Arsip Tag: orat-oret

lahir dari mimpi – mimpi

SALAM.

“kesuksesan  lahir dari mimpi – mimpi kita, maka teruslah bermimpi dan rekatkan ia dengan usaha serta do’a”

anda punya mimpi? saya yakin jawabannya adalah iya, tentu saja, benar sekali dan rekan – rekannya. Lagipula tak ada salahnya dengan bermimpi, toh kebanyakan orang sukses bermula dari mimpi – mimpi mereka di masa lalu. mimpi yang semula hanya mimpi dan dengan usaha serta do’a , ianya menjadi kenyataan yang seakan – akan membawa si pelakon (kita) seolah berada di ruang mimpi saat mimpi itu menyata adanya.

Ini bukanlah tentang lelucon ataupun omong kosong. Yang saya tuliskan hari ini adalah hasil dari mencuatnya mimpi – mimpi kecil saya, mimpi – mimpi yang dulunya hanya bertengger di ruang mimpi . Dan saya, kala itu sama sekali tidak berani mengeluarkannya dari ruang mimpi itu ataupun berteduh di sana terlalu lama. Khawatir akal saya tak berfikir secara sehat lagi. Namun, yang terjadi ternyata saya tetap saja mendobrak ruang mimpi itu, masuk kedalamnya, terlena sejenak, lalu mencoba segala upaya untuk mengeluarkan mimpi itu meski tak sekilat mengedipkan mata. Lanjut membaca

Repost : kursus Para Koruptor

kursus koruptor ; silakan mendaftar, free….

Debu  debu masih setia menemani perjalananku hari ini. Terik tak luput mengekor setia. Belum lagi lalu lintas padat, tak hanya polusi udara dari knalpot – knalpot yang belum teruji emisinya, tapi juga polusi suara yang takkan kurang menggedor – gedor gendang telingaku.

Ah, kalau bukan karena tugas dari big bos, mana mungkin aku berpeluh – peluh seperti ini. Tugas istimewaku hari ini adalah mewawancarai salah satu tempat kursus terpopuler di kota ini, yang namanya saja tak hanya menggema di seluruh Indonesia bahkan di seluruh dunia. Lulusan di kursus ini mayoritas menjadi konglomerat. gila pikirku. Tempat yang keren pastinya.

Dua jam perjalanan dengan motor kesayanganku, tak sulit menemukan tempat kursus ini, tak ada yang tidak tau lokasinya. Di pinggir jalan, dengan warna cat yang sangat mencolok, gedung 4 lantai dan satu – satunya gedung terbesar di deretan komplek kursus ini, – masyarakat menyebutnya begitu karena kursus – kursus lainnya juga berdiri di kiri kanan jalan kolap ini

Dari luar pagar aku sempatkan memotret tulisan besar di dinding pagar , tepat di sebelah kiri gerbang masuk, kulanjutkan dengan area parkir yang penuh dengan mobil – mobil tentor , sebelum benar – benar menerobos ke dalam menemui direktur utama tempat kursus yang paling bergengsi ini.

“Selamat siang pak”, urung ku ucapkan salam yang lazim dalam keseharianku, karena aku sedikit ragu apakah orang  orang di sini adalah muslim. Tak ada atribut muslim yang kulihat pun atribut agama lain. Ah peduli amat, kata orang – orang mereka muslim tapi kebanyakan hanya cetakan ktp. Entahlah, daripada ragu – ragu aku memilih salam umum saja. Lanjut membaca

Aceh, 9 mei 2010

Siang tanggal 9 mei 2010 menjadi siang yang cukup mengagetkan. Cuaca tak terlalu panas bahkan terkesan mendung tapi hawa panas seakan – akan menjalar memenuhi setiap  ruangan. Dan langit  berwajah berbeda siang ini. Kami tersentak, terjaga, seolah kami masih tertidur. padahal tidak kawan.

