Arsip Bulanan: Februari 2010

ekspresi puisi cinta satu bait

*Candu Cinta*

oleh shafira green sulaiman


Mengingat-Mu satu  candu  lahirkanku sakau

akupun memeluk bait demi bait rindu

dalam ayat- ayat-Mu pelongsor resah

sesekali tenggelam bersama hijaiyah

lalu rebah rindu terpapah

: dalam sepertiga malam penuh kisah


(Banda aceh, 28 feb 10)

note : diikutsertakan pada lomba aliaz ekspresi puisi cinta satu bait

lihatlah sekitar, dan bersyukurlah…

angin masih hadir tipis- tipis, tak cukup usir peluh hari ini. panas diluar sana turut uapkan suhu ruangan ini. aku masih bisa mendengar desau diluar sana, bertemu dan bercengkrama dengan para dedaunan, daun – daun pisang yang pecah terkoyak dan juga beberapa lembar daun belimbing yang mendarat diatas coklat tanah.

inilah hidup teman… kita tak pernah benar – benar sendiri, jika tak ada manusia disekelilingmu detik ini, lihatlah diluar sana, makhluk – makhluk-Nya yang lain masih setia disekeliling, hadirkan celoteh yang lebih indah dari pada manusia sendiri, lihatlah mereka yang senantiasa tasbihkan keagungan Yang Maha Kuasa, sedangkan kita para manusia? ah, kurasa tak lupa ceracau sendiri mengeja keburukan orang lain yang sama artinya eja keburukan diri sendiri.

masih ada denting kebaikan yang bisa kita ikuti bersama, larutkan diri dalam melodi indahnya, melodi yang tertunai dari sebuah tutur baik, bukan sebuah umpatan. lihat lagi diluar sana, perang air dan batu disepanjang kali percikkan satu satu sisa air dan hasilkan padanan musik alam yang kian menawan. obat penegar hati yang cukup setia, lihat pula disekitarnya dedaunan hijau masih meliuk bersama nyiur, juga harum melati dan mawar yang usik indera penciuman…

masuklah kemimpiku teman, aku berjalan mengelilingi rimba, coba temukan zamrud, tapi  kusandarkan kepalaku pada batang – batang ilalang, . ahai, mengapa sedemikian jauh zamrud yang terambil?

karena ini yang kubutuhkan, ya, karena kita sering lupa mengeja syukur atas segala genggaman, genggaman yang nyatanya kita butuhkan , bukan sekedar permintaan hasil rapal berulang yang tak juga lahir didepan jendela.

ingatlah baik – baik duhai teman, aku bukan seorang hebat berkuasa ataupun adikuasa, aku hanya tak ingin terlalu larut dalam adonan keinginan yang bercampur bisikan setan, lihat dan syukuri saja rezeki yang hadir padamu, karean sungguh dia yang mampu membaca kebutuhan kita sesungguhnya, bukan kita sendiri yang sering buta terhadap dunia..

lihat dibawahmu teman, masih banyak yang jauh dari tangga teratas hidupmu..

dan aku akan menebas senja ini, baringkan kepala disisi ilalang, biar saja aneh, tapi aku butuh rehat sejenak, dan sekarang aku akan melangkah kepadang ilalang, hilangkan penatku..

banda Aceh, setelah ashar, 26 februari 2010

Aku masih ditikam rindu

mendadak aku sungguh limbung

rancangan pabrik kertasnya menggulung

melingkar disepetak ruang

dan akupun larut dalam dendang ilalang

: aku masih menanti senja


salahkah aku menaruh rindu

pada jiwa yang terlanjur beku

:aku ingin pulang saja


sesiang ini tak kutemukan pula lirik rindumu

tertoreh diatas debu – debu

: kuharap ianya dihalau angin, bukan karena alpamu


kucoba genggam alamat bahagia yang tersisa beberapa abjad

kubaca kuyu

tak lindap rindu didirimu


duhai tanah lahirku

:aku ingin pulang saja

disini aku terlalu kejam

tak bernurani

dan akupun mati sendiri


duhai , alamat apa ini

kusimpulkan aku ingin kembali..


