Monthly Archives: November 2009

dibalik layar idul adha

Mengurai kembali sketsa idul qurban yang telah mewarnai sisa – sisa hidupku.

Malam takbiran yang ditemani ruahnya air langit, menyembur dari kisi- kisi awan, basahi tanah tempat berpijak, beriring bening tiada muara dikedua pipiku.

Hujan ini benar2 memberi berkah , tak hanya bagiku tapi juga bagi mereka yang malam penuh takbir ini tak sedetikpun memejamkan mata karena harus berjuang ekstra sebagai orang – orangdibalik layar kesuksesan idul adha. hujAn tlah member ruang sejuk disela2 keringat yang tiada henti menuruni hutan dipermukaan kulit dan wajah mereka.

Merekalah sosok 2 yang semakin berpeluh saat hari raya menjelang, orang2 dibalik layar yang jarang sekali menjadi sorotan bahkan naik keatas panggug sebagai pelakon utama dalam sebuah drama berjudul idul adha atau idul qurban.

Putarlah mata mengitari meja2 tamu ataupun meja makan, dan lihatlah dengan kedua mata yang masih dipinjamkan-Nya.. sketsa kenikmatan hidangan yang beraneka ragam, yang lahir dari tangan2 yang tak mengenal lelah, mata2 yang tak mengenal kantuk, bukan karena kesombongan mereka, namun ada hal special dihati mereka untuk tetap bergelut tanpa embel2 tersebut demi menghadirkan senyum dan bahagia dipanggung idul adha bagi orang2 istimewa yang tak sempat melirik hal2 kecil yang berdampak spektakuler : para pembuat kue kering, lontong, thimpan, dll

Hari hari berikutnya, masih dalam konteks panggung idul adha, mereka para penjagal, yang bertarung dengan hewan2 kurban, acapkali menjadi sosok yang tak terlihat, pahlawan yang tak penah minta diberi nama. Coba kita bayangkan, tanpa letih dari mereka, akankah ritual qurban kita tersukseskan?

Sungguh pahlawan2 dibalik layar yang mengagumkan, bekerja dengan peluh, namun tetap tidak menggila keatas panggung..

At the end of all

duri-duri menikam perlahan dijalan nanterjal.,
mengiris sekeping harap yang menjauh beranjak,,,
terbangkan segenap kerinduan semesta pada sang khatulistiwa.
membulirkan tangisan yang beranak dalam derai kamboja..
mengantarkan…
kerenda dan kafan dalam dekapan tanah merah..
perlahan …
kamboja gugur ditepinisan yang membeku akibat keangkuhan surya…
tapi…semesta kian bertakbir..memuja keagungan-Nya,,,
atas langit yang kian menjingga…
atas air yang kian beriak,,
atas langkah yang kian memepi menuju akhir…..
saat undangan perak terkirim dari sang malaikat maut…
saat untaian – untaian dosa kian melebar rajutannya…
saat hati menghitam membekas noda..
saat jiwa tak lagi beratapkan rindu-Nya
saat bulir tangisan mengombak dari hati yang kian gersang,,,,

Saat langkah harus benar2 terhenti……
where willl we go?

Seruas mimpi “penulis hebat”

Kumulai tulisan ini , dengan memutar kembali memoriku melintasi dimensi, menuju masa lalu yang telah pergi dan benar – benar tak akan kembali. Kurunut satu persatu klise yang telah kulalui, dan kutemukan disana, dulu, sekitar 7 tahun lalu, mimpi awalku menjadi penulis hebat lahir kedunia yang tak bisa kuberi judul apapun saat itu, harapankah, mimpi, atau Cuma khayalan tingkat tinggi yang takkan berbuah apapun dan hanya menjadi partikel – partikel debu , makanan angin.

Penaku pertama sekali menari diatas secarik kertas saat aku berumur sebelas tahun, waktu itu aku masih duduk dikelas 1 smp.puisi pertamaku dimuat dimading, tak bisa kulukiskan rasa bahagia yang menari dipermukaan hatiku, setelah melalui seleksi yang tidak seberapa ‘wah’ oleh seorang guru bahasa Indonesia, dan menyingkirkan ‘finalis” lainnya, aku bisa menatap beberapa bait kata – kata yang telah kurangkai dengan susah payah, selengkung senyumpun hadir tanpa undangan khusus diwajahku.

