Sebagai seorang mahasiswa kertas adalah salah satu teman akrab yang tak bisa lepas dari hari ke hari, semester ke semester. Semakin bertambah usia di bangku perkuliahan semakin besar jumlah kertas yang harus dikeluarkan , dan sering kali terbuang percuma. contohnya saja saya yang harus mengikuti beberapa lab dari awal kuliah. Dimana masing – masing laboratorium ini menugaskan pratikannya membuat laporan hasil partikum. Dijurusan saya, untuk masalah laporan ini, bukanlah hal yang mudah, tidak dengan sekali print langsung ACC, alias diterima para asisten. Pratikan harus berjuang beberapa kali menawarkan laporan lalu dicorat – coret beberapakali hingga akhirnya acc. Nah kebayangkan berapa kali harus gonta – ganti kertas. Tapi syukurlah kalau untuk masalah ini baik antara pratikan dan asisten seperti sudah saling memahami, bagaimana penghematan terhadap penggunaan kertas . Setelah laporan pertama diterima, maka laporan berikutnya yang merupakan laporan perbaikan diperbolehkan menggunakan kertas serupa , diprint dibelakangnya agar lebih hemat, hal ini sudah berlangsung dari tahun ke tahun (saya kurang tahu di luar sana diperbolehkan atau tidak).
Setelah jadi dan layak cetak barulah laporan harus diprintkan dikertas bagus. Begitu juga dengan para dosen. Sebagai mahasiswa jurusan Teknik Kimia Unsyiah Banda Aceh saya harus melalui 3 seminar dan satu sidang akhir, dimana masing – masing seminar didahului konsultasi dengan dosen pembimbing. Tiap kali konsul bisa ditebak selalu saja ada halaman yang harus diganti, dandemi peghematan , kertas tadi atas kemakluman dari dosen juga, mengingat biaya kertas juga semakin melambung, maka sama pula dengan kasus di atas, dibenarkan mengeprit dibagian belakang.
Lalu sisa kertas yang satu sisinya masih bagus ternyata masih bertumpuk dikamar kosan saya, selanjutya saya jadikan bahan untuk mading, yah, berhubung saya sering menulis puisi, maka setelah mengprintkan , kertas tersebut saya potong melekuk- lekuk agar terlihat lebih indah, serta menambahkan tempelab warna – warni dimading hijau saya..( maklum maniak hijau)…so ga perlu tambahan biaya untuk membuat mading lebih hidup. sebagian lagi saya jilid dan dimanfaatkan untuk catatan ataupun digunakan untuk mencorat – coret naskah tulisan..
Nah lalu bagaimana kelanjutan setelah kertas yang diprint bolak – balik itu? Yah karena etika juga harus ada, sangat tidak mungkin kami para mahasiwa setelah laporannya diACC mencetak dengan lembaran bolak – balik. Lembar – lembar tadi kalau saya pribadi lebih sering menggunakan untuk bebrbagai keperluan bahkan saya sendiri sampai sekarang masih menyimpannya dalam dus – dus did alam kamar, yah meski itu adalah sampah bukan berart tidak berguna, sesekali bisa digunakan untuk menyerap minyak yang belepotan dikompor , kertas- ketas tadi sering juga digunakan untuk alas meja ataupun rak buku dan lemari.praktiskan?? dan kalau ada sesi bersih2 ketas tadi bisa digunakan untuk mengelap kaca , tinggal basahi sajalalu ditempel deh dikaca. Oya satu lagi yang tak kalah penting setiap kali ada perjalanan jauh yang mengharuskan saya membawa beberapa benda pecah belas, misal cangkir kecil, kertas bekas ini bisa saya manfaatkan terlebih dahulu untuk membalut barang – barang tersebut agar tidak pecah karena goncangan.
Banda Aceh, 21 MAret 2010