import dari facebook

5.36 pm in Meureubo A6 “hardvardnya Unsyiah”
Apakabar sohib2ku, sudah lama rasanya jemari ini ga nyentuh tuts2 laptop yang udah jadi solmate qu buat nyorat – nyoret difb, perjuangan yang berat untuk menjaganya, mulai dari batrei , berulangkali diserang virus , harddisk rusak pas dihari seminar kp, yang berhujung “ngebantuin” orang2 yang punya usaha perkomputeran (nah lho, kok gini bhasanya), biar rejeki mereka ngalir layaknya aliran sungai yang bening banget plus kerikil dan bebatuan yang tersapa aliran lembutnya…

Mumpung agenda jjsnya batal, berhubung personel A6 lagi pada sibuk semua, so, muncullah keisengan nyorat nyoret yang semoga bisa berbuah menjadi kado istimewa pelepas penat bagi yang sempat membaca tulisan ini. mencoba menulis yang serius tapi dengan bahasa yang ringan.


Kulayangkan pandangan sembari menyibak gorden biru (hiks, pinginnya hijau, )Lumayan bosan lah bagi diriku yang harus bertahan cukup lama disini sejak pertama kali menghirup aroma banda aceh, dan menginjakkan kakiku ditrotoar banda aceh yang kian hari kian disapa terik matahari.. sketsa yang cukup menghiburku dikosan ini adalah nyanyian daun2 pisang yang juga diajak menari oleh sang angin , hingga merubah wajahnya menjadi mozaik2 yang tak bisa dikaitkan lagi (maklum, sangking kencangnya angin, daun2 pisang pada rusak semua), namun tetap dengan tasbih cinta yang benar2 membahana karena ketundukan dan kepasrahannya terhadap ketentuan Sang Maha Cinta. Juga rumput teki (mantan bahan penelitianku) yang berbaris rapi dan kian lama kian subur terpupuki daun2 kering pohon belimbing yang sujud diatas bumi, atas takdir-Nya juga. Sesekali hujan membasahi tanah, dan juga mendendangkan kebahagian rerumputan dan juga phon2 lainnya yang kehausan yang berbisik pelan kepada Yang Maha Pemberi dengan penuh kelembutan agar sekiranya mau melenyapkan dahaga mereka, yang juga berkah bagi kita..

Gemericik air yang melalui keran2 ditiap2 kamar juga bisa menjadi alunan merdu, juga tabrakan air diatas genteng saat hujan mengguyur, karena semua ini adalah keindahan yang bisa terlihat dengan batin yang diindahkan-Nya, lewat syukur yang lirih terucap atau pun tersembunyi dibilik hati terdalam.

Kita adalah manusia (yah jelaslah ,kalau ada yang merasa bukan, sudah bisa mendarat dikakap, perlu bantuan? ), yang kerapkali berdusta pada diri kita sendiri. Acapkali, tanpa kita sadari saat sebuah prestasi berada digenggaman kita, kita sering luput dari satu fakta, bahwa semua_Nya karena Dia. Kita juga sering mengalungi dan menghiasi diri kita dengan rantai kesombongan dan keangkuhan, atau sering bangga akan prestasi dan kekayaan yang dalam “konteks pikiran sesaat” kita adalah karena kerja keras kita. Memang benar, ikhtiar dan do’a itu sejalan, tapi tak bisa kita pungkiri bahwasanya segala sesuatu itu, kebahagiaankah,petaka, bahkan hingga sehelai daun yang mendarat dipermukaan tanah , telah tertulis rapi dalam sebuah kitab kehidupan jauh sebelum peristiwa dan episode itu terjadi, maklum kita memiliki sutradara terhebat yang tiada tandingannya dijagat raya ini, yang alam inipun tak segan2 tunduk pada scenario2 nya, Dialah Allah, Sang sutradara hidup kita.

Sohib2ku, pernah mencoba berbincang2 dengan hati????
pernah gak sih kita merenung sejenak, mengambil nafas dalam2 dan membersihkan fikiran kita dari ambisi2 liar yang sering membutakan mata hati kita, pernah gak kita merenungi nasib diri yang gak pernah kenal dengan Sang Khalik, yang hanya mampu mengeja nama_Nya saja, tanpa sedikitpun meresap dalam pilar2 hati, pernah ga kita merenungi diri yang hanya dihiasi kecintaan dan obsesi menggebu terhadap dunia fana ini, yang tanpa kita sadari telah menggores beningnya hati dan perlahan kehilangan bahasa lembutnya, karena luput dari mengingat_Nya.

pernah gak kita hitung berapa menit dalam sehari hati kita merasa nyaman karena lantunan dzikir yang mampu menembus keangkuhan, pernah gak kita intip dalam ruang kecil yang “tersisa” dari setiap kesibukan kita berapa banyak amalan berselendang keikhlasan atau tumpukan dosa yang sedianya terselip dan berdebu disana, tanpa sehelai istighfarpun. Dan apakah pernah hati merasa hari2 kita begitu indah karena kekuatan dzikir dan cinta untuk_Nya yang menjadikan setiap tindak tanduk tertuju kepada_Nya. menghidupkan batin dengan kecintaan yang teramat special untk_Nya tanpa sedikitpun tercemar ambisi “gila” kita mengejar dunia?.

Siapakah kita sebenarnya, hamba Allahkah atau hamba dunia??

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s