Namun, apalah daya, pembunuhan karakterku terjadi, seseorang yang berprofesi sebagai guru dismp tersebut justru meragukan kalau tulisan tersebut adalah hasil coretan tanganku, yang menghadirkan awan hitam penghalang niatku melanjutkan karya..

Tiga tahun, tulisanku mati suri, tanpa ada satu abjad yang tertoreh diatas kanvas manapun, sederhana saja kupikir : anggaplah memang belum saatnya aku bberjuang menjadi penulis, toh saat itu mimpi tersebut belumpun menjadi benih dibilik hatiku.

Masih kuingat, debut pertama yang melahirkan semangatku menulis (kelas dua sma), puisi yang lahir darii nuraniku karena sikapku yang kuanggap masih jauh dari seorang muslimah ideal, puisi itu kuberi judul “muslimah” yang sampai sekarang masih disimpan erat – erat oleh beberapa sahabatku semasa SmA. Karyaku terus mengalir, bahkan aku lebih memilih duduk dikelas saat jam istirahat menjemput untuk sekedar menuliskan beberapa puisi, dibandingkan harus keluar kelas dan mengisi kekosongan perut. Tak bisa kupungkiri obsesi menjadi penulis hebat acapkali menelan bulat – bulat rasa lapar dan lelahku, dan semuanya seolah terhempas begitu saja saat penaku menari diatas kertas(laptop masih diluar jangkauan-red), meski hanya untuk konsumsi teman – temanku. Tapi ,saat kuintip relung hatiku terdalam, ada mimpi menghasilkan karya spektakuler disana , mimpi menjadi “ penulis hebat”.

Semester awal kuliah, saat masih buta dengan internet, jujur saja aku mengalami “downisasi”(istilah apaan ne???), karena sempat mendengar beberapa orang memiliki blog pribadi yang berisi karya2 mereka, dan dengan sekali klik karya – karya mereka akan menyebar keberbagai pelosok, sedangkan aku hanya bisa menulis diatas kertas, itupun hanya dibaca segelintir orang karena tak seatompun keberanian untuk mengirim karya kepenerbit kumiliki. Belum lagi latar belakang keluarga besar yang sama sekali tidak ada yg bergerak dibidang tulis menulis, dan bukanlah penikmat buku – buku sastra sedikit banyak juga mebunuh karakter menulisku, bisa dikatakan : jika saat dikampus semangat menulisku hadir, bertolak belakang dengan kondisiku saat pulang kerumah, miskin karya, miskin ide!!!!!!.

Tak kubiarkan semuanya tenggelam begitu saja, kulawan semuanya dengan beberapa diary yang berisi karyaku, walaupun tak tersebar kepada siapapun, tapi aku tetap bertekad kuat,menulis, menulis, dan menulis, meski penaku harus kehabisan tinta, tapi aku akan tetap menulis dialam fikirku, merekam baik – baik memori – memori terspektakuler dan menuangkannya disaat aku mampu menggerakkan penaku kembali.

Padam ,yah padam lagi karena kesibukan dikampus, sampai akhirnya kutemukan jejaring social ini, sebelum meluncur keblog, untuk melahiran karya – karyaku. Semakin lama aku berkutat disini, semangatku semakin membara, ditambah lagi kritikan dari sahabat – sahabatku yang benar – benar membangun karakterku. aku memang perlu asupan kritik ini, -walaupun kadang menyakitkan- supaya tidak kelaparan ditengah ambisi yang melangit yang akan membuatku padam kembali. Akhirnya aku memiliki blog pribadi yang walaupun masih seumur jagung, tapi setidaknya mimpi awalku menjadi penulis hebat tercapai : Bisa tetap melahirkan karya tanpa harus padam gara – gara kepengecutan menuju penerbit. Serta bersiap – siap merajut mimpiku menjadi kenyataan, dengan senjata : tidak berhenti berkarya, tidak putus asa hanya karena suatu kritikan pedas dan mengubur dalam2 pola pikirku “masih banyak penulis lain yang lebih bagus tulisannya”yang berdampak enggan kepenerbit.

Tidak!!!!. kukatakan tidak , aku tak ingin padam lagi untuk kesekian kalinya hanya gara2 pola pikir menahunku tersebut yang benar – benar menjadi tembok tinggi selama ini untuk menghasilkan karya. Semangatku kian lahir saat kutemukan banyak situs online yang menerima karya dengan pengiriman via email, I like this.. melenyapkan satu ketakutan dan kemalasanku lagi , ‘singgah kekantor pos”.

