dua langit dikelingking senja (last part)…

  • Aku tersungkur , dengan hati perih, hujan pun kian deras, ayu dan pak iqbal bos ku memunguti berkas2 yang berserakan dan menarikku kembali kedalam gedung. Aku duduk terpaku ditempat duduk disebelah kiri pintu utama yang terbuat dari anyaman eceng gondok , tak sedikitpun aku menggigil akibat suhu ruangan yang terlalu tinggi, padahal kondisiku jelas2 basah kuyup. Ubun2ku masih panas akibat emosi yang benar2 membakar… Ya Rabb, bagaimana nasib puasaku hari ini???? Mataku tertuju pada sekumpulan mawar putih yang diterpa hujan, bergoyang kekiri -kanan, naik turun, sesekali batangnya sedikit melengkung hendak menyentuh tanah, berjejer rapi ditaman depan. Aku bisa melihat jelas tarian mawar dari kaca didepanku ini, setting yang luar biasa , seluruh tempat duduk ini disetting mengarah ketaman bunga,bukan mengarah kesisir tangga angkuh yang berada tepat beberapa meter didepan pintu utama agar pengunjung tak hanya sekedar bersender dibangku2 yang disusun secara acak di empat sudut ruangan, tapi juga memberikan selaksa kenyamanan setiap kali mata tertuju pada bunga2 yang bermekaran. Asoka merah, putih, dan jingga, yang ditanam berselang seling , kelihatan seperti bolu lapis jika dilihat dari kejauhan.Simfoni yang menyejukkan dan juga menyehatkan mata.
  • Ayu memeriksa beberapa berkas tadi, dan ada sebuah amplop kecil berwarna putih lumayan tebal yang tak sempat kulihat tadi. Dia menatapku dari tempatnya berdiri , didepan vas bunga besar yang berisikan anggrek bulan berwarna putih, dua meter didepanku. Aku tahu, dia sedikit ragu mendekatiku, melihat ku yang masih terpaku diam dengan bulir air mata yang menetes satu demi satu. Kuisyaratkan dengan sudut mataku untuk membuka amplop itu , dan tak berhenti kutatap jemari tangannya yang lentik perlahan membuka amplop dan mulai membaca satu persatu surat didalamnya dan sebuah diary.
  • Tangannya gemetar, jantungku pun berdetak tak beraturan melihat reaksi ganjilnya itu. Dia berlari kecil kearahku. “Ina, kejar orang tadi, cepat!!!! sebelum terlambat.ntar kamu nyesel lho , cepat… cepat ina , jangan diam saja”. “ maksudmu?” tanyaku sedikit emosi, “tidak akan pernah yu, tidak akan kulakukan, tolong bakar saja berkas2 itu,,,, sambil menapis surat2 yang dipegangnya. “ina, coba kamu baca ini,,,,,” kenapa ini? Kenapa tiba2 genangan sungai bening kulihat dimatanya.
  • “Assalamu’alaikum ina….. kubaca cepat semua surat itu, lebih dari 5 menit,beserta sebuah bagan yang ada dikertas lain dan juga diary hitam…..”Astaghfirullah, Ya Rabbi, apa yang telah kuperbuat, aku jahat , terlalu jahat, Ya Allah….”
  • Kucampakkan kertas2 tadi dan akupun berlari menembus hujan yang semakin bersisir rapi tanpa jeda.. tak kupedulikan cipratan air yang mengotori bajuku, tak kupedulikan tubuhku yang semakin basah, tak kupedulikan siapapun yang melihat ku aneh, disaat yang lainnya malah berlarian kedalam gedung untuk berteduh, aku justru melepaskan diri dari ruang yang nyaman untuk berteduh..
