Waktumu terbatas!!!!

Waktumu terbatas, jadi jangan sia-siakan dengan menjadi orang lain. Jangan terjebak dengan dogma, yakni hidup dengan hasil pemikiran orang lain. Jangan biarkan riuhnya opini orang lain menenggelamkan suara hatimu (Steve Jobs)

Mengawali tulisan kali ini, sebagai pembuka, setelah setahun menghilang, saya sengaja mengutip kata-kata pendiri apel yang dikabarkan sudah meninggal sebagai pelajaran penting bagi kita yang masih bernafas.

Kalau saya boleh sebut, seratus persen pernyataan beliau adalah sangat akurat kebenarannya. Bukan hal yang harus ditutupi lagi bahwasanya setiap mimpi yang dimiliki oleh manusia yang bergerak di muka bumi ini tidak sepenuhnya akan bisa diterima oleh orang lain, sedekat apapun hubungan sosial si pemilik mimpi dengan orang-orang yang menyalahkan atau meremehkan mimpi-mimpinya tersebut. Sebagai contoh nyata, saya ingin berbagi kisah saya sendiri, supaya tidak dianggap menuliskan kabar HOAX.

Ceritanya begini, pada suatu hari (gaya anak SD bercerita),  selama dua tahun belakangan ini saya seperti diingatkan akan mimpi lama saya, mimpi lama yang saya tanam sejak SMA, yaitu terjun di bidang tulis menulis. Awalnya, sejak SMA, saya ini sudah keranjingan menulis, di setiap jam istirahat, dimana lazimnya siswa-siswa keluar ruangan untuk sekedar mengisi perut, saya malah lebih sering berada di kelas, menggerakkan pulpen yang saya punya dan baru akan berhenti ketika bel masuk berbunyi. Pertama kali yang saya tulis adalah puisi, lalu lambat laun merambah ke cerpen hingga akhirnya, hari ini dua naskah panjang seratusan halaman lebih yang sedang saya rancang selesai. Namun, selesai dalam tanda kutip alias perlu revisi panjang, hehe, mohon do’anya ya, agar ada penerbit yang berminat.

Nah, jadi , sewaktu mulai nulis kembali, banyak opini orang yang saya dapati menjatuhkan. Bahkan, kalau boleh menyebut kasar, memang ingin mematikan apa yang sedang saya jalani. Tak sedikit orang-orang yang meremehkan mimpi saya terjun ke dunia tulis menulis sebelum menyelesaikan S-1. Saya, yang memang terkenal cuek dengan kekuatan beberapa orang didekat saya yang mendukung sepenuhnya apa yang saya kerjakan, memilih tetap berjalan ke depan, tanpa mau melirik kiri dan kanan, memasang kacamata kuda, pasang sumbat telinga. Karena dalam sebuah mimpi yang kita yakini keberadaannya menjadi nyata, saya percya tumpang tindih cobaan memang akan hadir. Bisa saja sebagai jawaban dari langit, sejauh mana kamu bertahan dengan keyakinan yang kamu punya. Jika hanya dengan badai kecil seperti ini (hujatan, makian, ejekan, dll) kamu tidak mampu bertahan, bagaimana nantinya, saat kamu berada di posisi yang ingin kamu raih. Jangan-jangan begitu naik podium, kita langsung terguling, menggelinding, digilas, lalu mati. Percayalah, bahwasanya di setiap deras dan guntur yang membadai akan ada pelangi kebahagian di ujungnya, yang sabar yaaa.

Setahun yang lalu, saya sama-sama mengejar ketinggalan tugas akhir bersama teman-teman kampus. Saat itu saya merasakan ada perbedaan yang sangat mencolok antara saya dan mereka dalam hal mimpi. Memang apa yang mereka sarankan tidak salah, namun jikalau saja saya menerima mentah-mentah saran mereka untuk fokus saja ke kuliah dulu, OH, tentu saja sekarang saya sudah kehilangan arah berjalan. Dengan tegas, selalu, siapapun yang bertanya, kapn kamu tamat, insyaAllah jika saya sudah punya buku, jawab saya mantap. Berkali-kali kalimat ini saya keluarkan.  Bukankah ucapan adalah sebuah do’a. Nah, jadi tak salahkan mendo’akan yang baik buat diri sendiri.

Lagipula, setahu saya seseorang yang bisa fokus terhadap banyak hal sekaligus semaki sedikit ditemukan. Memilih satu saja hal yang ingin dikerjakan secara serius dalam satu waktu adalah resep sukses yang saya pelajari dari kebanyakan orang di negeri ini, dan juga orang-orang sukses di luar sana. Hingga akhirnya, dengan segala tekanan dan suara, melalui sms, ataupun telepon, saya tetap memilih menyelesaikan apa yang saya pilih saat itu. Menyelesaikan halaman tebal pertama sambil terus menikmati kabar bahwasanya beberapa tulisan saya dimuat dalam sekitar 4 atau  lima antologi. Dan akhirnya, di akhir tahun lalu, halaman panjang pertama tuntas. Lalu dengan segala ketinggalan akan tugas akhir, saya yang akhirnya bisa fokus total, karena sudah punya satu modal untuk mimpi yang saya bangun, akhirnya bisa selesai dalam hitungan bulan saja. Ide-ide segar mengalir setelah blockade perihal mimpi yang saya anggap lebih urgent saat itu selesai saya lewati.  Alhamdulillah ramadhan kemarin setelah menunggu beberapa bulan jadwal wisuda, akhirnya saya resmi menjadi seorang Sarjana teknik.

Setidaknya sekarang setelah ijazah resmi di tangan, tepat seminggu yang lalu, saya tahu kemana saya akan berjalan. Setengah hari di awal nulis, setengah hari bagian kedua kerja kecil-kecilan—ceritanya nambah relasi.