siang tadi lepas azan zuhur berkumandang, sajadah siap saya bentangkan, lalu “kaaak, gempaaa” suara dari kamar di sebelah mengangetkan saya. Lalu pandangan saya beralih ke gallon air minum yang letaknya tak jauh di depan sajadah. Benar. Ternyata bukan keisengan saja. Air gallon bergerak menari – nari, air bak ruah , dan sayapun segera menuju pintu.Belum lengkap langkah saya menuju pintu keluar, goncangan semakin keras. Lanjut membaca

pelajaran penting hari ini

Apa kabar sahabat – sahabat blogger sekalian? Semoga sehat – sehat saja ya., bahagia dan juga mampu mensyukuri hidup yang masih kita jalani ini. Karena semakin kita bersyukur, sepelik apapun hidup yang kita lalui semuanya akan terasa begitu indah. Ya, karena hati yang bersyukur senantiasa lapang hingga apa – apa yang ada di dunia ini tak menjadikannya risau.

Tadi sore akhirnya setelah genap sebulan saya sebagai mahasiswa semester akhir salah satu unversitas di jantong hatee rakyat aceh yang memborgol saya untuk stand by di depan laptop ahirnya keluar juga, sekedar menikmati angin sore. Perjalanan yang lumayan jauh. Biasanya hanya berkisar antara sector selatan hingga simpang galon saja untuk urusan memberesi si cacing yang sedang demo. Jaraknya kira – kira 15 menit jalan kaki. Dalam seminggu mungkin hanya satu atau dua hari saja saya menggerakkan kaki ini, (keterlaluan sangat) untuk keluar. Selebihnya untuk urusan – urasan kecil biasanya kawan satu kos selalu bisa diandalkan. Lanjut membaca

masa – masa miskin ide

Ideku lenyap…atau lebih tepatnya otak kanan sedang memilih istirahat. Deadline malam ini batal total. Tak ada tulisan  yang rampung. Yah sebagai  pengobat tulisan inilah yang lahir. Setidaknya saya merasakan apa – apa yang dirasakan beberapa sahabat yang gemar menggerakkan jemari hingga lahir abjad – abjad elok dalam rangkaian kata penuh makna, ataupun gelak tawa yaitu : kehilangan ide. Lanjut membaca

sebuah perjalanan..ya..sebuah perjalanan

.:。✿*゚゚・✿.。.:*.:。✿*゚゚・✿.。.:*.:。✿*゚゚・✿.。.:*.:。✿*゚゚・✿.。.:*.:。✿*゚゚・✿.:**.:。✿*
kau akan terus berjalan sama sepertiku sesekali lurus

sesekali melingkung

sesekali mendongak

sesekali menunduk

tapi tetap harus berjalan

berjalan hingga akhirnya kita tahu jalan pulang

jangan lupa bahwasanya kita masih di bumi

dan rumah kita ada di ruang lain

ada di dimensi lain

Lanjut membaca

surat terakhir dari si penyakitan (hanya sebuah cerita)

Aku kembali merenung, menarik nafas dalam dan mencoba mengaitkan koordinat – koordinat yang terus melintas di depanku, koordinat masa depan yang entah akan menemui puncaknya dan sketsa bayangan masa lalu yang kian menusuk – nusuk lembar – lembar ingatanku, ahh,,, percuma rasanya. Kuubek – ubek memoriku, tapi terlalu kecil kecepatan yang tersisa untuk menjalankan fungsi otakku.

Siluet yang tak pernah lupa mengunjungi ku di senja – senja terakhirku, benar – benar melegakan sedikit, yah walaupun hanya sedikit, tapi setidaknya, aku merasakan kehidupan masih bisa berpihak padaku.

Saat dukaku menjadi kilasan – kilasan yang tak berarti bagi orang lain, bahkan tak bisa terbaca karena kediamanku, aku masih memiliki Dia, ya, hanya Dia, tempatku melabuhkan segala perasaanku, yang takkan pernah membocorkan rahasiaku, tidak seperti segelintir orang yang sempat menyebutku sahabatnya, namun kemudian tanpa segan – segan melemparku kejalanan setelah mendapatkan keinginan – keinginan mereka.. aku kembali disini, seperti awal – awalku injakkan kaki di trotoar yang tak sanggup kulalui tanpa izin_Nya