banda Aceh, 26 feb 2010

saat rindu kota lahirku kian menghantam

post disegala alamat

abjad ruang gelap

gelap balut semua terang

sisakan berkas sinar dari potongan cahaya rembulan

pun bintang sesekali hadirkan kilau

lalu dititik diam ini

aku meraba kegelapan yang terbaca bisu

tak tau eja braile dalam dimensi ini

bahkan jemaripun terasa kaku

penggalan hidup deraskan lagi jejak rimba

luruh satu demi satu dalam sajak rinai malam ini

dan cerdas pula tertangkap telinga beberapa rapal yang kerap termelodi

lalu diam tetap kupilih sebagai pesan

entah itu kehidupan atau justru kematian

kutebas kepala kegelapan malam ini

bersama hunusan pedang suara

pecahkan seluruh sunyi

dan gemparkan semesta

ya, aku tetap tak bernama

banda Aceh, 23 februari 2010

saat listrik padam total diseluruh penjuru

stop “menunda”

Asli, kesal kelas hiu, giliran dibutuhkan siprinter malah ngadat sangat. Walah, konsul perdana bakalan runyam kalau gambar flowsheet ini urung diprint, dan jika pagi-pagi  buta harus menuju rental, what?? Wah pergeseran jadwal lagi artinya..oh..no, no,…

Mendadak printer membisu

Kumat membeku tanpa tutur

Tanpa cetak aabjad terrekam

Oh, kau, kenapa lahirkan gugup

harus konsul perdana tertunda seminggu

haruskah berakhir lagi disudut sabtu

Yah, inilah tulisan yang lahir dari kepala yang mendadak mumet total, gambar flowsheet rancangan pabrik masih belum jelas rimbanya, masih harus diedit, tapi siprinter malah berulah.fokus terpecah belum lagi tulisan yang deadline nya sudah mengetok –  ngetok pintu. Bisa gagal ikutan lomba ne…

Padahal dua hari yang lalu siprinter masih baik – baik saja, tanpa kediaman apapun, masih mengeluarkan deritnya, bahkan lancar mencetak abjad, walah bener- benerlah, DILARANG MENUNDA PEKERJAAN. Ya, inilah yang saya petik.

Seingat saya dulu ketika selesai seminal hasil research, yang berulah adalah mr.laptop, subuh saat laporan research mau diedit , eh malah laptop hadirkan layar biru plus beberapa tulisan putih yang menandakan kondisinya tak normal, sampai – sampai silaptop harus dibedah, dan tentu saja menguras biaya ekstra berwujud pergantian hardisk yang kedua kalinya. Oalah ne benda sudah membangkrutkan saya diawal tahun. Baguus..cukup dua kali saja ya, kalo ketiga kalinya anda harus saya talak.

Satu hal yang membuat saya merenung agar tak lagi menunda pekerjaan saat itu adalah data research yang belum terselamatkan ada dilaptop dan laporan hasil deadlinenya sudah didepan mata. Wajarlah kalau dalam seminggu dibulan januari itu saya  mendadak menjadi manusia dalam kelas emosional tingkat tinggi. Padahal sehari dua hari sebelumnya sudah hadir niat agar segera memberesi laporan tersebut, n then….saat galau benar – benar sudah mencengkram hari demi hari akhirnya setelah dicek ulang masih ada pertinggal data dilaptop parnert, syukurlah jika tidak itu artinya saya harus mengetik dari awal. Bukan pekerjaan yang mudah, bisa gagal nilai tercetak diKHS  semester kemaren. hiks, ga jadi bayar spp setengahlah kalo gitu.

dan ternyata sianeh ini mengulangi kesalahan yang sama, dua hari yang lalu ingin segera mengprintkan beberapa bahan tambahan untuk rancangan pabrik, tapi urung dilaksanakan karena beberapa potong kemalasan menghidupkan printer, dan akhirnya harus mencari rental terdekat untuk mencetak beberapa abjad, dan juga gambar – gambar tangki.

ok, sekian dulu, harus bergegas menuju rental, (mana ada yang buka jam segini), ya, beberapa saat lagilah, mudah-mudahan.

pokoknya mulai sekarang sekecil apapun planning harus segera dilaksanakan jangan sampai ada alasan yang ujung- ujung berefek planning gagal total.