Pesan saya, tanpa maksud menggurui, jika memang anda punya mimpi yang begitu tinggi segera gunakan kapas di telinga, sumbat sedalam mungkin agar suara sumbang di luar sana, tidak merobohkan bangunan mimpi yang sedang anda susun. Teruslah berjalan, percayalah mimpi yang besar yang dikerjakan secara fokus, akan membimbing anda menemukan jalan berbinar dengan orang-orang yang mungkin sebelumnya tidak anda kenal, tiba-tiba muncul merangkul mimpi anda.

 So, lupakan mereka pematah mimpi. Paling-paling cuma ngantar sampai di depan kuburan doang!!! :D

Selamat meraih mimpi teman. Terimakasih sudah berkunjung. Akan segera blogwalking, InsyaAllah

gambar diambil dari hmjmfeunsoed.wordpress.com

Tak Perlu sebar percaya

Biar ga kosong.. (TAPI MAAF , belum sempat blogwalking secara serius) :(   , dikejar target besar..

TAK PERLU SEBAR PERCAYA

Blib

Aku tahu ini perih. Aku tahu ini luka. Tapi jika kupaksa kau bungkam, cemasku semua kebenaran padam. Tapi jika kau bicara, tak elak banyak jiwa harus tergadai. Terutama jiwamu, batinku.

Kau tahukan apa arti perih? Patah berkeping – keping atas percaya yang tergadai percuma, dan aku tak mau jika mereka merasa sepadan. Sepadan di Continue reading

POSTINGAN ATAS KEMBALINYA SAYA :D

Sejak  dari tadi, kemarin , kemarinnya lagi dan hari-hari sebelumnya, sejak saat pertama kali saya kembali ke tanah rantau yang lokasinya sebenarnya tak terlalu menelan ratusan tahun cahaya, tak perlu menelan jarak satu hari satu malam perjalanan, bahkan tak perlu menelan ongkos lebih dari seratus ribu rupiah, sejak itu pula tekad saya berganti bulat. Ibaratnya,  kalau saya katakan adalah ruh rajin saya yang dulu sedia di dalam diri saya hingga kadangkala menjadikan kawan-kawan saya ketakutan mendengar penuturan saya yang kelewat ambisius perihal kampus, baik masalah proposal  yang belum jatah, namun nekat diambil hingga masalah lainnya yang benar- benar telinga saya mendadak tuli dari omongan orang. Continue reading

Catatan liburan lebaran

Lebaran tahun ini benar-benar lebaran yang berbeda. Sungguh berbeda. Dan jika benar, ini adalah lebaran terakhirku, maka aku merasa makna fitri itu benar-benar menyebar, menyeluruh, meliputi seluruh sendi, dan aku benar-benar merasa berdetak. Benar-benar berdenyut. 

kisah ini dimulai dari lebaran pertama. ada yang berbeda dengan lebaran kali ini. kerut-kerut wajah nenek tak lagi ada. Ia sudah pulang ke Rahmatullah beberapa bulan yang lalu. Rumah nenek benar-benar sepi. Tak ada jamuan besar seperti biasanya. Paman dan mak cik yang rumahnya jauh pun tak kelihatan batang hidungnya. ada kehampaan di sana, apalagi saat aku melihat gelaran tikar yang sudah berbeda warnanya, juga kue-kue lebaran yang juga tak sama dengan saat keberadaan nenek masih di rumah tersebut. Penghuninya sekarang hanya mak cik yang paling muda, jadi paman dan mak cik lainnya tidak berkumpul di sini. Kami kehilangan markas besar. Continue reading

meugang, tradisi masyarakat aceh yang tak lekang digerus zaman

kali ini saya akan bercerita mengenai kebiasaan yang selalu jelma menjelang gerbang ramadhan terbuka. Ini adalah tentang periode dan masa – masa yang katanya bagi mereka yang sudah merantau sulit ditemukan di luar aceh.  Tradisi yang sudah mengakar begitu lama hingga akhirnya subur dan kian menjulang meski zaman kian tergerus ke arah kemodernan. Tak soal sebenarnya, karena jelas tradisi ini tak luput sejenakpun. Meski kantong menipis tapi tradisi ini sudah sangat melekat dan rasanya tidak lumrah menyambut ramadhan tanpa tradisi ini. dia adalah meugang. Meugang ini adalah tradisi yag sudaa turun temurun berlangsung di aceh. Tradisi ini  terkait erat dengan jual beli daging di pasaran. Hari meugang pun biasanya  berlangsung selama dua hari berturut – turut sebelum ramadhan menjelang. Dan menjelang lebaran , baik idul fitri maupun idu adha, meugang serupa juga di gelar.  Kalau sudah tiba hari meugang, maka aroma masakan benar – benar menyeruak dari setiap penjuru, dari setiap rumah, meskipun bukan orang – orang kaya. Ada yang berbaik hati memberikan beberapa atau mungkin Cuma sekilo daging untuk mereka yang papa.

Kemarin saya terpaksa keluar melewati pasar yang penuh. Padahal kawasan saya tempati adalah kawasan yang lokasinya adalah pusat mahasiswa. Dan ternyata sama seperti tahun -  tahun sebelumnya. Di sepanjang jalan dari gerbang Darussalam, berjejerlah pedagang – pedagang daging lembu (lembu apa sapi ya?? Bingung saia @_@) . sehari sebelumnya , lapak – lapak penjual daging memang  sudah didirikan dan kemarin mulailah pembeli berkerumun membeli satu hingga beberapa kiloo daging untuk bekal puasa nantinya.(sahur pertama, dan beberapa hari)

Pasar lamnyong yang jaraknya tak jauh dari lapak  penjual dagingpun terlihat ramai. Jalanan macet, dan segala riuh sempurna bercampur. Dan rindu ramadhan itu kian jelma, terlihat jelas dari semangat yang menggebu baik dari pembeli maupun penjual. Perjalann saya akhirnya smapai juga di pusat kota dengan tujuan mengabil kiriman paket ( hahaa iniah naseb anak kos)  di salah satu loket mobil yang jaraknya searah dengan mesjid raya baiturrahman, paket ramadahn yang berisi rendang dan stok makanan laiinya, meskipun tak pulang untuk yang keenam kalinya, bukan berarti tradisi meugang hilang begitu saja. Saya juga tetap merasakannya kok, hanya saja, bedanya saya tak turut langsung terjun ke dapur, melainkan langsung nerima jadi.