Hari ini hari kesekian dalam hidupku, berada di ruang putih beraroma anastesi , hah, ruang favoritku beberapa bulan terakhir… selesai terapi kembaliku lanjutkan tulisanku, tapi kali ini bukan tulisan motivasi ataupun novel – novel bersetting negeri – negeri yang luar biasa indahnya, karena tulisanku telah selesai dan besok akan diterbitkan,tulisan ketigaku, buku ketigaku, dan semoga kali ini kembali best seller seperti yang sudah – sudah dan telah kalian baca beberapa kali. Penulis favorit kalian yang memakai nama pena archima, itulah aku, ARCHIMA, kuambil dari nama kalian… Lanjut membaca

renungan singkat : oleh – oleh Rumah sakit

bukan tanpa sebab apa – apa yang telah ada
selami alam fikir , temukan disana berjuta bahkan bermiliar keagungan  dari-Nya


RS Kesdam Banda Aceh 18 di bulan maret 2010

saat menuliskan ini saya sedang duduk di kursi tunggu RS KESDAM BAnda Aceh, menunggu seorang sahabat yang kontrol rutin kesalah satu bagian disini. Aroma rumah sakit yang sama dari hari ke hari ternyata masih hadir disini. meski berulangkali menjelajahi rumah sakit yang berbeda dari pertama kali pecah tangisan ke dunia ini hingga sekarang, ternyata tak ada aroma yang berbeda. satu hal yang bisa saya simpulkan saya bukan orang yang betah berlama – lama di Rumah sakit, merasa kurang cocok dengan aroma dan aura yang tertangkap dari rumah sakit.

mendadak saya merasakan rindu terik yang memanggang kepala di salah satu pabrik LNG di kota lhokseumawe. siang hari mengitari hektaran area bertangki dengan udara bebas hilir mudik tanpa perlu ventilasi, tangki menjulang tegak diantara rerumputan dan kerikil kecil, suara compressor yang memekakkan telinga sampai harus antisipasi dengan earplug.. helm pengaman dan sepatu besi yang harus selalu digunakan, juga asap – asap hitam yang selalu meluncur dari salah satu unit pembakaran..OJT ( On the job training) yang sudah setahun berlalu , ..

lihatlah sekitar, dan bersyukurlah…

angin masih hadir tipis- tipis, tak cukup usir peluh hari ini. panas diluar sana turut uapkan suhu ruangan ini. aku masih bisa mendengar desau diluar sana, bertemu dan bercengkrama dengan para dedaunan, daun – daun pisang yang pecah terkoyak dan juga beberapa lembar daun belimbing yang mendarat diatas coklat tanah.

inilah hidup teman… kita tak pernah benar – benar sendiri, jika tak ada manusia disekelilingmu detik ini, lihatlah diluar sana, makhluk – makhluk-Nya yang lain masih setia disekeliling, hadirkan celoteh yang lebih indah dari pada manusia sendiri, lihatlah mereka yang senantiasa tasbihkan keagungan Yang Maha Kuasa, sedangkan kita para manusia? ah, kurasa tak lupa ceracau sendiri mengeja keburukan orang lain yang sama artinya eja keburukan diri sendiri.

masih ada denting kebaikan yang bisa kita ikuti bersama, larutkan diri dalam melodi indahnya, melodi yang tertunai dari sebuah tutur baik, bukan sebuah umpatan. lihat lagi diluar sana, perang air dan batu disepanjang kali percikkan satu satu sisa air dan hasilkan padanan musik alam yang kian menawan. obat penegar hati yang cukup setia, lihat pula disekitarnya dedaunan hijau masih meliuk bersama nyiur, juga harum melati dan mawar yang usik indera penciuman…

masuklah kemimpiku teman, aku berjalan mengelilingi rimba, coba temukan zamrud, tapi  kusandarkan kepalaku pada batang – batang ilalang, . ahai, mengapa sedemikian jauh zamrud yang terambil?

karena ini yang kubutuhkan, ya, karena kita sering lupa mengeja syukur atas segala genggaman, genggaman yang nyatanya kita butuhkan , bukan sekedar permintaan hasil rapal berulang yang tak juga lahir didepan jendela.