23 februari 2010

banda aceh, pagi yang masih sunyi

mengenang 12 tahun lalu, saat sang pahlawan pulang

sejumlah penat benar – benar hadir hari ini, lha ini kan week end sist? ya, mau bagaimana lagi, bayangan rancangan pabrik masih setia hadirkan potongan tanya, kapan pulang, kapan pulang, kapan pulang? :D

hari ini tepat 12 tahun kepergian seorang pemimpin keluarga, tepat 12 tahun lahir para yatim disebuah rumah  dikota kelahiran saya : kota langsa, dengan bungsu yang kala itu masih berseragam putih merah. sibungsu yang mencoba menjadi sosok paling tegar, bahkan saat gedoran pintu dikisaran pukul 3 dini hari, hanya beberapa tetes air mata yang terjuntai, ya, hanya beberapa saja.

entahlah sudah berapa lama airmata itu sisip ditabungan kelopak, hingga hari ini ternyata sebuah kesadaran lahir, beberapa tetes lama itu hanya kepuraan, : sembunyikan duka lalu pancarkan tegar, agar tak perlu pula seluruh kerabat usap air mata sibungsu. cukuplah duka sama kita rasa.

mozaik senja dan petang selalu menjadi milik berdua bersama sang ayah. kota langsa yang seberapa lebar terjelajahi bersama, kerap dengan sepeda ataupun sepeda motor. namun lebih dominan sepeda yang dikayuh perlahan oleh sang ayah demi menjaga agar anaknya tidak celaka.

ruko demi ruko dijelajahi, pajak pisang dideretan Ampera menjadi salah satu lokasi ramah, lalu beberapa ruko ditoko depan, jejeran toko buku dan mainan. sesekali sibungsu merengek minta dibelikan mainan, ya, meski hanya sejumlah hitungan jari. tak masalah tak ada buah tangan apa – apa, asalkan senja bisa tercipta dalam senyum bahagia.

ya, asal bahagia sibungsu tak dicegat kakak lainnya, tak ingin fotokopi sang ayah ini kehilangan kebersamaan bersama sang raja, sang pahlawan.

beberapa hitungan angka bulan, sang ayah mengunjungi sekolah mengajak keliling lagi dengan sepeda, menuju dokter gigi, tak lelah dirasa, padahal jarak terlampau jauh, tapi tak soal apapun baginya, demi sibungsu.

saat vespa masih menjadi harta titipan, saban minggu kuala langsa menjadi tujuan, tak lupa sekalipun, meski lelah oleh oleh lembur sekalipun. dan mata sibungsu semakin terpana dengan bakau yang memukau, hijau disepanjang jalan , bayangan pinus atau cemara yang sulit dibedakan sibungsu hadirkan juntaian melodi kecil, tebas angin yang menampar muka, dan jalan kian riang tecipta.

dan 12 tahun yang lalu sepetak tanah dikawasan blang paseh, kuburan keluarga yang berada tepat dibawah jembatan kecil, berdampingan dengan gudang barang yang acap digunakan untuk lahan qurban pada idul qurban, menerima penghuni baru dengan senang hati, tak riuh, tak usil. dan sibungsu yang ditarik sang paman akhirnya menyaksikan sendiri dengan mata kepala bagaimana sang pahlawan pulang kembali kepada Sang Pemilik. yah, kita sama dititipkan satu sama lain.

satu sesal yang masih hantui sibungsu, tak ada kecupan dikening sore sebelum jengukan terakhir dirumah sakit kota langsa, saat rekan sekamar inap, mengganggu sibungsu dengan ledekan kecil yang tak bermakna apa -apa, sayang sibungsu terlalau pemalu, hingga semua hanya terbungkus dalam kenangan, kecupan terakhir hadir saat jasad sang pahawan terbungkus kafan..

pelayat banjiri rumah sederhana berhalaman kecil di kp. meutia kala itu,  pun saat tahlilan semua sama banjiri halaman, tak hanya rombongan warga kp.meutia, beberapa rombongan jauh, dari sigli, simpang tiga, sampai beberapa dari desa yang sibungsu tak hapal namanya.