  • Kulirik jam tangan perak bundarku , baru 25 menit, semoga dia belum begitu jauh…. tak ada satupun angkutan umum yang lewat. Aku terus berlari, tak perduli berapa kali aku tersandung jatuh dan mencium aspal, bahkan dengan tertawaan orang2 yang ada dijalanan. 10 menit aku berlari, Langkahku terhenti,tak kuat lagi. aku sudah tak punya energi lagi, terengah- engah dan nyaris pingsan, syukurlah ayu mengejarku dengan motor maticnya , segera memapahku, dan membawaku ke motornya. “sudahlah , na… tak usah dikejar lagi,,,, kan ada alamat yang bisa kita cari.. keburu maghrib,.” Ayu pun memacu maticnya perlahan 100 meter didepanku, kulihat orang2 berlarian kearah sana,.” Yu, ada apa disana? Kita lihat yuk..” pintaku masih dengan isak tangis……
  • Orang2 semakin mengerumuni lokasi, “siapa yang ketabrak pak??” Ayu menghampiri seorang polisi , tetangganya, yang keluar dari kerumunan massa, “seorang lelaki kaya dan sopirnya, udah kalian pulang sana jangan ikut2 an bikin macet jalanan, satu jam lagi buka puasa”. Aku berjalan perlahan kearah kerumunan,tak bisa kuhalangi sedikitpun rasa penasaranku yang selalu hadir disetiap situasi yang menyimpan misteri, mencoba menyelinap, jaguar hitam, “Ya Allah,,,, jangan,,,,” aku melihat jelas…..mobil yang sama, plat yang sama dengan kondisi yang sangat mengerikan ….. bersender erat dipohon asam diatas trotoar jalan. “AYUuuuuuuuuuuuuuuuuuu….. ” tubuhku seolah tak bertulang, pandanganku mengabur, air mataku jatuh satu demi satu turut membasahi aspal jalanan yang sedari tadi diguyur hujan… “Ya Rabb, betapa keji hamba_Mu ini….”
  • UGD RUMAH SAKIT
  • Kulangkahkan kakiku dengan segenap cemas, dan air mata yang tak henti menetes dari sudut mataku, melewati koridor2 putih yang beraroma obat2an, dan beragam pasien yang terhias bersama kantong2 darah, dokter dan perawat yang lalu lalang mengejar waktu, dan tatapan sendu segelintir orang yang terdiam dibangku tunggu dikiri kanan koridor. Langkahku kian cepat saat kulihat beberapa polisi duduk dikursi dihujung koridor, kuintip kedalam ruangan melalui kaca transparan yang langsung mengarahkan pandanganku kedia, selang infus, kantong darah, tabung oksigen dan beberapa alat2 medis lainnya yang menyokong hidupnya. Tanganku mengusap permukaan kaca yang sedikit berembun karena suhu ruangan yang terlalu dingin dan mencoba melihat sekali lagi dengan jelas, “ itu memang dia..,.” sapa seseorang disebelahku. Kuputar kepalaku, laki2 paruh baya yang tadi kulihat “anda .., anda supirnya kan…?? Pak bagaimana kondisi nya, kenapa bisa…?” mataku berembun, rasanya tak kuat lagi untuk menopang badanku ini,,, dua polisi yang berjaga mempersilakanku dan sopirnya duduk.. dia berbicara perlahan sambil sesekali meringis menahan sakit dikepalanya yang kini diperban dan tangannya yang lecet disana – sini. ‘mobil yang kami naiki oleng, tadi penyakit beliau kumat, dan saya mencoba mencari – cari obat didalam laci mobil.. tapi tidak saya temukan, dan tanpa kami sadari dari arah depan, sebuah truk melaju kencang kearah kami, dan akhirnya, ….