ingatlah baik – baik duhai teman, aku bukan seorang hebat berkuasa ataupun adikuasa, aku hanya tak ingin terlalu larut dalam adonan keinginan yang bercampur bisikan setan, lihat dan syukuri saja rezeki yang hadir padamu, karean sungguh dia yang mampu membaca kebutuhan kita sesungguhnya, bukan kita sendiri yang sering buta terhadap dunia..

lihat dibawahmu teman, masih banyak yang jauh dari tangga teratas hidupmu..

dan aku akan menebas senja ini, baringkan kepala disisi ilalang, biar saja aneh, tapi aku butuh rehat sejenak, dan sekarang aku akan melangkah kepadang ilalang, hilangkan penatku..

banda Aceh, setelah ashar, 26 februari 2010

stop “menunda”

Asli, kesal kelas hiu, giliran dibutuhkan siprinter malah ngadat sangat. Walah, konsul perdana bakalan runyam kalau gambar flowsheet ini urung diprint, dan jika pagi-pagi  buta harus menuju rental, what?? Wah pergeseran jadwal lagi artinya..oh..no, no,…

Mendadak printer membisu

Kumat membeku tanpa tutur

Tanpa cetak aabjad terrekam

Oh, kau, kenapa lahirkan gugup

harus konsul perdana tertunda seminggu

haruskah berakhir lagi disudut sabtu

Yah, inilah tulisan yang lahir dari kepala yang mendadak mumet total, gambar flowsheet rancangan pabrik masih belum jelas rimbanya, masih harus diedit, tapi siprinter malah berulah.fokus terpecah belum lagi tulisan yang deadline nya sudah mengetok –  ngetok pintu. Bisa gagal ikutan lomba ne…

Padahal dua hari yang lalu siprinter masih baik – baik saja, tanpa kediaman apapun, masih mengeluarkan deritnya, bahkan lancar mencetak abjad, walah bener- benerlah, DILARANG MENUNDA PEKERJAAN. Ya, inilah yang saya petik.

Seingat saya dulu ketika selesai seminal hasil research, yang berulah adalah mr.laptop, subuh saat laporan research mau diedit , eh malah laptop hadirkan layar biru plus beberapa tulisan putih yang menandakan kondisinya tak normal, sampai – sampai silaptop harus dibedah, dan tentu saja menguras biaya ekstra berwujud pergantian hardisk yang kedua kalinya. Oalah ne benda sudah membangkrutkan saya diawal tahun. Baguus..cukup dua kali saja ya, kalo ketiga kalinya anda harus saya talak.

Satu hal yang membuat saya merenung agar tak lagi menunda pekerjaan saat itu adalah data research yang belum terselamatkan ada dilaptop dan laporan hasil deadlinenya sudah didepan mata. Wajarlah kalau dalam seminggu dibulan januari itu saya  mendadak menjadi manusia dalam kelas emosional tingkat tinggi. Padahal sehari dua hari sebelumnya sudah hadir niat agar segera memberesi laporan tersebut, n then….saat galau benar – benar sudah mencengkram hari demi hari akhirnya setelah dicek ulang masih ada pertinggal data dilaptop parnert, syukurlah jika tidak itu artinya saya harus mengetik dari awal. Bukan pekerjaan yang mudah, bisa gagal nilai tercetak diKHS  semester kemaren. hiks, ga jadi bayar spp setengahlah kalo gitu.

dan ternyata sianeh ini mengulangi kesalahan yang sama, dua hari yang lalu ingin segera mengprintkan beberapa bahan tambahan untuk rancangan pabrik, tapi urung dilaksanakan karena beberapa potong kemalasan menghidupkan printer, dan akhirnya harus mencari rental terdekat untuk mencetak beberapa abjad, dan juga gambar – gambar tangki.

ok, sekian dulu, harus bergegas menuju rental, (mana ada yang buka jam segini), ya, beberapa saat lagilah, mudah-mudahan.

pokoknya mulai sekarang sekecil apapun planning harus segera dilaksanakan jangan sampai ada alasan yang ujung- ujung berefek planning gagal total.