Apapun itu, yang jelas saya tetap bersyukur, aroma ramadhan kian terasa di sini dengan adanya tradisi meugang. Jadi ingat sahabat saya di porsea,  pertama kalinya ga merasakan meugang.. turut berduka ya kawan, tapi teteeeeep.. Ramadhan harus disambut dengan riang gembira..

Marhaban Ya Ramadhan..

Wahai bulan yang selalu dirindu

Kami disini sama menanti gerbangmu terbuka lebar

Sama ingin segera melangkah

membenam diri dengan segala perbaikan diri

Merindumu Ramadhan

CEPATLAH TARAWIIIIH
:(

penghujung sya’ban (masih di banda aceh)

Meureubo Harvard, 10 agustus 2010

MARHABAN YA RAMADHAN

peue haba (apa kabar)narablog sekalian?? sekedar mengabarkan saat blog ini sedang dalam pikir – pikir mau di isi apa, ternyata gempa kembali melanda wilayah aceh, hampir selalu begini di awal bulna. anggap saja Allah sedang menegur kita yang menggenggam uang dalam jumlah gepokan agar tidak terlena dengan harta titipannya. ya, beberapa bulan ini selalu saja gempa datang tanpa salam di awal bulan. seolah memang untuk kembali mengingatkan.

kondisi terakhir? wallahu’alam. yang jelas di banda aceh , Alhamdulillah belum terdengar desas desus yang aneh – aneh, semoga saja tidak ada problem serius.

postingan kali ini cuma buat ngucapin -sekali lagi- Marhaban Ya Ramadhan..

aroma dan suasananya sudah mendekat, saatnya prepare sebaik mungkin.

saya mengutip salah satu hadist dari Rasulullah SAW

Abu Hurairah ra meriwayatkan  bahwa Rasulullah SAW bersabda

“puasa merupakan perisai. oleh karena itu, jika salah seorang di antara kalian berpuasa, maka janganlah berkata kotor dan bersikap tidak ramah. jika ada yang mengajaknya bertengkar, atau mencacinya, maka hendaklah dia berkata “aku sedang puasa.” (sebanyak dua kali). demi dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa di mata Allah lebih baik dari wangi kasturi. karena dia tidak makan , minum, dan meredam nafsunya karena mengharap keridhaanku. Puasa untuk-Ku dan Aku akan memberikan balasan atasnya.(dan ketahuilah bahwa) satu kebaikan akan dibalas dengan sepuluh kebaikan.” (HR. Bukhari – muslim)”

oklah..singkat saja ya, lagi diserang deadline, mari kita siapkan hati dan jiwa, perbaiki hubungan antar sesama, sebarkan kebaikan, baca kembali literatur yang berkaitan dengan puasa (untuk yang satu ini saya sudah hunting dua buku baru, hahai.. :P , senang sekali menemukan buku yang sangat renyah di baca), dan terakhir yang hendaknya dilakukan agar RAmadhan semakin semarak adalah menghias rumah dengan pernak – pernik yang akan enjadikan ramadhan semakin berkilau.

ok..saya permisi dulu,  mau mengotak – atik ruangan yang sudah hijau, menjadi lebih hijau lagi :D

meureubo Harvard, 3 agustus 2010

masih di BAnda Aceh :)

jelang purnama sya’ban

aku melihatmu saban hari, termenung di antara kerikil kecil dan aliran sungai bening. Kau tau? kukira kau baik – baik saja. sampai kudengar isak kecilmu berpadu dengan riak kecil setelah benturan kerikil.
Ada apa lagi?

ada apa denganmu teman? kenapa akhir – akhir ini rupamu menganeh?
tapi kau diam saja. tak menganggap ku ada.
jeda beberapa saat, saat helai dedaunan mulai jatuh mengikuti aliran sungai, kau pun buka suara.

“aku ragu mengetuk Ramadhan kali ini. meski kusadar alamat nafasku tak tentu sampai ke gerbangnya, tapi..” kau menghela nafas, panjang dan berat. terbaca jelas kau simpan beban berton beratnya.

“memaafkan itu memang bisa kulakukan. Tak terlalu sulit. Tapi melupakan sakit yang menjalar itu, sukar rasanya. aku sudah mencoba, dan jika memori tentang itu kembali muncul, jujur saja, rasanya aku malu pada Tuhanku, aku malu karena aku selalu meminta ampun, tapi nyatanya maafku untuk mereka sepertinya tak ikhlas lahir, hanya sekedar mengiyakan agar mereka tenang. aku kejam!”

“sya’ban sudah hampir purnama, kenapa kau masih kelu lahirkan potongan maaf?” tanyaku pelan

“aku tau..aku tau… aku memang jahat…menjauh saja dariku… aku ingin bermunajat sendirian, aku ingin memohon ampun atas benci yang masih menjalar atas pongah mereka, atas penghakiman mereka beberapa purnama lalu…”

” kau punya hak membalas…”ujarku ” al-quran mengajarkan demikian, tapi memaafkan akan lebih baik adanya”…”lagipula mereka masih kurang ilmu, tak tau bagaimana bersikap sesuai Al-Quran, anggap saja mereka awam…”

“aku sudah mencoba. tapi maaf itu hanya sekedar maaf. memoriku masih merekam dengan erat. sakit itu ternyata sudah meracuni segala gerakku, aku takut Tuhan mengambilku pulang sebelum sakit itu benar – benar kulupakan, aku takut alamat kematianku tak jelas rupa kiri ataupun kanan. aku takut.” kau memandangku tajam, mencoba menutupi gerimismu, “ah, kau….pergilah sejauhnya dariku, aku tak ingin kau tercemar sepertiku, tak ingin kau merasa sakit yang sama”

dan sya’ban nyata sudah merangkak menuju bilangan paruh, lalu -dengan izin-Nya- akan memasuki Bulan maghfirah
kau masih merenung di tempat yang sama, kudengar sesekali kau berteriak kencang..