Garis hidup membawaku menemukan beberapa komunitas bagi pecinta tulis menulis , salah satunya http://www.facebook.com/penulishebat ( bisa difollow juga di http://www.twitter.com/penulishebat) .situs yang kian memacu semangatku mewujudkan mimpiku. Secara tak sengaja, atau memang disebut takdir ya….aku menemukan sebuah buku hebat dari situs http://www.penulishebat.com yang benar – benar mengangkat mimpiku menjadi sepotong kenyataan , sebuah buku yang hadir tepat disaat semangatku makin menggebu, ibaratnya korek api bagi kayu2 kering yang siap dibakar. Aku dipertemukan dengan sebuah buku “CARA DAHSYAT MENJADI PENULIS HEBAT” –meski masih sampelnya- yang isinya benar – benar menjadi cambuk untuk segera bangun dari mimpiku dan mengangkatnya kedunia nyata, setidaknya pisau yang sudah ku asah ini tidak akan tumpul segera,karena batu asahnya sudah kutemukan.

Membaca buku ini, mebuatku semakin yakin menjadi penulis hebat bukan lah terletak pada sebanyak apa karya yang kita lahirkan, bukan hanya terpaku kepada kuantitas (penulis sukses yang dalam setahun bisa menghasilkan puluhan buku, dsb), tapi lebih merujuk kepada kualitas dan juga kemampuan diri kita mengontrol semangat agar tak padam hanya karena sepercik kritikan,dan mau terus berkarya dengan menepis rasa malas, dan menyingkirkan hantu – hantu pengganggu yang menenggelamkan keoptimisan, dan terus memelihara keyakinan sukses dimasa yang akan datang.

Buku ini diterbitkan oleh jonru (penulis yang paling popular didunia maya ini) yang untuk sementara –sebelum versi cetaknya terjun dipasaran-terdiri dari dua paket e-book dengan voucer diskon yang luar biasa senilai 200 ribu rupiah, dan juga terdaftar sebagai siswa Kelas Free Trial Sekolah-Menulis Onine,.

Aku semakin optimis, lima atau sepuluh tahun lagi, aku sudah berdiri dipuncak sebuah penerbitan yang kupimpin sendiri dengan karya – karya spektakuler yang benar – benar mampu meresap dan memberikan berjuta manfaat bagi negeriku bahkan hingga kemancanegara.serta memberi warna baru bagi pembacanya, bukan hanya sekedar lalu dan selanjutnya redam begitu saja tanpa ada suara – suara berikutnya yang sedianya akan menjadikan karya tersebut lebih tertanam dan bermanfaat dikalangan pembaca.

Dari mimpi Seorang anak rumahan yang akan mengangkat nama daerahnya, dan memiliki perpustakaan raksasa berisi karya- karyaku dan juga karya spektakuler penulis hebat lainnya untuk masyarakat kalangan bawah yang masih minim minat bacanya..

Mimpi penulis hebat dimasa yang akan datang (insya Allah,mohon do’anya.. ^_______^ )

Demi mengangkat martabat bangsa……..

suara hati orang orang dhuafa

jika memang kesedihan ini adalah harta terakhir kami
tolong jangan rampas dia hingga hati kami tak lagi merasa apapun
bahkan padam rasa
jika memang kalian tak peka dengan kami
tolong jangan injak kami dengan berlian kalian

jika memang kami dimata kalian
hanya ada dibulan mulia, diacara – acara syukuran kalian
tolong jangan cabut sisa harga diri kami dengan merampas selembar karton alas tidur kami
dan membakar dalam perapian kalian
jika memang kami hanya sampah bagi kalian
tolong berikan kami tong kosong tuk sekedar melenyapkan diri
agar kalian tak tersapa

jika kami hanyalah debu tak berarti
biarlah kami lintasi jagad raya ini dengan sayap ilusi
yang tak pernah kami niatkan mengganggu kalian

resapi kicauan terakhir kami
kelaparan kami juga tanggungan kalian, meski hanya sebutir nasi
kedinginan kami, juga ada dalam sehelai benang selimut kalian
meski kami hanya puing tak berarti, tak terjamah
dan tak terlihat bahkan dengan mata terpicing

yah, kami hanyalah bayangan yang tak pernah bersisa disudut2 kejayaan
hanya menepi dibening hati segelintir kalian
hati mengenal Dia