23 februari 2010

banda aceh, pagi yang masih sunyi

mengenang 12 tahun lalu, saat sang pahlawan pulang

sejumlah penat benar – benar hadir hari ini, lha ini kan week end sist? ya, mau bagaimana lagi, bayangan rancangan pabrik masih setia hadirkan potongan tanya, kapan pulang, kapan pulang, kapan pulang? :D

hari ini tepat 12 tahun kepergian seorang pemimpin keluarga, tepat 12 tahun lahir para yatim disebuah rumah  dikota kelahiran saya : kota langsa, dengan bungsu yang kala itu masih berseragam putih merah. sibungsu yang mencoba menjadi sosok paling tegar, bahkan saat gedoran pintu dikisaran pukul 3 dini hari, hanya beberapa tetes air mata yang terjuntai, ya, hanya beberapa saja.

entahlah sudah berapa lama airmata itu sisip ditabungan kelopak, hingga hari ini ternyata sebuah kesadaran lahir, beberapa tetes lama itu hanya kepuraan, : sembunyikan duka lalu pancarkan tegar, agar tak perlu pula seluruh kerabat usap air mata sibungsu. cukuplah duka sama kita rasa.

mozaik senja dan petang selalu menjadi milik berdua bersama sang ayah. kota langsa yang seberapa lebar terjelajahi bersama, kerap dengan sepeda ataupun sepeda motor. namun lebih dominan sepeda yang dikayuh perlahan oleh sang ayah demi menjaga agar anaknya tidak celaka.

ruko demi ruko dijelajahi, pajak pisang dideretan Ampera menjadi salah satu lokasi ramah, lalu beberapa ruko ditoko depan, jejeran toko buku dan mainan. sesekali sibungsu merengek minta dibelikan mainan, ya, meski hanya sejumlah hitungan jari. tak masalah tak ada buah tangan apa – apa, asalkan senja bisa tercipta dalam senyum bahagia.

ya, asal bahagia sibungsu tak dicegat kakak lainnya, tak ingin fotokopi sang ayah ini kehilangan kebersamaan bersama sang raja, sang pahlawan.

beberapa hitungan angka bulan, sang ayah mengunjungi sekolah mengajak keliling lagi dengan sepeda, menuju dokter gigi, tak lelah dirasa, padahal jarak terlampau jauh, tapi tak soal apapun baginya, demi sibungsu.

saat vespa masih menjadi harta titipan, saban minggu kuala langsa menjadi tujuan, tak lupa sekalipun, meski lelah oleh oleh lembur sekalipun. dan mata sibungsu semakin terpana dengan bakau yang memukau, hijau disepanjang jalan , bayangan pinus atau cemara yang sulit dibedakan sibungsu hadirkan juntaian melodi kecil, tebas angin yang menampar muka, dan jalan kian riang tecipta.

dan 12 tahun yang lalu sepetak tanah dikawasan blang paseh, kuburan keluarga yang berada tepat dibawah jembatan kecil, berdampingan dengan gudang barang yang acap digunakan untuk lahan qurban pada idul qurban, menerima penghuni baru dengan senang hati, tak riuh, tak usil. dan sibungsu yang ditarik sang paman akhirnya menyaksikan sendiri dengan mata kepala bagaimana sang pahlawan pulang kembali kepada Sang Pemilik. yah, kita sama dititipkan satu sama lain.

satu sesal yang masih hantui sibungsu, tak ada kecupan dikening sore sebelum jengukan terakhir dirumah sakit kota langsa, saat rekan sekamar inap, mengganggu sibungsu dengan ledekan kecil yang tak bermakna apa -apa, sayang sibungsu terlalau pemalu, hingga semua hanya terbungkus dalam kenangan, kecupan terakhir hadir saat jasad sang pahawan terbungkus kafan..

pelayat banjiri rumah sederhana berhalaman kecil di kp. meutia kala itu,  pun saat tahlilan semua sama banjiri halaman, tak hanya rombongan warga kp.meutia, beberapa rombongan jauh, dari sigli, simpang tiga, sampai beberapa dari desa yang sibungsu tak hapal namanya.

juga para rekan SD muhammadiyah yang berhambur menuju mesjid saat menangkap bayangan sibungsu  disana kala jenazah dishalatkan. berpetak – petak kekuatan disodorkan, yah, sibungsu mampu sembunyikan duka, hanya beberapa tetes saja meluncur.