“Ya Allah, ampuni hamba yang belum bisa melupakan kezhaliman mereka, hamba tidak mau menyiksa diri dengan memori kelam itu, hamba tak ingin maaf itu belum muncul, setulusnya, masih menggantung di langit, atau masih tertanam di tanah…Allah..Allah..Alla

h… bantu hamba melupakan kezhaliman mereka..bantu hamba…..”

meureubo harvard, 24 juli 2010
kawan, aku pergi dalam waktu yang lama, jangan cari aku di sini…..kita bincangkan saja lebih lebar di ruang yang berbeda..
Ada Allah di setiap Gerakmu..

dan kita sama menanti Ramadhan… sama menanti…

lahir dari mimpi – mimpi

SALAM.

“kesuksesan  lahir dari mimpi – mimpi kita, maka teruslah bermimpi dan rekatkan ia dengan usaha serta do’a”

anda punya mimpi? saya yakin jawabannya adalah iya, tentu saja, benar sekali dan rekan – rekannya. Lagipula tak ada salahnya dengan bermimpi, toh kebanyakan orang sukses bermula dari mimpi – mimpi mereka di masa lalu. mimpi yang semula hanya mimpi dan dengan usaha serta do’a , ianya menjadi kenyataan yang seakan – akan membawa si pelakon (kita) seolah berada di ruang mimpi saat mimpi itu menyata adanya.

Ini bukanlah tentang lelucon ataupun omong kosong. Yang saya tuliskan hari ini adalah hasil dari mencuatnya mimpi – mimpi kecil saya, mimpi – mimpi yang dulunya hanya bertengger di ruang mimpi . Dan saya, kala itu sama sekali tidak berani mengeluarkannya dari ruang mimpi itu ataupun berteduh di sana terlalu lama. Khawatir akal saya tak berfikir secara sehat lagi. Namun, yang terjadi ternyata saya tetap saja mendobrak ruang mimpi itu, masuk kedalamnya, terlena sejenak, lalu mencoba segala upaya untuk mengeluarkan mimpi itu meski tak sekilat mengedipkan mata. Continue reading

Kematian Dua Pembunuh (Flash Fiction)

menyapa saja…

hari ini hari pertama di bulan juli, hari pertama yang penuh dengan rangkaian keanehan yang saling sahut menyahut.

terutama keanehan yang mendera saat berada di eskalator. mendadak saya yang dulunya memang anti dengan ketinggian, merasakan phobia yang sama, sampai harus berpegangan erat pada sisi eskalator saat ia beranjak naik. benar – benar di luar kebiasaan, apa mungkin ya perasaan takut sudah terkubur lamaaaaaaa sangat bisa muncul lagi, ? padahal tak ada gejolak apapun, tapi tetap saja rasa takut itu muncul lagi. Tak hanya di situ saja, dulu saya juga merasa ngeri jika harus ditebengi motor oleh teman saya, tak peduli kencang atau tidak laju yang dihasilkan. Dan hari ini , di hari yang sama dengan kebangkitan ketakutan akan ketinggian, ketakutan serupa saat melintas di jalan raya juga muncul kembali, (entah siapa pun yang ngundang).

dan akhirnya agar tidak banyak berfikiran dan menganalisa terlalu jauh (Kasihan Tugas akhir saya ntar ga teringat – ingat) akhirnya saya ambil kesimpulan sederhana sendiri : harus lebih banyak mengingat -Nya. buat apa takut dan cemas (meski ini adalah lumrahnya manusia) jika ternyata saya masih memiliki Sang Penggenggam Cemas. :D

OK..biar ga kosong….

postingan lama ini saya putar di sini..

semoga bermanfaat

———————————————————————

KEMATIAN DUA PEMBUNUH

“aku masih menyimpan erat mimpi itu “ kutarik nafas dalam, ” terantai dengan baik dalam setiap sel – sel yang ada di kepalaku, bahkan kuncinya sengaja kulempar ke laut agar tak seorangpun menghalau rencana kita” Continue reading

Catatan untuk akhir bulan ini

Lagi – lagi disergap bosan. Banyak alamat yang harus dikelarkan, tak hanya alamat email yang harus dikirimi naskah, tapi juga alamat rumah yang harus segera disinggahi. Tak elak, kepala yang sudah terasa dijungkirbalik gara – gara  hitungan neraca yang merupakah salah satu anggota tubuh si Rancangan akhir, akhir – akhir ini mengakibatkan saya semakin bersikap tak jelas. Kerap berjalan sendirian tanpa arah, mencoba melepas penat, bahkan merasa angker dengan gedung teknik kimia tiga tingkat dan juga biro rektorat. Kadangkala dengan sengaja tidak melangkah keluar kosan. Tak ingin tau apa yang terjadi di luar sana. Butuh ketenangan ekstra. Bahkan malam – malam panjangpun yang biasanya di isi pencarian info – info terbaru menjadi lenyap sama sekali. Jika si hitungan tak mampu lagi diterima kepala, otomatis saya akan langsung memejamkan mata. Tak terima rasanya,  jika harus berselancar beberapa jenak, sedangkan misi utama itu -terkesan- terabaikan. Inilah dilemma sang pejuang garis akhir.