juga para rekan SD muhammadiyah yang berhambur menuju mesjid saat menangkap bayangan sibungsu  disana kala jenazah dishalatkan. berpetak – petak kekuatan disodorkan, yah, sibungsu mampu sembunyikan duka, hanya beberapa tetes saja meluncur.

dan kini, sibungsu mungkin tak sehebat sang ayah yang kian hari kian lapang kuburnya, kian memanjang hingga hadirkan takjub sahabat karib, pun sibungsu juga begitu.

lalu hantaman hadir satu demi satu, semua pengikut lenyap , hilang entah kerimba mana, dan sisalah para yatim yang tak jelas arah, hanya berbekal beberapa petuah agar tetap sabar dipasang. meski lahan dijajah, dan dikirimi sampah, namun sabar hadirkan sang penegak, muncul satu satu dari samudra yang tak bisa diberi nama, lalu kicaunya lenyapkan semua pengganggu.

duhai ayah, maafkan anakmu

tak mampu sering ziarahi kuburmu

hanya do’a terlantun dari jauh posisi

terlantun berikat pilu

tegar..tegar.tegar..jagan hadirkan tangis saat kepergian hadir didepan mata, yah, itu pesan terakhirmu untuk beberapa kepala penghuni rumah sederhana dikampung meutia itu, rumah yang selalu hadirkan rindu, rindu bersuamu

dan ternyata tegar yang kupasang 12 tahun lalu, palsu, gugur semua setelah 12 tahu, tak hanya bulir, namun liter terhitung bening hadir.

21 februari 2010, Banda Aceh

berharap lekas sapa langsa, ketuk pintu kp.meutia dan gegas pula lewati pagar kawat kuburan keluarga

sajak untuk kota lahirku : Langsa

rindupun kian terulur
lahir ber-ikut sajak lapar
dan berabjad namapun lahir tanpa terbawa semilir

jejak bala – bala jedakan mimpi
pungut potongan tersisa dalam alunan melodi
lalu susun berikat temali
: temali sepi

tersisa pula
se-bambu runcing monumen
ceritakan bait – bait lampau bernama kenangan
tersisir begitu rapi lalu jatuh dalam cangkir harapan
: berharap segera gelar terangkat dan kado pulangpun terhimpun

kilas masa papan kapur jemput beberapa bintang singgah dikoridor
bagi sama rindu berantai jujur
dan sama kita icip masa – masa silam
biarkan bayangnya gegas pacu semangat…

lalu sajak lahir dari sisa lapar
tak mampu hadirkan bala- bala
hingga demo cacingpun kelar

oh, alpa, hampir saja
beberapa rumah sejarah, potret jalanan, serta tawa yang turut ambil andil

BAnda Aceh
19 februari 2010
saat – saat lapar menjerat, dan yang terfikir hanya bala – bala saja..
lalu lahir diskusi pendek beberapa sahabat…
yang sama nafaskan kenangan dikota langsa..
terimakasih : suri, juli, tata, k era, n zaki

perang kosong

Hari yang cukup menyenangkan untuk memanggang seluruh kulit. Tak ada angin, namun debu – debu terbang sendiri, berotasi tanpa ada sebab akibat. Dunia yang aneh.

Langitpun berwarna aneh, tak biru , tak abu –abu, sukar kuabjadkan warnanya disini, aku terlalu bodoh hanya untuk mengenal sebuah warna. Ya, aku dipanggil sibuta. Tak hanya warna saja, mataku memang lenyap tak jelas kembaranya, tak lekas pula picingkan jika terbilas kilau mentarai yang hadirkan silau dimata beberapa.

Aku lupa bagaimana aku harus jujur pada dunia, toh dunia yang kukenal penuh kepuraan, tak ada yang sejatinya tulus, tak ada jujur yang terutus, hanya dusta sajalah yang berkeliaran menetas. Hei, angin, kau lari kemana beberapa purnama ini,kenapa tak sedikitpun dingin gelitiki sendi –sendi rapuhku. Padahal aku bukanlah sosok muda nan kuat, aku inilah generasi terakhir yang tersisa, sirenta yang tak lagi mampu klasifikasikan wajah penipu dan sang malaikat. Semua sama saja, sama saja bertopeng.