  • *************************
  • ARMANA,
  • Aku hanya bisa menarik nafas panjang,, dan mengusap pelan air mata yang terus mengalir dikedua pipiku yang keriput ini…”Sabar pak,,,,, mungkin dia belum membaca semua surat2 yang anda tulis,,saya yakin dia tidak akan bersikap seperti itu jika saja dia sudah membaca semua yang anda tulis untuk ina” santun bahasa abdu , sopir pribadiku sedikit menyejukkan jiwaku. Uhuk,, uhuk,,, uhuk,,, semakin parah saja batuk ini menghiasi hidupku, belum lagi penyakit jantung koroner yang bersarang ditubuh tuaku ini. Ya Allah, mungkin hamba memang pantas mengalami semua ini, penyakit2 yang silih berganti bertamu dalam hidupku, dan penolakan seorang ina atas diriku… yang terakhir ini yang membuatku begitu pilu, dia satu2nya harapanku,,, “ saya memang salah abdu, tanpa hati nurani secara tidak langsung telah memisahkan seorang anak dengan kedua orang tuanya karena membiarkan dua anak kurang ajar itu bertindak sembrono…, seolah Allah menegur saya karena telah menelantarkan anak saya dan istri pertama saya, seorang istri yang sangat shalihah, yang bahkan sampai kematiannya pun dia sama sekali tidak mengajarkan anak kami untuk membenci saya, malah senantia dido’akan..”
  • Ah, begitu pilu.. aku masih ingat jelas saat aku pergi meninggalkan mereka karena seorang wanita kaya berparas cantik, sarah, yang datang dari kota, aku begitu terpesona , sampai rela meninggalkan istri dan anak semata wayangku didesa, tanpa pernah sekalipun kujenguk dan kunafkahi. Begitu keji. Yang kudapatkan hanyalah kekayaan tanpa kebahagiaan, bahkan ternyata dua anak yang kuperoleh dari sarah bukanlah anakku, melainkan hasil hubungan gelapnya dengan saingan perusahaan yang kami rintis bersama. Keterlaluan wanita itu, kuceraikan dia dengan sangat terpaksa, syukurlah anak2nya yang juga sama kurang ajarnya seperti dia dan hampir saja merusak generasi2 penerus bangsa ini sudah menginap dipenjara.
  • Tapi, apalah arti semua ini, aku kehilangan orang2 terkasihku yang benar2 kurindukan, istri pertamaku, anakku, dan sekarang ..seorang ina,. Kubiarkan ingatanku terbang melintasi dimensi2 yang telah kulintasi, merayap kembali kemasa2 yang ingin kujemput kembali, saat2 terakhir sebelum kebahagianku terenggut hampir sempurna. Beberapa tahun silam yang benar2 menguras seluruh sendi kebahagiaanku
  • **************
  • “Pak rayyan, ini berkas yang harus anda tandatangani,” ujarku singkat diiyakan dua asisten kesayanganku. Dia mengambil berkas2 sembari mempersilakan kami minum dan menikmati gorengan buatan istrinya. Berulang kali dia membolak – balik lembaran2 berisi perjanjian kerjasama beserta lampiran2nya. Dia baca rapi, satu persatu kalimat yang menghiasi lembaran putih tersebut. Aku dan kedua putraku tak terlalu memperhatikan gelagatnya, karena terlalu sibuk memperhatikan ina dan cika adiknya berebutan buku yang kami bawakan.” Prak.. kertas2 tadi dicampakkannya dengan penuh emosi keatas meja, ,aku terkejut, bahkan sampai menumpahkan kopi kejas mahalku.” umi… bawa anak2 kedalam kamar” matanya menyala menatap kami bertiga satu persatu.
  • “ maaf, tuan armana yang terhormat, saya masih punya harga diri, dan masih punya keyakinan yang kuat terhadat agama yang saya anut, yang saya kira juga sama dengan yang anda anut. Dan apa yang anda tawarkan ini benar2 tidak bisa ditolerir , tidak bisa dinalar oleh akal sehat. Anda tahu apa dampak yang akan timbul? Tidak hanya Negara kita bisa hancur dengan scenario seperti ini, tapi juga agama kita pak. Begitu mudahkah anda menjual Negara dan agama kita dengan hitungan triliyunan rupiah? Generasi macam apa yang akan lahir dan tumbuh dinegara ini, jika proyek ini dijalankan?” aku tidak mengerti apa yang dimaksudnya.. yang kulihat hanyalah dua asistenku ku saling bertatapan dengan rona ketakutan. Aku tidak tahu jelas apa isi dari kertas2 itu, karena semuanya sudah diatur oleh dua asistenku, rama dan fikram.