Mengisi kekosongan jeda, hal yang saya lakukan adalah menelusuri jejak – jejak kompetisi menulis, dimanapun dan kapanpun. Tak peduli apakah masuk akal jika saya yang sama sekali tak segaris posisinya dengan peserta – peserta yang umumnya nama – namanya sudah tersohor di deretan penulis (papan ataskah atau pendatang baru) yang penting kenekatan itu tetap berjalan. Ada beban mental rasanya jika mengetahui suatu kompetisi ada dan ternyata naskah yang sesuai kelar pengerjaannya, tidak dikirim. Ya , meski dari berpuluh yang diikuti hanya dua atau tiga persen saja yang tertera huruf – huruf penyusun nama saya di dalamnya. Continue reading

potongan novel (dalam rencana) catatan lama

Don’t be panik..yaaa…ini catatan lamaaaa banget, bulan satu duluuu. rencananya memang mau di jadiin novel , tapi ga sabar nyiapinnya, so waktu itu langsung dipost di multiply saya… n biar blog ini ga kosong, ya untuk sementara silakan baca dulu ya…
*merasa bersalah juga, gara – gara ga posting – posting* tapi demi agenda akhir tahun yang harus segera dikelarkan, mau ga mau harus mengurangi ruang gerak disini, POKOKNYA TAHUN INI HARUS SIDANG!!!!!
mohon do’anya yaaaaa….
*kepala makin pusing*
——

pagi masih sisipkan rindu
juntaikan klise lama dalam sepotong kelu
dan langitpun tak lupa tawarkan sendu
:berbait – bait rindu

senja, entah berapa kali kukirimkan abjad istimewa oleh – oleh kampus kita dan tak ada satupun respon darimu. kuanggap kau masih terlalu sibuk untuk sekedar mengklik alamat emailmu sendiri.

senja, hilir mudik debu yang terikat angin masih bersisa dikampus kita, masih sama lintasi trotoar kecil diposisi parkiran depan. dan kemarin dua sosok perdana duduk lagi disana, hiasi penantian petinggi kampus dengan kudapan – kudapan ringan.
Dan akupun yang turun dari lantai dua dapati mereka sudah kembali erat seperti dulu, ya , senja mereka sudah kembali, tembok penghalang persahabatan itu sudah luluh lantak dalam proses yang sering kuras airmata tomodachiku yang lain.

senja, kuikuti iseng mereka, duduk di pinggir trotoar yang memang tak lumrah dijadikan pilihan, banyak tempat duduk terserak di atas koridor dan memilih disini adalah hal yang aneh, tak heran wajah senior dan junior agak sedikit berkerut melihat tingkah kami, berempat, ditambah partnerku.

sesekali motor dipaksa berhenti sekedar lemparkan lelucon. –kenapa memilih profesi baru ini, mengemis ditrotoar–. hei, hei tuan, kami di sini sedang menunggu sesosok manusia, bukan melakonkan profesi apapun.

permadani batuan kecilpun masih hiasi tatap masa lalu kami, yah kenang beberapa episode bahagia, dan juga kisahkan jejakmu senja, ya, baru kusadar ternyata rindu itu masih tersimpan erat di bilik rindu masing – masing, dan sungguh takkan luput meski tak lagi semilir hiasi teknik ini, sekalipun topan hempaskan semuanya.

senja, sebatang tanaman serupa bambu, bahan penelitian dua sosok awal itu jadi bahasan utama kami, bagaimana dia bisa menyerap COD dan BOD, yah lagi – lagi kami menjadi pengamat lingkungan, sampai – sampai harus berguru kepada alam untuk lenyapkan beberapa pengancam hidup manusia.

senja, kau benar, kita memang terlalu sombong sebagai manusia, tak terhitung kalinya alam kita rusak, kita abaikan, dan enggan melakonkan pola hidup kembali kealam,. kembali kealam bukan berarti kita harus hidup layaknya manusia purba-sering kau singgung dalam bincang ringan kita-namun belajar lebih mengoptimalkan alam, banyak hal dari alam ini yang bisa kita jadikan panduan, banyak sekali, bukankah ini juga “membaca”.?

ya, senja, kau benar, membaca tak hanya lewat abjad. tak hanya sederet huruf yang sudah dicetak dilembar – lembar yang juga berasal dari alam. berapa banyak ya pohon yang sudah ditebang untuk produksi kertas?? sampai sicumlaude dileting kita batalkan rancangan pabrik kertasnya, karena setia memancang icon GO GReen.. aku suka ini!!

senja, kau ingat sahabat kita yang dilamar melalui dunia maya?kelewatan kalau kau lupa, kita sering bahas ini dilaboratorium OTK sembari tatap tangki distilasi raksasa yang tak pernah lagi dinyalakan karena sedot seluruh arus di kampus ini, dan kampuspun mendadak menjadi kota mati.
aku masih ingat menemaninya keliling bersama seorang calon iparnya, ya, kutangkap seolah rencana masa depannya tak mungkin terhalangi apapun, dan ternyata aku salah senja. Garis hidup mengantarkannya kejalan berbeda, tak sekalipun pertemuan dengan si calon digelar, meski sahabat kita sudah kenal erat dengan sosok familinya dan ternyata hadiahkan ragu membumbung, lalu palupun diketuk.

ya, dunia kerja sang calon mengakibatkannya lalai tepati janji, tak ada lamaran ataupun ta’aruf digelar, semua mimpi tertebas begitu saja. senja , akupun resapi perih yang sama, sungguh tak tega, padahal seluruh personil sudah mengelu – elu hadir pembuka gerbang itu, ya, kukira akan ada gerbang baru beberapa purnama lagi.

ya, senja, aku masih ingat pesanmu, hati – hati dengan dunia maya, jika memang masih ada sosok nyata yang hadirkan janji lebih baik, kenapa harus terlena dengan sebuah icon kemayaan, dan senja, nasi benar – benar sudah membubur. beberapa sosok nyata tawarkan ikatan, dan ternyata semua tertolak hanya karena sosok maya yang begitu lampaui keistimewaan.

senja, aku geram dengan para penipu itu, benar – benar keterlaluan, dan akupun geram dengan dia kenapa harus terbuai. semoga saja tak lagi lingkupi hal yang sama, pun untukku dan kau.

senja, potret duka itu lenyap perlahan.cengkram rindu kami untukmu di sana. ya, kami seolah lupa dengan bait- bait merdumu, saran sayangmu. ah senja, andai tak selambat ini hati mereka terketuk.