Hei, kalian juga para bintang, kerlip redupmupun tak kutemukan, kemana kalian lari, rinduku lindap begitu saja, aku rindu ketiadaan yang sekarang hadir. Ketiadaan kebodohan yang mendadak jadikanku sosok tercerdas. Tercerdas membaca perdu – perdu kebodohan yang tercetak rapi dalam hari berikat tahun ini. Atas sebuah penghianatan terhadap tanah lahirku. Ah, aku ingin mati saja.

Kami diusir dari gemerlap duhai kawan, angin, bintang, bulan, semuanya, dan hanya para debu saja yang tersisa. Bukan kami lari, tapi tak daya lagi susuri keanehan yang menggila didunia ini. Tak punya suplai senjata tuk bungkus mereka dalam kuburan.

Hei, hei betapa bodohnya kalian ini, kau angin, hembuskan saja segala yang terbentang ini, ikat para debu, serang mereka para penghianat, dan kau pula para bintang, bombardir saja mereka dengan ragamu, turun saja segera dari langit, cepatlah sebelum datang fajar yang saban hari mereka bakar. Bakar dengan sampah kelakar.

Tak usah undang ragu duhai kalian, biar saja aku sama terburai, demi tanah yang tercerai, biar saja aku menetap berpintu nisan asal mereka binasa semua.

Hei, lalu siapa teruskan tonggak sejarah?

Ah, lagi – lagi aku lupa, terserah kalian sajalah, aku hanya ingin mati terhormat, percuma renta sendiri

banda aceh, 18 februari 2010

suara cela

duhai kalian yang gemar hadirkan cela
tak cukupkah raqib dan atid catat sang jejak
haruskah kabar mengabjad hingga dunia terpana membaca



lupakah kalian episode penutupan aib didunia?
episode yang lahirkan hijab dipengadilan tinggi-Nya
ataukah begitu yakin tak hadir cela seabjadpun didiri?


duhai kalian perasa sempurna
lupakah kalian kebenaran dimata-Nya
alpakah kalian tak bentuk pun rupa dinilai?
catat barisan amal lebih digaungkan
dan dua malaikat sudah saksikan rinci


duhai kalian yang terpana cela
kiri kalian baca utuh sang cela, lalu kanan pejam erat dari luhur
butakan saja mata sendiri
biar hati yang melihat lebih tajam
karena hadir cela dan luhur juga satu sinambung tak terelak
karena nyata tak luput kerak dosa didiri

meureubo hardvard, Banda Aceh
mula januari 20, 2010

potret kota lahirku, langsa (hanya sekilas)

senja yang hadir hari ini masih berbingkai dingin,oleh – oleh ruah air langit tadi pagi hingga siang hari.pengeras suara dari mushala kid menambah kesejukan, meski sekarang sepi sedang mengelilingi ruang demi ruang dikosan asri ini. beberapa sosok sedang menikmati senjanya diluar sana bersama karib – karib sejatinya.


mendadak rindu kota kelahiran membuncah begitu saja, hadirkan potongan kenangan berada dikota langsa. masih saya ingat jelas beberapa bangunan yang kerap disinggahi masyarakat langsa,

* mesjid raya darul falah, yang berpusat dikota langsa, TPA masa kecil dulu. mesjid ini berada tepat ditengah kota, dikelilingi pasar, ruko – ruko kecil, dan juga mengarah kejalan utama, _kalau tidak salah jalan A.Yani_. beberapa meter dari mesjid terdapat rumah sakit zainal abidin yang merupakan rumah sakit umum dikota langsa. hilir mudik sudek(sudaco atau labi – labi)hiasi jalan utama beriring juga kendaraan lainnya, seperti becak (yang biaya transportnya jauh lebih murah dibandingkan dengan dibanda aceh), sepeda motor, dan lain- lain.. meluncur kedepannya lagi bisa ditemukan lapangan merdeka yang lazim digunakan untuk upacara hari – hari besar, ataupun agenda besar lainnya.