karena dalam setiap ruas kekayaan kalian , ada hak kami disana

lintas aceh berhujung langsa

seulawah
meranggas hijau yang kau miliki
terhanyut, ikuti eloknya tarian angin
bersender didipan tanah
dan sisakan dibatang tua
kuning helai helai tua

aspal mengelupas
terinjak kasar besi besi tua
baja keras menggiling ratakan lubang tak bernyawa
lahirkan debu dari tanah kering tergiling

lari arus lintas, kejar mengejar waktu yang tak jeda sejenakpun
lemparkan raga, ciprakkan darah, basahi bumi
picing terpandang, degupkan jantung meroket jalannya

jalan raya
lintasan kematian yang tak pernah sepi kisah

beranda hidup ; sopir langka

Memori 15 november,
*****
Pagi ini, kulalui dengan selimut risau, begitu banyak agenda yang harus selesai kujilid rapi. Bak seorang wanita karier yang harus berlari bersama waktu, mengejar deadline proposal bisnis, meeting dan urusan klasik lainnya, aku juga harus berlari bersama sang wakttu. But, aku bukanlah wanita karir. Hanya saja hari ini aku harus lebih gesit bergerak, meminjam kecepatan cheetah agar semua urusanku bisa selesai tepat waktu, karena ada planning “super” diujung lintasanku hari ini (baca: pulkam)

****
Setelah subuh selesai kurenda, setitik penyesalan melintasi ruang hatiku, permukaan planningku ternyata sedikit bergelombang, banyak aspal yang tak rata menyelimuti, hanya karena bergadang yang berefek tidak sempat menyapa sajadah sebelum subuh mengetuk pintu, yang artinya sama dengan packing2 mengalami pergeseran di kulit planning. Yah jelas saja harus terjadi gempa local berkekuatan beberapa skal ritcher yang berefek pada gerakku menyelamatkan diri (baca: ngebut kerjaan), cek list barang bawaan, update antivirus yang kian menggila, de el..el..

****
Jam 8.30 , urusan internal ku selesai, dan saatnya beranjak sejenak keluar sana, menghitung kerikil jalan, sembari mengurus masalah keuangan —–keAtm terdekat, eits.. weit.. tujuan utama saia kesana bukanlah untuk membobol atm tersebut, karena aku sadar tak sedikitpun memiliki bakat teroris meskipun mengecap pendidikan diteknik kimia. Selepas mengguncang mesin ATM, sampai harus rela mengeluarkan beberapa rupiah untuk menghiasi dompet hitam ku, langkahku benar2 kupercepat, ada dua tanjakan lagi yang harus kutempuh. Tanjakan pertama, update antivirus, efek gempa local yang meruntuhkan pondasi kesabaranku menunggu modem yang tiba2 menjadi sangat lambat untuk ritual ini,padahal sudah sangat kepepet. Tanjakan kedua gedung teknik kimia yang tak seberapa besar it, 3 lantai dengan beberapa lab raksasa.
****
Setibanya diwarnet langgananku, dengan bermodalkan voucher satu jam, aku duduk kembali disinggasanaku yang lama tak kusinggahi, karena sudah memiliki singgasana baru untuk menjelajah dunia web dikosan ku yang tak seberapa itu, kosan tak seberapa murah-red. Jam 9 wib, antivirusku selesai diberi makan, dan secepat mungkin kulangkahkan kaki menuju kampus, namun apalah daya, energiku terkuras habis ,diperas layaknya santan dikelapa yang hendak dibuat sayur, nyaris tak bersisa, kakiku sudah tak sanggup lagi melangkah menuju gerbang kampus, jam tanganku pun hampir mendekati arah angka 6, ‘nanti dijemput jam setengah sepuluh dek” terlintas ucapan pihak loket L-300 langgananku.

*****
Urat2 sarafku saling bertabrakan, mencoba mendesain keputusan secepat lintasan roket, dan hasil akhir yg terhitung adalah “batal kekampus,dan menyerahkan segala lembaran2 yang harus disematkan tanda tangan orang2 penting kepada rekan penelitianku”