  • ‘Pergi, …“dia berjalan kerah pintu, dan melempar berkas2 tadi keteras rumahnya yang dihiasi mawar putih diatas tembok2 rendah pengias teras. “pergi dari sini sekarang juga, … aku tak mau melihat muka2 seperti kalian disini, dan bersiap2lah berkemas untuk mendarat dipenjara, aku tak akan diam dan membiarkan kalian menghancurkan negeri ini…” pintu dibanting dengan keras, akupun terperanjat, tak pernah kulihat rayyan seperti ini, sosok yang begitu lembut, yang jarang sekali kulihat melampiaskan amarahnya sekalipun terhadap orang yang meremehkan kinerjanya. Aku rasa ini hal yang sangat aneh, ada apa diberkas itu, akupun belum membaca seluruh lembaran2 yang sekarang dipegang fikram. Tatapan mata mereka berdua begitu aneh, seolah ada sesuatu yang sangat rahasia yang mereka sembunyikan dariku, pemimpin tertinggi perusahaan.
  • Kupandangi sekali lagi rumah yang begitu teduh dan sederhana, satu meter didepan teras berdiri tegak pohon mangga yang buah2nya berjuntai2 hampir menyapu debu2 ditanah, dan tampak begitu ranum,dibawahnya berhias kerikil2 cantik yang dilingkari ban bekas berwana hijau tua bermotif daun, kreatif! Itu kesan pertamaku saat menginjakkan kakiku dihalaman rumahnya. Belum lagi barisan bunga lili yang berada tepat dibawah tembok kecil pembatas terasnya yang sedang bermekaran, juga anggrek2 yang bergantung dikiri kanan teras rumahnya juga kursi dan meja bambu yang terletak diteras rumahnya. Ada juga pecahan keramik yang menjadi permadani dari pintu pagar hingga teras rumahnya. Entahlah rasa apa yang menjalari sel2 sarafku, rasanya kutak ingin sedikitpun beranjak dari rumah ini, begitu teduh, begitu menentramkan. Kunaiki jaguarku bersama kedua anakku, dan akupun mulai mengintrogasi mereka satu persatu dengan berbagai pertanyaan, namun , nihil aku tak mendapatkan jawaban dari seluruh rasa penasaranku.
  • ***********
  • Kumasuki ruang kerjanya sambil melihat beberapa surat dan berkas yang terletak rapi dipinggir meja kerjanya. Beberapa buku2 motivasi juga buku fiqih islam dan sirrah serta Foto keluarga disudut kiri meja, juga alquran yang selalu setia menemaninya disela2 kesibukannya. Rekan kerja yang sangat kubanggakan. Map apa ini? Kenapa ada namaku diluarnya. Seingatku aku tidak pernah menyerahkan ataupun menyuruh seseorang untuk menyiapkannya. Kubuka perlahan , sambil duduk dibangku kerjanya, harum parfumnya seakan tak lekang, seolah dia masih disini bersama ku, mendiskusikan urusan kantor ataupun hal2 mengenai dunia islam.
  • Kubaca rentetan huruf yang berjejer rapi diatas kertas yang kukeluarkan dari map, APa ini?, aku tidak pernah menugaskan rayyan keluar kota, juga berkas2 lain yang harus ditandatanganinya. Siapa… siapa…?.. tidaaak,kubanting beberapa buku yang ada diatas meja kerjanya. aku tidak terima , pantas saja ina menuduhku merencanakan pembunuhan ayahnya saat pemakaman tadi. Kubuka laci meja kerjanya untuk memastikan keganjilan yang terjadi. Beberapa file dan ,,dan,, surat ancaman dari mereka, dua anak kesayanganku…. Ya Allah.. apa ini,, apa maksud mereka berdua.