dan kini, sibungsu mungkin tak sehebat sang ayah yang kian hari kian lapang kuburnya, kian memanjang hingga hadirkan takjub sahabat karib, pun sibungsu juga begitu.

lalu hantaman hadir satu demi satu, semua pengikut lenyap , hilang entah kerimba mana, dan sisalah para yatim yang tak jelas arah, hanya berbekal beberapa petuah agar tetap sabar dipasang. meski lahan dijajah, dan dikirimi sampah, namun sabar hadirkan sang penegak, muncul satu satu dari samudra yang tak bisa diberi nama, lalu kicaunya lenyapkan semua pengganggu.

duhai ayah, maafkan anakmu

tak mampu sering ziarahi kuburmu

hanya do’a terlantun dari jauh posisi

terlantun berikat pilu

tegar..tegar.tegar..jagan hadirkan tangis saat kepergian hadir didepan mata, yah, itu pesan terakhirmu untuk beberapa kepala penghuni rumah sederhana dikampung meutia itu, rumah yang selalu hadirkan rindu, rindu bersuamu

dan ternyata tegar yang kupasang 12 tahun lalu, palsu, gugur semua setelah 12 tahu, tak hanya bulir, namun liter terhitung bening hadir.

21 februari 2010, Banda Aceh

berharap lekas sapa langsa, ketuk pintu kp.meutia dan gegas pula lewati pagar kawat kuburan keluarga

sajak untuk kota lahirku : Langsa

rindupun kian terulur
lahir ber-ikut sajak lapar
dan berabjad namapun lahir tanpa terbawa semilir

jejak bala – bala jedakan mimpi
pungut potongan tersisa dalam alunan melodi
lalu susun berikat temali
: temali sepi

tersisa pula
se-bambu runcing monumen
ceritakan bait – bait lampau bernama kenangan
tersisir begitu rapi lalu jatuh dalam cangkir harapan
: berharap segera gelar terangkat dan kado pulangpun terhimpun

kilas masa papan kapur jemput beberapa bintang singgah dikoridor
bagi sama rindu berantai jujur
dan sama kita icip masa – masa silam
biarkan bayangnya gegas pacu semangat…

lalu sajak lahir dari sisa lapar
tak mampu hadirkan bala- bala
hingga demo cacingpun kelar

oh, alpa, hampir saja
beberapa rumah sejarah, potret jalanan, serta tawa yang turut ambil andil

BAnda Aceh
19 februari 2010
saat – saat lapar menjerat, dan yang terfikir hanya bala – bala saja..
lalu lahir diskusi pendek beberapa sahabat…
yang sama nafaskan kenangan dikota langsa..
terimakasih : suri, juli, tata, k era, n zaki

kaya hati atau kaya “gila”

nyaris hilang abjad pencatat tragedi yang terekam beberapa jeda


saya terbangun dengan oleh – oleh diskusi mimpi akibat beberapa tragedi dan buku yang terbaca sebagai pengantar jeda lelah. baru sadar ternyata banyak pondasi yang bisa dipinjam dari sosok diluar sana, mereka yang selama ini tertindas namun tetap tegar jalani hidup. dan jika saya hadirkan perbandingan diantara mereka, maka sungguh apa yang saya jalani jauh lebih kecil dibandingkan perjuangan mereka dalam menegakkan pondasi hidup.

diluar sana, pekat telah selimuti trotoar, dan gemintang masih terserak diangkasa raya, malampun tasbihkan berjuta syukur atas rotasi yang masih setia dihadirkan, yang akhirnya undang sang malam penutup siang, pelepas lelah.

baru saja selesai membaca beberapa artike ltambahan menarik, sontak saja kerut – kerut didahi hadir satu persatu, bagaimana sebuah kesederhanaan mampu hadirkan bahagia, mampu tegakkan pondasi, dan juga mampu tepis segala sakit atas nama hadiah dari penghinaan.

orang- orang kecil yang memiliki jasa luar biasa, namun sering tak pernah dianggap ada oleh orang besar ternyata memiliki kekayaan hati yang lebih tinggi diatas mereka yang terlelap dengan kekayaan harta. mereka yang berjuang dengan keikhlasan, meski hanya dengan nominal gaji yang sangat kecil, namun pengelolaan yang cerdas justru mampu hadirkan kekayaan yang sebenarnya. kekayaan hati.

