih…, oleh – oleh bacaanku tadi siang,

(Jadi teringat kenekatan kepasar aceh sendirian tanggal 15 desember silam, tak tau angin apa dan bisik siapa tiba – tiba aku sudah berada disana tanpa planning yang jelas dan hasilnya,isi dompetku dicuri oleh penjaga bazaar ditukar dengan 6 buku, yang masih belum rampung tiga lagi)dan juga seorang ibu rumah tangga yang tadi secara tidak sengaja kukunjungi lewat dunia maya, dan memiliki kualitas tulisan yang masuk dalam level tinggi, padahal hanya curahan hatinya saja, bahkan sampai dibukukan.Keren!!

Bicara fiksi ilmiah tentang teknik kimia yang belum rampung juga, sudah lebih seminggu usianya, dan semua kebingungan mulai lagi merayap, menggedor – gedor labirin..

Ah, sudahlah satu satu dulu, ijazah ditangan dan kau pun bebas lia..iya..pulang kelangsa secepat mungkin, bangun runtuhnya moral disana, atau menetap disini sembari meneruskan magister disini, atau mungkin benar2 menginjakkan kaki dipesantren tujuan. (entah masih bernyawa)

Hanya Allah yang tahu….

Dan titikkan tulisanku sampai disini, hanya mencoba melepas lelah sejenak, lalu kantuk pun hilang, n the last kembali kelaptop…laporan menunggu dengan senyum lebarnya

Duhai , Yang memiliki malam berbintang, Yang memiliki gugus

Biarkanku lekas lulus

Lewati semua suratan takdir dengan pondasi sabar dan ikhlas

jaga – jaga data hilang (lagi)

27/12/09
senja..kau benar- benar tak muncul dipagi sepi. lalu lalang pejalan kaki yang mencoba menghirup segar pagi kian ramai, tapi kau tak terlalu senang senja. kau taukan udara pagi acapkali dicuri oleh knalpot – knalpot yang jarang lulus emisi. dan pagi sunyi dicuri pula oleh polusi suara
********
26/12/09
senja, aku bingung bagaimana melukis semua ini dikanvas hidup. aku terpaku didepan pondok markas kita.tempat kitaacapkali berdendang, nyanyikan tembang – tembang pengisi jiwa, dan biolamu selalu mengalun menyusup, bilik – bilik bersekat triplek ini. tak ada yg terusik, semua snang senja.apa karena kau memang istimewa.
senja titipkan rinduku buat mereka, ah senja, aku tertawa kecil saat membaca pesan singkatmu, Kamu bilang rindu dengan sipussy, salahmu sendiri mengusirnya, dia memang binatang senja, tapi sama – sama makhluk tuhan juga, kurasa kita tak punya hak mengasarinya.pahamkan senja…
dan lagi – lagi kau membahas makanan yang sama, ah, kau nyaris membuatku ileran, karena disini aku takkan mungkin menemukan makanan enak itu.. senja, aku lupa mengucapkan terimakasih untuk kakak – kakak yang pernah bersama kita dulu, kau masih ingat wajah mereka .

25/12/09
Senja, aku tak kuat lagi menggenggam amarah. Tadi siang , secara sadar, mereka kumaki satu persatu.tidak senja, aku tak ingin seperti ini, senja aku alpa menyebut-Nya hari ini, senja tolong aku.Sebaris pesan singkat diponselku, menggambarkan kembali tragedy 7 purnama yg lalu, saat aku merindukan sosokmu, namun ternyata alam begitu cepat berdendang, dan benar2 alpa kutatap wajahmu.Senja maafkan aku tak pulang merawat balee- balee kita. Aku dicengkram, senja..
7 purnama lalu..
Malam panjang mengurai air mataku.senja aku dihakimi dengan pisau tajam dari lidah mereka, sungguh tajam senja, sampai2 aku rela mengotori ruang hatiku dengan umpatan, perih rasanya saat hatiku mengais kotoran2 itu.kasihan dia senja.
Senja, aku dihakimi karena aku menghindari mereka, padahal kau tau kan senja bagaimana aku sering menangis diatapmu, karena aku tak tahan umpatan mereka untuk saudara2 seiman lainnya, saudara mereka juga., aku juga tak tahan suara keledai yang kerap mereka konserkan, pun pernah kuingat petuah dosen dikampusku, sejelek2nya suara adalah suara keledai dan yg mereka lakukan lebih buruk senja.
Senja, bukan ku tak ingin menegur mereka, namun suaraku tak ada, ada tapi tak mau dianggap ada secuilpun. Senja aku rubuh, kebersamaanku dengan mereka hanya mengirimkan pencuri ingatan, ya, satu persatu ingatanku akan bait2 suci, berjuz – juz kita bangun bersama, ternyata harus pudar – satu persatu.
Senja, aku hanya menjaga jarak, agr kunci ku kesyurga tidak lenyap begitu saja. Senja, kamu dimana? Pulangkah sejenak, liat aku yg kian liar saja.senja, aku rela kalau aku dicibir, asal juz yang kita rekatkan dalam tapak juang kita tak turut mereka kikis. Aku benci diriku sendiri senja.
aku ingat sahabat baruku dari satu jejaring sosial menasihatiku agar aku tidak ikut lebur bersama, kita harus menghindari kebinasaan katanya, dan bersahabat juga harus memilih jangan sampai menjauhkan hati kita dari-Nya.
Senja , tolong aku, telinga ku rusak Karena omongan sapah, alunan sampahh, sengaja kuputar bait2 yang acap kita lantunkan dalm perjumpaan kita, kau tauapa yg mereka lakukan sedetik kemudia? mereka lawan dengan denting alunan dunia mereka aku benci hal ini senja.
Senja aku dimaki dengan kasar, seolah aku tak pernah punya kebaikan,yang kulakukan semuanya salah, tapi senja , aku kenal mereka, bukan hanya aku yang diperakukan sehina itu.saudar2 seperjuangan kita juga diperlakukan sama!
Senja, cepat pulang ya, bantu aku..
Oh ya, dulu kau Tanya kemana sahabat digubuk rindu itu??Mereka sudah pindah senja, tak ada lagi wajah mereka dibangunan kayu teduh itu, taman ilmu diskusi kita, gelar sarjana sudah bertengger, dan sekarang aku sendiri senja, pun kau tak disini. Senja pndasi ini kian roboh senja, aku rindu.
rindu ruang sunyi kita, ruang berisak, sunyi memang, tapi sesungguhnya kita sadar sedang larut dalam rindu untuk-Nya, mencoba menjalin bahasa cinta terindah untuk-Nya.
senja, aku hilang kendali, pulanglah kau…