  • Aw… tanganku teriris benda tajam, kuperiksa kembali laci mejanya, ternyata cutter kesayangannya yang kadangkala saat diskusi ringan kami gelar digunakannya untuk mengupas mangga ranum yang dibawa dari rumah , kuambil cutter penuh memori itu, akan kusimpan baik2 gumamku dalam batin. Disebelahnya kutemukan sebuah diary yang benar2 menghentakkan seluruh jiwaku, melepaskan seluruh tulang2ku dari tubuh,dan aku merasa seolah ruhku lepas dari ragaku ini. Sebuah foto masa lalu dan catatan kecil untuk ibunya yang telah tiada.
  • **********
  • Ina, 10 tahun kemudian
  • Masih ku ingat bagaimana sepuluh tahun yang lalu aku menemaninya hingga tarikan nafas terakhirnya, aku bahagia meski harus kehilangan dia untuk selamanya. Begitu banyak ganti rugi duka yang kutanggung hanya berdua bersama adik kecilku bertahun – tahun , dan seolah semuanya berganti kado istimewa dari-Nya.
  • Hari terakhir bersamanya adalah Idul fitriku terindah bersama dia dan cika , adikku. Aku mendorongnya dikursi roda melewati taman bunga rumah sakit yang memang sedang bersemi, semerbak harumnya benar2 menggelitik hidungku, bahkan hampir saja tangan jahilku ini mencuri setangkai bunga mawar yang ingin kuhadiahkan untuknya kalu saja tidak ada seorang perawt yang menegurku. Percik air mancur yang berada ditengah2 taman bunga menyatu lembut bersama simfoni angin yang perlahan menyentuh pucuk2 dedaunan berbagai macam bunga yang sedianya memang menjadikan hati ini hanyut dalam melodi ketenangan. Ditambah lagi rimbunnya pohon asam dikiri kanan jalan setapak ini, juga sebuah mushala kecil yang berada disebelah kiri air mancur yang lazim digunakan pengunjung rumah sakit. Cika berlari kecil mendekati kami, dengan baju kembangnya dan topi rendanya, kelihatan seperti seorang putrid yang sedang berlari ditaman istana,, “kak, foto dong…kapan lagi..ayolah kak… minta tolong sama kakak perawat itu”. Aku dan dia tersenyum tipis mendengar celoteh cika diSenja terakhir bersamanya.
  • “kak, dah beres?.. yang lain udah dibus.. ” aku terbangun dari lamunanku..kuintip keluar jendela, anak2 sudah mulai grasak – grusuk menungguku. “ cepat kak,,,,,” teriak mereka. “iya cika, bentar ya,,,, kakak ambil kunci mobil dulu, abang iparmu lupa tadi..” sekali lagi kupandangi foto terakhir bersama dia sebelum berangkat shalat ied kebaiturrahman bersama anak2 panti . “ Walaupun sekarang kau tak disini, tapi aku yakin semua sadaqah jariyahmu ini akan berbuah kebahagiaan disana, meskipun dulu semua niat baikmu terhalang oleh dua orang (anakmu) yang telah membunuh Rayyan -ayahku- . pengorbanan mu tujuh tahun mencari kami, benar2 tak kusia2kan, telah kupenuhi janjiku dan mimpimu KAKEK, PANTI ASUHAN dan PESANTERN BERSKALA INTERNASIONAL.” Semilir tipis menyelinap dari balik jendela yang kubiarkan terbuka, menggerakkan selembar bagan silsilah keluarga dan lembaran terakhir diary ayahku yang kugantung didinding “ ibu, aku menemukan dia,dia bahagia dan aku pun bahagia bersama ayah, walaupun yang dia tahu aku hanya rekan kerjanya yang bisa dipercaya, bukan sebagai anaknya”. Rasa haru mengelilingi seluruh bilik hatiku, takbir kemenanganpun memecah seluruh rindu yang masih bersarang dijiwaku.. Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar Allahuakbar walillahilhamd.
  • ‘amal – amal manusia itu ditentukan oleh niatnya, dan masing2 orang sesungguhnya akan mendapatkan sesuai dengan niatnya’(HR.Bukhari)
Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s