haru kembali menyeruak penuhi ruang rinduku untukmu

senja, aku dan mereka sama rindukan hadirmu. setoran indah juz demi juz. senja, kau dimana, tak kau baca bulir rindu kami?
oh ya senja, kabar manusia oman kita belum jua kutemukan, berulangkali kulirik taman kita, dan ternyata bunga – bunga itu belum kembali. ya, perih memang. setahun tak lagi ada mekar dan harum di taman kita dan kulirik taman lain yang nyaris serupa. sia – sia senja, tak sekuntum mawar atau melati kutemui, yang ada hanya perih bungakan hatiku dalam rindu berpasak memori.

senja, kita tak perlu tangisi inikan? ya, sungguh tak usah, merekapun kirimkan rindu , hantarkan tepat di meureubo. semua terbaca dalam bait – bait mereka, bait rindu yang sama. ah, senja tak perlu kita pungkiri indahnya tautan hati , terikat semua dalam rabithah. ya, semua kuat dalam rabithah, senja , aku rindu mereka, rindu kau juga.

dan hari ini beberapa sosok coba gantikan posisi manusia oman, aku tak yakin mereka mampu, tapi sudah lah ikat semua dalam rabithahkan?? biarkan tasbih burung kecil itu do’akan pula kutemukan sosok serupa kalian.

senja, aku benar rindu juz – juz mu. ya, mereka juga senja, sama rindukan, meski tak satupun tatap terjalin
senja, cukuplah Dia yang menilai semuanya, akan kutunggu bahagia itu lingkari kita lagi, entah di bumi mana, entah mungkin kelak di taman terindah itu..

senja, semoga kau baik – baik saja, aku kehilanganmu…

:(

langit meureubo masih kirimkan rindu, arak awan jauhi biru, namun rindu tak cukup dalam abjad

—-

postingan semula maaf kalo ga menarik..

sampai jumpa lagi…do’akan saya sidang Tahun ini,:D

Don’t be panik..yaaa…ini catatan lamaaaa banget, bulan satu duluuu. rencananya memang mau di jadiin novel , tapi ga sabar nyiapinnya, so waktu itu langsung dipost di multiply saya… n biar blog ini ga kosong, ya untuk sementara silakan baca dulu ya…
*merasa bersalah juga, gara – gara ga posting – posting* tapi demi agenda akhir tahun yang harus segera dikelarkan, mau ga mau harus mengurangi ruang gerak disini, POKOKNYA TAHUN INI HARUS SIDANG!!!!!
mohon do’anya yaaaaa….
*kepala makin pusing*
——

pagi masih sisipkan rindu
juntaikan klise lama dalam sepotong kelu
dan langitpun tak lupa tawarkan sendu
:berbait – bait rindu

senja, entah berapa kali kukirimkan abjad istimewa oleh – oleh kampus kita dan tak ada satupun respon darimu. kuanggap kau masih terlalu sibuk untuk sekedar mengklik alamat emailmu sendiri.

senja, hilir mudik debu yang terikat angin masih bersisa dikampus kita, masih sama lintasi trotoar kecil diposisi parkiran depan. dan kemarin dua sosok perdana duduk lagi disana, hiasi penantian petinggi kampus dengan kudapan – kudapan ringan.
Dan akupun yang turun dari lantai dua dapati mereka sudah kembali erat seperti dulu, ya , senja mereka sudah kembali, tembok penghalang persahabatan itu sudah luluh lantak dalam proses yang sering kuras airmata tomodachiku yang lain.

senja, kuikuti iseng mereka, duduk di pinggir trotoar yang memang tak lumrah dijadikan pilihan, banyak tempat duduk terserak di atas koridor dan memilih disini adalah hal yang aneh, tak heran wajah senior dan junior agak sedikit berkerut melihat tingkah kami, berempat, ditambah partnerku.

sesekali motor dipaksa berhenti sekedar lemparkan lelucon. –kenapa memilih profesi baru ini, mengemis ditrotoar–. hei, hei tuan, kami di sini sedang menunggu sesosok manusia, bukan melakonkan profesi apapun.

permadani batuan kecilpun masih hiasi tatap masa lalu kami, yah kenang beberapa episode bahagia, dan juga kisahkan jejakmu senja, ya, baru kusadar ternyata rindu itu masih tersimpan erat di bilik rindu masing – masing, dan sungguh takkan luput meski tak lagi semilir hiasi teknik ini, sekalipun topan hempaskan semuanya.

senja, sebatang tanaman serupa bambu, bahan penelitian dua sosok awal itu jadi bahasan utama kami, bagaimana dia bisa menyerap COD dan BOD, yah lagi – lagi kami menjadi pengamat lingkungan, sampai – sampai harus berguru kepada alam untuk lenyapkan beberapa pengancam hidup manusia.

senja, kau benar, kita memang terlalu sombong sebagai manusia, tak terhitung kalinya alam kita rusak, kita abaikan, dan enggan melakonkan pola hidup kembali kealam,. kembali kealam bukan berarti kita harus hidup layaknya manusia purba-sering kau singgung dalam bincang ringan kita-namun belajar lebih mengoptimalkan alam, banyak hal dari alam ini yang bisa kita jadikan panduan, banyak sekali, bukankah ini juga “membaca”.?

ya, senja, kau benar, membaca tak hanya lewat abjad. tak hanya sederet huruf yang sudah dicetak dilembar – lembar yang juga berasal dari alam. berapa banyak ya pohon yang sudah ditebang untuk produksi kertas?? sampai sicumlaude dileting kita batalkan rancangan pabrik kertasnya, karena setia memancang icon GO GReen.. aku suka ini!!