seingat saya saat terakhir melintas disini, kira – kira liburan idul fitri yang lalu, senja seperti ini dipenuhi dengan beragam arena permainan bagi anak – anak, dan tentu saja masyarakat membanjiri lapangan ini..  semakin memacu kendaraan kedepan dapat kita saksikan lagi bambu runcing, (taman kecil bernilai sejarah), dimana disini kita bisa sedikit mengenang perjuangan para pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan bermodalkan bambu runcing. ditengah – tengah taman terdapat bambu runcing dalam ukuran raksasa yang biasanya dipanjat dan dijadikan tempat rehat sejenak pengunjung.

satu lagi yang masih terekam, makin membanjirnya outlet – outlet penjual makanan disepanjang jalan utama, hal yang saat saya masih SMA jarang ditemui

berhubung sudah azan…..diakhirkan dulu dan masih menghayal berada dilangsa ,

banda aceh, 13 feb 2010

kaya hati atau kaya “gila”

nyaris hilang abjad pencatat tragedi yang terekam beberapa jeda


saya terbangun dengan oleh – oleh diskusi mimpi akibat beberapa tragedi dan buku yang terbaca sebagai pengantar jeda lelah. baru sadar ternyata banyak pondasi yang bisa dipinjam dari sosok diluar sana, mereka yang selama ini tertindas namun tetap tegar jalani hidup. dan jika saya hadirkan perbandingan diantara mereka, maka sungguh apa yang saya jalani jauh lebih kecil dibandingkan perjuangan mereka dalam menegakkan pondasi hidup.

diluar sana, pekat telah selimuti trotoar, dan gemintang masih terserak diangkasa raya, malampun tasbihkan berjuta syukur atas rotasi yang masih setia dihadirkan, yang akhirnya undang sang malam penutup siang, pelepas lelah.

baru saja selesai membaca beberapa artike ltambahan menarik, sontak saja kerut – kerut didahi hadir satu persatu, bagaimana sebuah kesederhanaan mampu hadirkan bahagia, mampu tegakkan pondasi, dan juga mampu tepis segala sakit atas nama hadiah dari penghinaan.

orang- orang kecil yang memiliki jasa luar biasa, namun sering tak pernah dianggap ada oleh orang besar ternyata memiliki kekayaan hati yang lebih tinggi diatas mereka yang terlelap dengan kekayaan harta. mereka yang berjuang dengan keikhlasan, meski hanya dengan nominal gaji yang sangat kecil, namun pengelolaan yang cerdas justru mampu hadirkan kekayaan yang sebenarnya. kekayaan hati.

hati yang kaya akan lahirkan kenyamanan tak terkira, sekalipun tidak bisa mengecap makanan mahal yang justru kadangkala menjadi pemicu berbagai masalah kesehatan, misalnya fast food, ataupun tak perlu repot dengan tagihan listrik yang kian membumbung, meski cadangan biaya sudah dimilik sang kondektur(baca: orang kaya).

mereka yang acap kali dikucilkan karena pekerjaan mulia yang tak sepadan dimata masyarakat atas, lebih sering menabur keikhlasan dalam setiap rutinitas, sedangkan sebagian lain (tanpa maksud mengeneralisasi) justru bangga dengan kebijaksanaan penyelundupan angka nominal yang ujung – ujung mendaratkannya keruang berjeruji yang ‘indah’. kontras sekali, kekayaan naik dalam range yang cukup menakjubkan dan harga diripun menurun dalam range yang luar biasa.

sumberfoto

titik kesinambungan hadir setelah mendengar penuturan seseorang  yang menolak pembelian harga dirinya (dalam sebuah pekerjaan)oleh orang berkelas dengan alasan tidak ingin menjadi serendah mereka yang berkelas. nah lho berkelas tapi rendah,? tentu saja, mereka dengan mudah membuka lebar peluang mencoreng nama sendiri dengan mencoba membeli harga diri orang lain yang strata ekonominya jauh berada dibawah mereka. kasus nyata yang baru beberapa hari terbaca dimata, padahal sudah lama mereka gentayangan disekitar saya, tapi ya, tirai kejujuran baru saja terbuka dan semua terbaca dengan lancar.

semakin aneh saja, kekayaan harta jika tak dibarengi dengan kekayaan hati ternyata benar – benar bisa membuat gila, malupun lenyap… kasihan mereka,,,,

SUMBER foto

banda aceh, 13 februari 2010

kolektor rasa, untuk senja (part sekian)

panas merajai debu – debu yang setia tampar setiap lelah yang juga terkuras, juga resah yang kian pasrah lahir dari bait kisah.