***
Klise berikutnya adalah menunggu : hal yang sangat membosankan apalagi untuk sosok yg mengalami kephobiaan tingkat tinggi dalam urusan menunggu.
Berselang setengah jam sang jaguar istimewa pun datang, L-300 langganan… setelah mengucapkan salam perpisahan sama personel meureubo hardvard yang masih tersisa, melintaslah aku sejenak mengelilingi aspal banda aceh dan berhenti sejenak dijl. cut mutia, markas l-300 ini yg berseblhan dengan terminal labi- labi sebelum benar2 meninggalkan banda aceh.
****
Beragam potret kehidupan kurekam baik2 dengan mataku ini, puluhan becak berjejer, para penjual sayur, labi2 saling merayap menanti penumpang diiringi irama klakson yang memekakkan telinga juga ditambah sajian istimewa teriakan penjual sayur yang menjajakan dagangannya tepat dipinggir jalan. Begitu kontras dengan panorama disimpang Surabaya sekitar 20 menit dari jln cut meutia, tepatnya disebuah warung kopi raksasa yang berhias parkiran mobil2 mewah. Sayangnya tak ada camera digital ditanganku untuk mengabadikan potret2 kehidupan ini, ( bermimpi sejenak bisa menyelami dunia fotografi…dunia kedua setelah menulis yang ingin kugenggam erat2)

*****
Perjalanan dari markas dilanjutkan dengan mengambil rute melewati pendopo gubernur -berpagarkan tiang2 bertulisan asmaul husna -yang sedang dipugar, mengambil jalan putar sampai akhirnya mlewati sebuah asuransi jiwa yang dulunya sebelum kerja praktek pernah kusinggahi bersama teman2 untuk mengurus asuransi kerja praktek, dari luar tetap seperti dulu. Gambaran kosong yang seolah berbicara tidak ada penghuni disini.
*******
Kurasa perjalanan kali ini benar2 akan menyenangkan.
Dengan sopir yang tidak kutau namanya siapa, namu dimataku memiliki keistimewaan tersendiri. Memiliki karakter yang sungguh berbeda dengan komunitas sopir biasanya.
Fenomena yang lazim terjadi dikalangan sopir angkutan umum adalah kebut2an, maki2an, de el.el Yang kadang kala hampir memecahkan gendang telinga dengan loudspeaker lagu2 nyelenehnya, dan suka membinasakan diri sendiri dan penumpang dengan laju lintasan yang cocok untuk melepaskan jantung dari tempat bernaungnya.

Jalan raya acapkali kudengar disinggung – singgung sebagai arena kematian, bagaimana tidak,, kondisi yang tidak selalu stabil, padat, sedikit sekali yang benar2 mau taat dengan rambu2 yang ada, dengan kesembronoan seseorang saja dalam mengemudi bisa menggeleparkan puluhan nyawa dalm sekali injakan gas. Belum lagi iringan music pengantar bayangan kematian yang kerap diputar tidaklah sedikitpun didalamnya tersebut nama Dia, Sang Penggenggam Hidup. Sama halnya dengan lisan yang begitu mudah menguraikan mutiara makian , jika ada sesuatu dijalan yang kurang berkenan dihati sipengemudi.. yang nyaliplah, yang juga kebut2anlah, belum lagi ditambah kebiasaan ga shalatnya… fenomena yang sangat2 lazim sepertinya.

****
Aku merasa langit hari ini benar2 tersenyum atas keberuntunganku,karena sopir yang ada didepanku ini bukanlah sosok2 mayoritas diatas..
Seorang bapak yang benar2 memiliki keistimewaan, mobil berhias dvd player ini tak sedetikpun terhiasi nyanyian2 tak beres yang mampu memekakkan telinga, tak ada sebatang pun punting rokok yang dilemparkan pak supir keluar jendela, tak ada satupun makian yang memporak – porandakan ketenangan penumpang, juga ritual shalatnya yang benar2 tak lekang dari sisi kehidupannya..
Beberapa kali aku beruntung, menemukan beliau dikursi paling depan sebagai supir, tak ada yg perlu kukhawatirkan untuk urusan tempat berhenti jika bersama sosok ini, pasti beliau berhenti drumah makan yang ada tempat shalatnya.. dan selalu saja saat kakinya menginjak pasir2 didepan rumah makan, langkah pertamanya adalah menuju ketempat shalat, melepaskan penatnya dan beristirahat dalam shalatnya..

Pernah, beberapakali aku mendengar percakapan nya dengan keluarganya, istrinya ataupun anak nya melalui hp, dan kulihat jelas kerinduannya terhadap keluarganya, sifat penyayangnya terpenakan begitu saja saat bayangan keluarganya hadir dipelupuk matanya..
The last…Sampailah aku dikota kelahiranku, kerlap kerlip lampu menyambut kedatanganku, dan akupun turun dari l-300 dengan perasaan sngat nyaman,oleh2 lokasi shalat yang benar2 nyaman
Sopir langka dizaman edan ini…
Semoga saja bisa kutemukan lagi sopir2 spektakuler seperti ini dilain waktu,
Yang mampu memahami tujuan hidupnya dengan baik, ritual yang tak terlupakan hanya karena sebilah pekerjaan, dan mampu juga menjalin komunikasi yang manis dengan keluarganya sesibuk apapun rutinitas hariannya….