senja, kau ingat sahabat kita yang dilamar melalui dunia maya?kelewatan kalau kau lupa, kita sering bahas ini dilaboratorium OTK sembari tatap tangki distilasi raksasa yang tak pernah lagi dinyalakan karena sedot seluruh arus di kampus ini, dan kampuspun mendadak menjadi kota mati.
aku masih ingat menemaninya keliling bersama seorang calon iparnya, ya, kutangkap seolah rencana masa depannya tak mungkin terhalangi apapun, dan ternyata aku salah senja. Garis hidup mengantarkannya kejalan berbeda, tak sekalipun pertemuan dengan si calon digelar, meski sahabat kita sudah kenal erat dengan sosok familinya dan ternyata hadiahkan ragu membumbung, lalu palupun diketuk.

ya, dunia kerja sang calon mengakibatkannya lalai tepati janji, tak ada lamaran ataupun ta’aruf digelar, semua mimpi tertebas begitu saja. senja , akupun resapi perih yang sama, sungguh tak tega, padahal seluruh personil sudah mengelu – elu hadir pembuka gerbang itu, ya, kukira akan ada gerbang baru beberapa purnama lagi.

ya, senja, aku masih ingat pesanmu, hati – hati dengan dunia maya, jika memang masih ada sosok nyata yang hadirkan janji lebih baik, kenapa harus terlena dengan sebuah icon kemayaan, dan senja, nasi benar – benar sudah membubur. beberapa sosok nyata tawarkan ikatan, dan ternyata semua tertolak hanya karena sosok maya yang begitu lampaui keistimewaan.

senja, aku geram dengan para penipu itu, benar – benar keterlaluan, dan akupun geram dengan dia kenapa harus terbuai. semoga saja tak lagi lingkupi hal yang sama, pun untukku dan kau.

senja, potret duka itu lenyap perlahan.cengkram rindu kami untukmu di sana. ya, kami seolah lupa dengan bait- bait merdumu, saran sayangmu. ah senja, andai tak selambat ini hati mereka terketuk.

haru kembali menyeruak penuhi ruang rinduku untukmu

senja, aku dan mereka sama rindukan hadirmu. setoran indah juz demi juz. senja, kau dimana, tak kau baca bulir rindu kami?
oh ya senja, kabar manusia oman kita belum jua kutemukan, berulangkali kulirik taman kita, dan ternyata bunga – bunga itu belum kembali. ya, perih memang. setahun tak lagi ada mekar dan harum di taman kita dan kulirik taman lain yang nyaris serupa. sia – sia senja, tak sekuntum mawar atau melati kutemui, yang ada hanya perih bungakan hatiku dalam rindu berpasak memori.

senja, kita tak perlu tangisi inikan? ya, sungguh tak usah, merekapun kirimkan rindu , hantarkan tepat di meureubo. semua terbaca dalam bait – bait mereka, bait rindu yang sama. ah, senja tak perlu kita pungkiri indahnya tautan hati , terikat semua dalam rabithah. ya, semua kuat dalam rabithah, senja , aku rindu mereka, rindu kau juga.

dan hari ini beberapa sosok coba gantikan posisi manusia oman, aku tak yakin mereka mampu, tapi sudah lah ikat semua dalam rabithahkan?? biarkan tasbih burung kecil itu do’akan pula kutemukan sosok serupa kalian.

senja, aku benar rindu juz – juz mu. ya, mereka juga senja, sama rindukan, meski tak satupun tatap terjalin
senja, cukuplah Dia yang menilai semuanya, akan kutunggu bahagia itu lingkari kita lagi, entah di bumi mana, entah mungkin kelak di taman terindah itu..

senja, semoga kau baik – baik saja, aku kehilanganmu…

:(

langit meureubo masih kirimkan rindu, arak awan jauhi biru, namun rindu tak cukup dalam abjad

—-

maaf kalo ga menarik..

sampai jumpa lagi…do’akan saya sidang Tahun ini,:D

Reuni meureubo Harvard…..

Salam..

Pagi, siang , sore, malam, tengah malam, de el el..

Huaaaaaaaa… lama ga posting…

10 bab tugas akhir plus lima lampiran yang sekali print total bakalan habisin dua rem kertas itu bener – bener nguras tenaga…but, nguras tenaga bukan berarti jadi kering kerontangkan? Apalagi tiga hari ini Banda Aceh mulai diguyur hujan lagi.  Setelah sekian lama dilanda terik dan tentu saja mati lampu.(musuh utama mahasiswa tugas akhir , laptop ga bisa nyala).

Alhamdulillah sudah ada kemajuan sedikit. (meski dikiiit banget,tapi tetap harus disyukuri, karena Allah punya rencana, yang penting usaha n do’a tetap sepaket).

Sedikit cerita, biar blog ini ga kosong.

Sabtu kemaren saya dan beberapa anak kos lama, anak meureubo Harvard (cieeee)…. Wait, jangan kira ada salah satu diantara kami yang  kuliah di Harvard sana yaaaaa, nooo…. Ini hanya julukan untuk keasrian yang tertangkap oleh bola mata jika melintasi kawasan meureubo. Satu – satunya kawasan di area Darussalam (area kampus) yang terasa dingin, dengan pohon – pohon asam menjulang di kiri kanan jalan, n pokoknya adem lah kalo lagi terik – teriknya (sedikit mengurangi).

Setelah dua tahun berpisah dengan senior – senior di kos, beberapa tamat kuliah n pindah kosan akhirnya kami sua kembali di ayam lepas kawasan lamprit, tepatnya di depan SMU n 3 Banda Aceh.. Yah begitulah kebiasaan di kos saya, kalau sudah tamat memang harus keluar karena kosan ini memang diperuntukkan bagi anak – anak mahasiswa..

menu utama ayam lepas, lucu ya namanya, minumnya  teh dingin (hujan lebat lho…hehehe),  plus perbincangan yang merambah keseluruh pelosok masalah hidup. (sayang file foto makanan n personelnya masih belum ditangan, jadi ga bisa di upload )

Mulai dari masalah pekerjaan sang senior, tugas akhir beberapa kepala yang berkumpul, sampai masalah kesehatan dan ekonomi syariah.. hahai… pertemuan yang sungguh merangkul diskusi dan tambahan informasi.