Tak cukup air mata beberapa yang tertindas lahir dihitungan purnama lalu, dan aku masih setia menunggu hadir senja, ya, aku tunggu hingga lelah tangisku ini, pun aku hanya tersisa puing.


aku tak tahu apa yang merajai beberapa yang mendadak padam kobarannya, kobaran kebaikan, hingga yang tersapa hanyalah ego yang tak tepat letaknya. dan aku juga sering katakan dalam diamku, bahwa aku tak suka pengganggu dan juga tak suka mengganggu. aku memilih sendiri bukan karean aku spesial ataupun merasa pemimpin, tidak , sungguh tak hendak nyalakan kepatahan dalam sisa semangat yang ternyala paksa.


senja, kukabarkan semua duka dan bahagia hari ini. aku rela difitnah seperti ini, bukan karena tak daya, hanya tak ingin sulut api apapun , tak ingin ada hati yang gosong hanya karena polahku. ya, aku telah salah memilih beberapa relasi, dan tak kusangka sekilat ini semua tersibak, terbaca berderet antara kepala yang satu dan lainnya hanya dalam hitungan hari. padahal membangun pondasi yang kuat butuh lebih dari hitungan hari. lihatlah bodohnya aku? kawanmu tertipu!!


kurasa lebih bijak jika kututupi sakit ini sejenak dengan kabar gembira dari anak – anak leting. kita raup bangga hari ini, ya, senja, sang cumlaude hadir setelah sekian lama tak terkabarpun adanya sosok yang hasilkan nilai mengagumkan, mengundang sabit senyum, dan juga kagum tak terhitung kapasitasnya..ya, kita dielu – elukan, dan alunan merdu pencambuk, sadarkan lelap.

kami terjaga lagi senja. terjaga dan tak ingin padam hanya karena celoteh tuan- tuan tengkulak diluar sana.

senja, lama tak kusapa ilalang diluar sana, aku terlalu sibuk menatap tangki – tangki raksasa, mengobrak – abrik heat exchanger, yang selalu urung kudefinisikan sempurna karena acapkali kusaksikan beberapa celah salah, dan akhirnya aku hanya menghiasi jemariku dengan inai – inai yang sama saban harinya.

senja, aku bingung mendraftkan surat ini, ah kuurungkan saja, kau tau akukan??siblak-blakan yang terlalu polos percaya pada sosok lain, padahal kau sudah kilaskan bagaimana dunia ini penuh dengan penipu, dan akupun tertipu dalam sederet panjang luka. ya, kutulis saja apa yang muncul dari sisa ingatanku, dari apa yang terekam dalam ruang terakhirku.aku ingin pergi senja, ingin lapangkan fikiran ini, ingin singgah dipondok yang kurindukan,

sebuah pesantren dipegunungan sejuk berhias hijau pematang, berikut pula tetesan air yag satu satu pojokkan batuan keras, aroma tanah yang kental, bukan seaspal jalan kini. dengan kitab -kitab yang sungguh mempesona..ya, aku rindu kesana, meski belum sekalipun tapakku ini mampu terarah kedalam sendi – sendi indah itu.

senja, satu purnama aku dikejutkan dengan kabar gembira, dan kulepaskan syukur dalam sujud panjang,  yang kerap kau katakan indah. ya, indah memang, tapi sayang aku tertipu, aku sungguh tak lihai eja isyarat dari pena langit, padahal sayap awal hadirkan ragu menghujam, namun kutepis dan masih kuanggap karunia, pun detik ini, ya, aku menjadi lebih kuat, lebih cermat, dan lebih tegas lemparkan tanggapan, aku tak mau ditendang lagi kejalanan hanya karena ke’diam’an yang terbaca polos dan penurut. para tengkulak itu mengira aku tak bisa keras…kau baca surat inikan senja??terlalu kasarkah bahasaku??maaf, maaf, maaf, sungguh tak sudi berbagi karakter keras ini senja, tapi aku tak ingin ada yang tertindas lagi, terutama aku.