hati yang kaya akan lahirkan kenyamanan tak terkira, sekalipun tidak bisa mengecap makanan mahal yang justru kadangkala menjadi pemicu berbagai masalah kesehatan, misalnya fast food, ataupun tak perlu repot dengan tagihan listrik yang kian membumbung, meski cadangan biaya sudah dimilik sang kondektur(baca: orang kaya).

mereka yang acap kali dikucilkan karena pekerjaan mulia yang tak sepadan dimata masyarakat atas, lebih sering menabur keikhlasan dalam setiap rutinitas, sedangkan sebagian lain (tanpa maksud mengeneralisasi) justru bangga dengan kebijaksanaan penyelundupan angka nominal yang ujung – ujung mendaratkannya keruang berjeruji yang ‘indah’. kontras sekali, kekayaan naik dalam range yang cukup menakjubkan dan harga diripun menurun dalam range yang luar biasa.

sumberfoto

titik kesinambungan hadir setelah mendengar penuturan seseorang  yang menolak pembelian harga dirinya (dalam sebuah pekerjaan)oleh orang berkelas dengan alasan tidak ingin menjadi serendah mereka yang berkelas. nah lho berkelas tapi rendah,? tentu saja, mereka dengan mudah membuka lebar peluang mencoreng nama sendiri dengan mencoba membeli harga diri orang lain yang strata ekonominya jauh berada dibawah mereka. kasus nyata yang baru beberapa hari terbaca dimata, padahal sudah lama mereka gentayangan disekitar saya, tapi ya, tirai kejujuran baru saja terbuka dan semua terbaca dengan lancar.

semakin aneh saja, kekayaan harta jika tak dibarengi dengan kekayaan hati ternyata benar – benar bisa membuat gila, malupun lenyap… kasihan mereka,,,,

SUMBER foto

banda aceh, 13 februari 2010

kejujuran berkedok

beberapa yang lalu, hadirkan posisi cermat hadapi suatu masalah, bukan hanya pijakan kepercayaan, karena nyata yang tampak tak selalu benar adanya, meski beberapa menjatuhkan nilai pada apa – apa yang terlihat.

setelah mengalami beberapa ruang penuh “hadiah” berupa penindasan atas sebuah kepercayaan dan ketulusan atau lebih tepatnya dsebut kepolosan karena enggan menaruh fikiran diposisi buruk sangka, lagipula apalah fungsi dari sebuah prasangka buruk jika lembar yang sebenarnya terabjad terbaca dengan kenyataan berbeda.

bahagia memang, jika mampu mengalahkan si”setan” yang tak punya niat mengarahkan kekanan, bertarung dengan bisik – bisik yang tak harus dituruti. ya, panji kemenangan memang mampu diraih. akan tetapi diagnosa yang berwujud nyata ternyata raup semua rasa, raup semua percaya, dan banting semua diatas trotoar berdebu, lalu digilas pula dengan truk dan diterbangkan angin pula kekubangan yang tak bisa diberi nama, sangking sakitnya.

bagaimana hendak kabarkan kebenaran, jika ternyata rapal kejujuran hanya tinggal kenangan, tersudut dikelamnya hidup tanpa sedikitpun merasa bahwa semua yang ada dalam genggaman adalah titipan-Nya. dan dengan congkaknya sang pengabar menjujurkan diri sendiri bahwa selama ini jujur yang ditampilkan hanyalah sebuah ilusi dibalik ketidakberdayaannya, ilusi karena merasa mampu memanipulasi semua jenjang hidup.

dan akhirnya tabir – tabir kebohongan terjujurkan sendiri dalam beberapa pongah yang justru dibiarkan terbaca dengan nyata, tak hanya oleh seorang, tapi berorang-orang….

terimakasih atas penelantaran sebuah kepercayaan, dan tolong digaris bawahi dengan spidol yang paling mencolok, bahwa tak ada sosok yang suka ditipu dan dihujat,

meureubo Hardvard, banda Aceh
10 februari 2010
saat lampu mendadak padam