Yah, memang  jika kumpul – kumpul itu diniatkan untuk hal – hal yang baik, akan ada manfaat di dalamnya. Banyaaaaaak banget ilmu dari mereka. Terimakasih kakak – kakakku ….semoga kalian makin sukses, apalagi buat yang udah bayarin . (padahal enggak serius minta di bayarin, tau – tau beneran)

——————–

Mengutip puisi lama

sungguh rasa ini kian hadir
dalam desah nafas yang kian menepi
tak rasa jua satukan fikir
remuk semua dalam bait – bait sunyi
bait – bait rindu

duhai ibu
lantunan qira’ah mu kurindu
tegur kemalasanku kudamba
dan kisah klasikmu dari tanah suci kerap curi lelap malamku

ibu
hitungan purnama masih kuabsen
agar hadir sehelai penentu pulang
tak mau larut dalam dimensi usang
karena sungguh inginku bangun peradaban baru
tak lagi berbatas status pun dimensi

ibu
tak hitung lagi peluh dan tangis sama kita tawan
kais rindu agar tak benam karakter
agar kian sambangi ruang bahagia

ya, rindu yang baitkan pinta pada-Nya
terjaga dari segala hantaman
dan juga cicil cinta agar sungguh lepas hiasi angkasa
cicil ayat yang kita jadikan kunci

ibu
ulang detik tanyakan serupa
rindu ada atau terselip?
dan abjad papar semua dalam suara
ada rindu disini dan disana
terhias serupa dalam pura
ya, pura – pura tak rasa

ibu , tak kuundang cemas
namun terlalu gegas merembes
cemas tak kupunya sisa detak tuk tatap wajahmu
cemas sama tak punya waktu tuk saling bicara

ibu, anakmu rindu… :(

—–

maaaaaaf sekali lagi..kalo balasan kunjungannya lamaaaaa.. lagi semangat – semangatnya nyusun tugas akhir..

terimakasih sudah berkunjung

Banda Aceh, 7 juni 2010

Repost : kursus Para Koruptor

kursus koruptor ; silakan mendaftar, free….

Debu  debu masih setia menemani perjalananku hari ini. Terik tak luput mengekor setia. Belum lagi lalu lintas padat, tak hanya polusi udara dari knalpot – knalpot yang belum teruji emisinya, tapi juga polusi suara yang takkan kurang menggedor – gedor gendang telingaku.

Ah, kalau bukan karena tugas dari big bos, mana mungkin aku berpeluh – peluh seperti ini. Tugas istimewaku hari ini adalah mewawancarai salah satu tempat kursus terpopuler di kota ini, yang namanya saja tak hanya menggema di seluruh Indonesia bahkan di seluruh dunia. Lulusan di kursus ini mayoritas menjadi konglomerat. gila pikirku. Tempat yang keren pastinya.

Dua jam perjalanan dengan motor kesayanganku, tak sulit menemukan tempat kursus ini, tak ada yang tidak tau lokasinya. Di pinggir jalan, dengan warna cat yang sangat mencolok, gedung 4 lantai dan satu – satunya gedung terbesar di deretan komplek kursus ini, – masyarakat menyebutnya begitu karena kursus – kursus lainnya juga berdiri di kiri kanan jalan kolap ini

Dari luar pagar aku sempatkan memotret tulisan besar di dinding pagar , tepat di sebelah kiri gerbang masuk, kulanjutkan dengan area parkir yang penuh dengan mobil – mobil tentor , sebelum benar – benar menerobos ke dalam menemui direktur utama tempat kursus yang paling bergengsi ini.

“Selamat siang pak”, urung ku ucapkan salam yang lazim dalam keseharianku, karena aku sedikit ragu apakah orang  orang di sini adalah muslim. Tak ada atribut muslim yang kulihat pun atribut agama lain. Ah peduli amat, kata orang – orang mereka muslim tapi kebanyakan hanya cetakan ktp. Entahlah, daripada ragu – ragu aku memilih salam umum saja. Continue reading

Buku, rak dan Ayah

malam ini, rindu lama itu lindap lagi.

beberapa menit lalu saya mencoba mengganti layout sebuah account, dan tiba – tiba plilihan jatuh pada gambar perpustakaan, lebih tepatnya rak buku yang muatannya penuh. gambar itu lebih tepatnya disebut lukisan, warnanya coklat, buku – bukunya juga demikian.
————————–

———————————————————————————–

haru itu muncul lagi, kenangan lama. beberapa buku diatas meja, dengan kaca mata minusnya, selonjoran ia menikmati siang yang bagi sebagian kalangan seumur beliau kebanyakan di isi dengan tidur siang.

si kecil yang selalu iseng menghampiri beliau, menggeliat manja, mengintip bacaan beliau juga menyerakkan buku – buku di atas meja. sesekali melirik kerak buku yang penuh dengan buku – buku yang terasa asing dan sepertinya kurang menarik kala itu. maklum, si kecil yang masih balita ini lebih tertarik dengan buku – buku bergambar menarik dan berwarna – warni.

hingga akhirnya, beberapa tahun kemudian, saat si kecil tak lagi kecil, tapi tetap menjadi si kecil kesayangan sang ayah, saat usianya beranjak remaja, sosok yang mengenalkan bagaimana nikmatnya membaca, sosok yang menyediakan rak buku kaca di ruang bacanya yang sekarang disulap menjadi ruang tamu kedua-mengingat lebih efektifnya ruang baca merangkap ruang keluarga- akhirnya pulang kembali ke muasal.

tak harta melimpah ditinggalkan untuk si kecil ataupun kakak – kakaknya, tapi rak buku itu menjadi kenangan yang tak terlupakan. “ada beberapa buku bagus yang raib, entah siapa peminjamnya, ibu lupa” ucap sang ibu sambil menerobos kaca penutup Rak buku. Continue reading