ah senja, ku tunggu kau dipadang ilalang kita, bagi aku rindu yang sama, bagi aku kisah klasikmu, ceritakan aku lagi bagaimana indahnya membedah karya – karya ulama besar….aku rindu itu semua, sungguh rindu..

menanti senja, dipadang ilalang,

banda aceh, 11 februari 2010

dari yang tercoreng namanya

tak mampu kugagas lagi catatan gemilang berbaris gemintang
hanya karena kabar dikirim dari selatan


kuboyong semua kenangan atas nama prilaku baik
endapkan dalam labirin bernama hati
lalu taburkan pupuk do’a,
agar tak dendam rajai hati
agar fitnah tak lagi tembusi langit jiwa para pejuang

lalu disini aku sama berharap
lekas lepas semua serapah
yang teralamatkan khusus untukku
atas sebuah takdir yang tertata jelas
terbaca dan lahir dari Dia
:bukan dariku

duhai engkau yang lemparkan sengketa diatas pilu bayangan
bukan aku buta aksara dengan apa – apa yang kau toreh
bukan aku tuli dengan apa yang kau celoteh
bukan pula bisu tuk sekedar hadirkan sanggah,
:kau lupa kita sama punya Allah?

kita tunggu saja bukti kebenaran atas sebuah diagnosa apapun
yang lahir dari bahasa isyaratmu dan tangis palsumu
karena aku tidaklah sejati dungu
dan semua terkabar dalam mimpi beberapa lembar
saat ruh menjelajah sebentar


ya, kita tunggu saja…
salam santunku untuk kalian
(meski tak mungkin kalian singgah disini)

meureubo hardvard, Banda Aceh

10 februari 2010

kejujuran berkedok

beberapa yang lalu, hadirkan posisi cermat hadapi suatu masalah, bukan hanya pijakan kepercayaan, karena nyata yang tampak tak selalu benar adanya, meski beberapa menjatuhkan nilai pada apa – apa yang terlihat.

setelah mengalami beberapa ruang penuh “hadiah” berupa penindasan atas sebuah kepercayaan dan ketulusan atau lebih tepatnya dsebut kepolosan karena enggan menaruh fikiran diposisi buruk sangka, lagipula apalah fungsi dari sebuah prasangka buruk jika lembar yang sebenarnya terabjad terbaca dengan kenyataan berbeda.

bahagia memang, jika mampu mengalahkan si”setan” yang tak punya niat mengarahkan kekanan, bertarung dengan bisik – bisik yang tak harus dituruti. ya, panji kemenangan memang mampu diraih. akan tetapi diagnosa yang berwujud nyata ternyata raup semua rasa, raup semua percaya, dan banting semua diatas trotoar berdebu, lalu digilas pula dengan truk dan diterbangkan angin pula kekubangan yang tak bisa diberi nama, sangking sakitnya.

bagaimana hendak kabarkan kebenaran, jika ternyata rapal kejujuran hanya tinggal kenangan, tersudut dikelamnya hidup tanpa sedikitpun merasa bahwa semua yang ada dalam genggaman adalah titipan-Nya. dan dengan congkaknya sang pengabar menjujurkan diri sendiri bahwa selama ini jujur yang ditampilkan hanyalah sebuah ilusi dibalik ketidakberdayaannya, ilusi karena merasa mampu memanipulasi semua jenjang hidup.

dan akhirnya tabir – tabir kebohongan terjujurkan sendiri dalam beberapa pongah yang justru dibiarkan terbaca dengan nyata, tak hanya oleh seorang, tapi berorang-orang….

terimakasih atas penelantaran sebuah kepercayaan, dan tolong digaris bawahi dengan spidol yang paling mencolok, bahwa tak ada sosok yang suka ditipu dan dihujat,

meureubo Hardvard, banda Aceh
10 februari 2010
saat lampu mendadak padam