Salam
Dikota langsa yang denyutnya mulai bangkit, dikala subuh yang pecah oleh bait2 suci

memori disenja2 terakhir

13 Ramadhan yang benar2 mengajarkanku lebih berhati2 bersikap, berhati2 memilih orang2 terdekat, sahabat2 terdekat…. Karena semua hanya milik-Nya..

tak ada kata, tak ada bait, tak ada lagi juntaian pujian yang sedianya dulu kuhadiahkan untuk sosok- sosok yang TELAH SALAH kuposisikan sebagai helaian2 sayap yang bisa menerbangkanku melintasi jagad raya ini, bahkan hinggap ke’arasyi.

Terakhir kali, episode yang kita lalui adalah perdebatan panjang yang sebenarnya bukan perdebatan, tapi sebuah paksaan yang keluar perlahan tapi menusuk dan jelas2 melepaskan seluruh sayap kepercayaan. Kulihat jelas ego yang tercermin dari bola mata kalian yang tak sedikitpun peka dengan langit dunia yang berembun. Terukir jelas dengan tinta emas penghianatan terbesar dalam bulan mulia yang tak pernah kusangka akan dikadokan-Nya untukku.

Semilir duka yang melintasi pori2 beku takkan berbisik lagi, BENAR2 TAKKAN BERBISIK LAGI, untuk setia menatap hingga kontrak selesai. Tinta2 yang kusimpan dan kujaga agar tidak mengeras, ternyata benar2 harus kutumpahkan seluruhnya agar sekiranya kalian bisa membaca isyarat jiwa yang kalian tindas,

Jangan pernah tanyakan apapun..jangan keluhkan semua titah yang kalian keluarkan dan menghancurkan kerikil2 harapku.. tak pernahkah mencoba meraba hati kalian sendiri yang benar2 terkontaminasi dengan omongan sampah, tabiat sampah, bahkan suara2 keledai .
Terakhir kali, yang kusesali adalah karena kalian tak lagi dan tak akan pernah bisa menjadi mentari2 yang kuharapkan menyinari hidupku, yang mengantarku kenisan ku,
Karena selama ini kutelah memakai kacamata yang salah, hingga pandangan jiwaku kabur dan tak melihat mutiara yang begitu mulia yang sedia menopang sisa2 hidupku diarah mata angin lainnya.
Tak usah kalian tanyakan lagi kemana kuterbang, karena sayap kepercayaan yang berabad menghiasi episode ini tak lagi tersisir rapi untuk kalian. Tak usah tanyakan kediamanku dalam setiap celoteh kalian karena sudah lama sayap2 kalian ingin kulepas. Karena sudah menuaku dalam lingkaran yang tak pernah kuimpikan,
Tak sampai satu dasawarsa semua memori harus perlahan terkelupas,

satu demi satu..dan berikutnya

biarkan memoriku yang lenyap selamanya, memori tentang kalian, dan memori ku dalam jiwa kalian

Karena kalian bukan yang aku cari, orang2 yang tak pernah mengenal siapa aku sebenarnya
dan karena trauma itu kembali hadir saat aku bersama kalian!!!!!

Biarkan kusendiri menunggu jemputan kerenda dan kafan dari syurga, karena itu tujuan hidupku, dan kutegaskan sekali lagi bukan bersama kalian…..

Terimakasih…… semoga Allah membalas kebaikan kalian selama menjadikan aku bayangan kalian…..
Selamat tinggal

~“({[_ _ _ _ _ _ _ _ _ ]})”~

Dedicate untuk segelintir orang yang terlalu murah menilai harga sebuah persahabatan, untuk mereka yang tak pernah mengenal sahabat mereka dengan jiwa mereka… untuk orang2 yang lebih mementingkan egonya, untuk mereka yang tak pernah sadar akan keberadaan sahabat2nya,… yang selalu memberikan titah untuk sahabat2nya , bukan suatu diskusi yang menawan…
untuk
<<<>>>
semoga kalian segera mengerti!!!!!!!!!!!!!!!!!!

!!!