Lagi – lagi disergap bosan. Banyak alamat yang harus dikelarkan, tak hanya alamat email yang harus dikirimi naskah, tapi juga alamat rumah yang harus segera disinggahi. Tak elak, kepala yang sudah terasa dijungkirbalik gara – gara hitungan neraca yang merupakah salah satu anggota tubuh si Rancangan akhir, akhir – akhir ini mengakibatkan saya semakin bersikap tak jelas. Kerap berjalan sendirian tanpa arah, mencoba melepas penat, bahkan merasa angker dengan gedung teknik kimia tiga tingkat dan juga biro rektorat. Kadangkala dengan sengaja tidak melangkah keluar kosan. Tak ingin tau apa yang terjadi di luar sana. Butuh ketenangan ekstra. Bahkan malam – malam panjangpun yang biasanya di isi pencarian info – info terbaru menjadi lenyap sama sekali. Jika si hitungan tak mampu lagi diterima kepala, otomatis saya akan langsung memejamkan mata. Tak terima rasanya, jika harus berselancar beberapa jenak, sedangkan misi utama itu -terkesan- terabaikan. Inilah dilemma sang pejuang garis akhir.
Mengisi kekosongan jeda, hal yang saya lakukan adalah menelusuri jejak – jejak kompetisi menulis, dimanapun dan kapanpun. Tak peduli apakah masuk akal jika saya yang sama sekali tak segaris posisinya dengan peserta – peserta yang umumnya nama – namanya sudah tersohor di deretan penulis (papan ataskah atau pendatang baru) yang penting kenekatan itu tetap berjalan. Ada beban mental rasanya jika mengetahui suatu kompetisi ada dan ternyata naskah yang sesuai kelar pengerjaannya, tidak dikirim. Ya , meski dari berpuluh yang diikuti hanya dua atau tiga persen saja yang tertera huruf – huruf penyusun nama saya di dalamnya.
Tak soal sebenarnya, kecemasan yang dulu membelenggu dan kini telah tewas ditikam keberanian-ketakutan mengirim naskah dengan alas an minder-pelan – pelan mulai menunjukkan rupa manis. Ya, sangat manis rupanya. Hamper setiap bulannya di Tahun ini, minimal satu hadiah meluncur ke kosan, bahkan pernah kala itu tiga hadiah sederhana sekaligus datang berturut – turut.
REZEKI
Lalu dengan kemampuan yang masih terbatas, film pendek perdana hasil kolaborasi bersama sahabat saya di Arsitektur , setidaknya, meski tidak menjadi juara 1 di pekan seni mahasiswa tingkat NAD, sekali lagi, setidaknya ianya berhasil masuk kejajaran provinsi. Film perdana dengan naskah perdana terkilat penyelesaiannya, hitungan jam saja, proses kreatif yang berlangsung via inbox facebook, sampai benar – benar meniadakan langkah ke kampus, ternyata diberi apresiasi yang cukup menghentak. Menghentak hingga kami berdua seolah sama mengucap takkan berhenti di sini. Akan ada karya – karya lanjutan berikutnya.
Yah, untuk saat ini Tugas akhir VS novel VS film .. –serta beberapa lomba yang sudah dilist-
Dua yang terakhir antara jadi dan tidak, TAPI HARUS JADI.
salam-sok-sibuk






hehehe…semoga semuanya jadi ya…SEMANGAT>>>>
amiiiiin
terus berkarya sobat…
semangat!!!!!
semangat..
!!!
Semoga cepet terselesaikan yang VS” itu…. qkkqqkqkq
Semangadh!!!
HIDUP!!! ^_^
semangaaat !!!
Gk bs bygn btpa sibuknya :O salam kenal ya. .
pusing miliaran kelililing
salam kenal kembali dari aceh
Akhir bulan yang sibuk. Mana dompet menipis lagi -_- Tapi jalani aja, mengalir seperti air
betul – betul,,, dan sekarang awal bulan, saatnya pasang strategi baru..
Semangat terus sahabat!!!
iyaa…..
selamat yah mbak shafira menang kompetisi ^^
maaf banget baru sempet mampir……..
kemarin ada acara arisan ibu PKK…. <== apa hub..nya coba
hehehhe,,,
hebaaat ya,,,,
Hobby kita sama…
Jadi penulis sayembara
Apapunlah. Tetap semangat, Kawan
\(^^)/
semangaaat !!!
Semangat… terus menulis…
halo sobat..